
Melihat Mamaku yang semakin hari semakin jauh berbeda, membuat hatiku nelongso rasanya.
Tuhan sedang menghukum kami, atas semua perbuatan jahat ini.
Tuhan tidak tidur. Tuhan pasti akan memberi teguran jika sekiranya kita umatnya tak lekas bertobat dan berubah.
Apalagi, kini kehidupanku dan Mama sudah ada di dasar jurang. Harta yang berlimpah, telah musnah karena Tuhan menginginkan masa kejatuhan kami.
Hutang piutang yang terus menerus menggerogoti aset-aset berharga seperti rumah, apartemen, kendaraan bahkan perusahaan pun satu persatu harus kami relakan.
Disita negara, digugat pengusaha lain karena kontrak kerja kami yang wanprestasi. Bayar denda ini, denda ini. Digugat pula para seniman dan kru yang bergabung dalam rumah produksi yang mati suri.
Belum lagi tuntutan dari perceraian dan laporan KDRT yang Lady ajukan ke pengadilan makin membuatku bangkrut meski dia hanya mendapat setengahnya. Namun aku harus membayar denda juga seratus juta rupiah kepada negara agar tak kerkena hukuman kurungan badan.
Tuhan pun murka pada perempuan sundal itu. Azab datang lebih cepat pada Lady dari yang kuperkirakan.
Dia meninggal kecelakaan dalam kondisi mabuk. Bersama seorang teman dekat perempuannya. Bayi dalam kandungannya juga ikut tiada. Hhh...
Aku... telah habis kini. Harta Mama juga. Perlahan ludes untuk biaya Papa dan Mama. Bayar beberapa pengacara, berobat Mama. Bahkan kasus Papa yang masih on going memerlukan banyak dana. Mau tak mau aku harus menjual satu persatu aset yang tersisa. Untuk biaya hidupku juga pastinya.
Otakku semakin mumet. Terasa buntu semua jalan setelah sebulan lebih berjalan.
Tiba-tiba, aku teringat Om Jonathan Lordess.
Om ku yang terakhir kali kusambangi di Ubud Bali. Meski beliau terkesan jutek dan dingin padaku saat itu, tapi aku merasa kalau Om Lordess tidak terlalu begitu membenciku.
Melihat penerimaannya kala itu, bahkan ia hanya menyuruhku langsung bertanya pada Mama. Pertanda sebenarnya hatinya baik. Apalagi, aku sendiri pernah merasakan langsung kebaikannya. Perhatiannya. Sedari kecil dulu.
Saat ini hanya Om Lordess lah satu-satunya orang yang bisa kuandalkan.
Minta bantuan Christian, rasanya tidak mungkin. Malu juga aku setelah apa yang Mamaku lakukan pada Mamanya.
Aku akhirnya tekadkan bulat pergi ke Ubud.
Dengan pakaian di badan dan uang pas-pasan. Berharap Om ku ada dikediamannya. Dan aku bisa ikut numpang serta minta kerjaan padanya.
Bali menyambutku dengan cuaca redup. Entah mengapa... Hati ini agak kurang enak perasaan. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, tapi entah apa. Aku juga tak faham.
Om Lordess belum pulang kata pengurus rumah tangganya. Terpaksa aku harus sabar menunggu.
Segelas minuman manis yang dihidangkan membuatku mengantuk dan nyaris tidur terlelap di teras villa beliau.
Tak lama kemudian mataku menangkap siluet bayangan tubuh seseorang. Tinggi, bertubuh kecil tapi berisi.
Ya. Om Lordess.
"Om Lordess! Apa kabar?" sapaku langsung semangat melihatnya datang.
Terlihat wajah beliau kaku tanpa ekspresi. Membuatku sedikit takut juga kalau tiba-tiba diusir.
"Mau apa kau kesini?" tanyanya dingin sekali.
__ADS_1
"Bolehkah aku ikut kerja dengan Om? Please..."kataku memohon dan mengiba. Berharap hati Om ku melunak.
"Hhh..."
Om Lordess menghempaskan tubuhnya ke sofa teras rumah. Lalu menghela nafas, seperti tak suka pada kedatanganku.
Aku faham. Aku mengerti perasaannya yang campur aduk pastinya.
