
"Ayah, Dzakki ikut!" teriak Dzakki mengejar langkah Roger.
Namun tiba-tiba, seperti ada angin kencang. Dan tubuh Dzakki bagaikan sehelai kertas putih yang ringan hingga tampak nyaris tersapu angin.
Kejadian yang tak masuk akal pastinya.
Dan seketika Christian tersadar lalu melantunkan ayat kursi terus menerus dari suara pelan sampai tanpa sadar suaranya menggema ke seluruh rumah besarnya.
Roger seperti merasakan sesak yang teramat pada bagian pernafasannya. Hingga tubuhnya lemas dan mengelosor ke lantai teras rumah Christian sebelum sampai ke mobilnya yang terparkir di garasi.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!"
Herdilan berteriak-teriak menyebut asma Allah.
Kejadian berlangsung hampir 20 menitan. Dan perlahan tubuh Dzakki kembali turun dari udara. Lalu angin seketika menghilang.
Mutia yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri hanya bisa ternganga tak percaya.
Semua hanya diam termangu ditempatnya masing-masing. Perlahan hanya tatapan mata mereka yang saling memandang dengan penuh ketakutan.
"Sini, Yang jemarimu!"
Christian kembali fokus membalut luka potong yang cukup besar di tangan sang istri.
"Roger, hati-hati di jalan!" serunya dengan suara keras setelah mendengar pintu mobil yang tertutup.
Herdilan menarik tubuh Dzakki hingga bocah imut itu kini ada dalam dekapannya.
"Keep calm, everybody! Orang itu kini mulai memperlihatkan kemampuannya pada kita. Ingat, jangan sampai kalian kosongkan fikiran! Teruslah mengingat Allah dan Kebesaran-Nya! Terus bersyukur mengucap hamdalah!"
Herdilan merasakan tengkuknya dingin mendengar nasehat Christian.
"Jadi..., Dzakki sedang mendapatkan serangan tak kasat mata dari orang lain? Kenapa? Apa salah Dzakki? Kenapa orang itu membenci putraku, Mas?" tanya Herdilan kesal sekali.
"Dzakki meminta bu guru Kartika dari genggaman mereka, Pi! Dzakki sedih dan kasihan lihat ibu guru!"
Christian memberi kode, kalau ucapan Dzakki adalah jawabannya juga.
"Kini kau sudah tahu khan? Mengapa tadi Roger bilang nikahmu butuh pengorbanan dulu kalau kau mau bersanding dengan Kartika!" ujar Christian membuat Herdilan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tentu saja aku tidak bersedia jika itu harus memakan banyak korban dari keluargaku sendiri! Jangan ambil resiko, Dzakki! Papi tidak akan mau dan tak akan terima jika terjadi sesuatu pada kamu dan keluarga besar kita!"
__ADS_1
Dzakki kembali terisak. Antara sedih, takut, juga bingung.
Sejujurnya ia bisa saja mengajak bermain-main makhluk-makhluk kiriman itu. Tapi ternyata, tak semudah bayangannya juga. Rupanya orang yang sentimen dan membenci gurunya itu berkali-kali lipat mengirimkan serangan kepadanya dan juga keluarganya.
"Kita memang tidak bisa melepas semua ini begitu saja! Kita sudah terlanjur masuk dalam permasalahan ini!" tutur Christian pada akhirnya.
....
Ditempat lain, Papa dan Mama Kartika senang sekali melihat perubahan besar pada sang putri.
Kartika Sari kini mulai bisa menggerakkan ibu jari kakinya walaupun belum bisa sepenuhnya dipakai untuk berjalan.
Tulang Kartika masih sangat lemah dan berat ketika ia memaksakan diri melangkah.
Namun hatinya mulai tenang setelah tiga hari dirawat akhirnya ada kemajuan. Terlebih setelah Dzakki datang dan memijat kaki-kakinya.
Kini Kartika yakin pada kemampuan anak didiknya yang selama ini ia anggap hanyalah ocehan anak introvert saja.
"Mama...! Ini karena tadi Dzakki memijat kaki Tika, Ma!" serunya membuat sang Mama kebingungan.
"Dzakki? Muridmu yang masih tujuh tahun itu?" kata Mamanya agak tak percaya.
Guru manis cantik itu bercerita dengan semangat tinggi. Tapi semua isi ceritanya nyaris membuat sang Mama malah jadi semakin ketakutan.
"Kamu bicara apa, Nak? Ilmu hitam, pengaruh setan? Maksudnya apa? Atau mungkin justru kamu jadi begini karena anak itu?"
"Bukan, Ma! Bukan!"
"Lalu kenapa setelah kamu dekat dengan anak itu, keadaanmu jadi seperti ini? Mungkinkah mereka sekeluarga justru yang ingin mencelakakanmu?" jerit sang Mama histeris. Beliau langsung membanting buah apel merah yang dimakan dan diambil dari dalam parsel buah pemberian Dzakki dan orangtuanya!"
"Mama salah pengertian!" tukas Kartika berusaha menenangkan Mamanya.
Tak lama kemudian Papa Kartika masuk dan memegangi pangkal lengan Mamanya yang masih terlihat histeris dan ingin membuang bingkisan buah serta kue bolu ke dalam tempat sampah.
"Kita harus minta bantuan orang pintar!" ujar Papanya pada istri dan juga putri semata wayangnya.
"Betul!"
Papa dan Mama Kartika menoleh pada pemilik suara yang baru saja tiba dan masuk kedalam ruang rawat inap Kartika.
"Bu Jamilah?!?"
__ADS_1
"Saya main ke rumah Bu Fajar, katanya Kartika sudah tiga hari dirawat di sini. Jadi saya langsung kesini!" ocehnya dengan suara yang terdengar dibuat-buat.
Entah mengapa, kali ini Kartika seolah bisa melihat kalau wajah Bu Jamilah auranya bencinya sangat jelas kepadanya.
Bahkan tatapan mata sinis serta ucapannya terlihat nyata sekali.
Padahal kemarin-kemarin Kartika merasa bu Jamilah sangat lembut dan baik padanya. Membuatnya merasa tak enak hati dan selalu berusaha menyenangkan hati bu Jamilah dengan menuruti permintaan-permintaannya.
"Ini, minum dulu air doanya, Tik! Ibu dapatkan ini dari orang pintar yang sengaja Ibu minta saran dan pendapatnya!"
Air doa? Orang pintar? Bu Jamilah sengaja meminta saran dan pendapat? Dan... ini adalah masalahku, kenapa dia ikut campur bahkan sampai terlalu dalam menurutku!
Mama Kartika membukakan tutup botol air mineral yang bu Jamilah berikan lalu disodorkannya pada Kartika.
"Tika minumnya nanti saja ya, Ma!? Perut Tika kembung. Baru minum segelas air putih itu!" tolaknya halus seraya menunjuk gelas air yang kosong di nakas samping ranjang tidurnya.
"Tapi nanti minum, dan dihabiskan ya Tik! Jangan sampe engga' lho ya!? Soalnya itu ibu sudah susah payah jauh-jauh minta air doa untuk kesembuhan Tika!" kata bu Jamilah dengan intonasi nada yang tak Kartika sukai.
Kini Allah seperti membuka matanya lebar-lebar, kalau bu Jamilah sangat jelas sekali membencinya.
Bahkan tatapan matanya yang tajam, walau mulutnya berkata manis dan jemarinya memijat-mijat kakinya yang seperti kebal rasa itu seolah peduli pada penderitaannya.
"Ada orang jahat yang membuat Kartika jadi seperti ini!" bisik bu Jamilah pada Mama Kartika.
Siapa orang jahat itu? Apakah orang jahat itu adalah Anda sendiri, Bu?
Kartika nyaris tak bisa menahan emosi dan ingin melampiaskannya. Namun ditahannya untuk tidak membuat urusan semakin runyam.
"Ibu, Tika mengantuk setelah minum obat tadi. Maaf... Tika izin tidur sebentar ya?" kata Kartika berusaha berkata senormal mungkin.
Sejujurnya ia enggan mengobrol panjang lebar dengan mama sahabatnya itu karena kini Kartika telah tahu.
Namun mengingat tak baik juga menuduh sesuatu pada seseorang tanpa barang bukti. Ujung-ujungnya itu menjadi fitnah dan akan menimbulkan masalah lain nantinya. Sedangkan penyakitnya sendiri belum sembuh terobati. Jadi Kartika tak ingin menambah masalah baru yang membuat ruwet hidupnya.
"Iya, iya! Tidur saja, Tik! Tapi coba minum dulu air yang ibu bawa tadi! Nih, nih...minum!"
"Tika masih sangat kenyang, Bu! Terima kasih. Nanti pasti Tika minum, koq!"
Kartika mencoba tersenyum semanis mungkin. Ia mencoba memejamkan matanya pura-pura sangat mengantuk demi tak ingin terus-terusan melihat wajah culas Ibu Jamilah.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1