"Gimana Om? Apapun pekerjaannya, aku akan ambil! Aku percaya, Om adalah orang yang sangat baik. Pasti Om tidak ingin melihat aku sengsara hidup seperti tunawisma!"
"Apartemenmu mana?"
"Kujual Om! Habis untuk modal usaha! Ternyata... trading penipuan judi online!"
"Ck ck ck... Kasihan nasibmu, Lan!"
"Om... Tolong aku, please..."
"Hhh... Oke! Kau boleh ikut aku. Tapi kau harus setia padaku. Mengikuti apa perintahku dengan benar tanpa membantah! Bagaimana?"
"Iya, Om!"
"Belikan dulu aku stroller! Yang bagus!" katanya membuatku terhenyak. Stroller?
"Stroller? Untuk bayi? Bayi siapa?"
"Bayiku lah! Sebentar lagi calon istriku melahirkan. Aku ingin membelikan stroller untuk anakku!"
Aku keceplosan. Padahal itu bukan urusanku. Namun kenapa lidahku begitu lancar mengatakan suatu keburukan yang belum pasti.
Apa Om Lord akan tersinggung?
Apa maksudmu mentertawakanku?" tanyanya meradang. Merah wajahnya karena marah.
"Maaf, Om... maaf! Aku... senang, om kini punya pasangan! Semoga pasangan Om kali ini adalah wanita yang sangat mencintai Om! Yang benar-benar tulus menyayangi. Karena wanita jaman sekarang, adalah wanita dajjal. Yang sukanya memeras dengan rayuan mulut manis berbisa!"
"Vionaku tidak seperti istri keduamu!"
Deg.
Jantungku serasa berhenti berdetak. Nama Viona, istri pertamaku disebut-sebut om Lordess.
"Viona Om? Nama... calon istri Om, Viona?... Sedang hamil, dan akan segera lahiran???"
Viona Yuliana istri pertamaku juga sedang hamil besar. Meski entah dimana kini dia berada. Tapi... Apakah ini hanya suatu kebetulan saja? Viona juga nama calon istri om-ku dan tengah mengandung juga?
"Boleh aku lihat foto Vionanya Om Lord?" tanyaku, penasaran tingkat tinggi.
Kulihat Om Jo tersenyum. Mengambil handphonenya lalu sibuk mencari-cari foto kekasihnya. Kemudian memberikannya padaku.
Cantik. Dan... sangat mirip istri Viona, memang. Tapi bukan. Juga kulihat di foto itu om ku masih terlihat muda dengan rambut gondrongnya. Aku teringat cerita Mama kalau Om Lordess dulu adalah seorang pemusik dan tergabung dalam salah satu band lokal.
__ADS_1
"Ini... Viona Om Lord?"
"Iya."
"Ini juga!"
Mataku terbelalak.
"Ini...?!?! Ini... ini istriku, Om! Viona Yuliana!!!"
"Ya memang! Tapi mantan istri! Perlu kau ralat! Kenapa responmu berubah?"
What???
"Dimana Viona? Dimana dia, Om? Vionaaa... Vionaaa...!!!"
Pucat pias wajahku. Berusaha mencari-cari Viona di villa ini. Siapa tahu aku bisa bertemu dengannya lagi.
"Vionaaa!!!"
Aku berjalan berkeliling. Berteriak-teriak menyerukan nama mantan istri pertamaku.
"Dimana Om sembunyikan Viona?!" tanyaku padanya.
"Viona tak ada dirumah ini! Kalau kau tak percaya, cari dia... silakan!"
"Om! Jadi selama ini Viona ada bersama Om?"
"Ya. Memang. Kenapa? Bukankah sudah kau buang dengan tanpa perasaan?"
"Aku tak pernah membuang istriku. Tidak! Aku menyayangi Viona! Aku mencintainya!" teriakku histeris.
"Cinta? Cinta apa? Cinta yang bagaimana? Yang kau lupakan begitu saja setelah ada perempuan lain yang datang menggodamu?"
"Om... Aku khilaf Om! Sungguh benar-benar khilaf saat itu! Kurasa Om bisa mengerti aku. Usiaku masih muda, tapi sudah memiliki semuanya. Wajar saja jika aku sampai lupa diri! Kumohon, Om! Tolong pertemukan aku dengan Viona! Aku akan menjaganya sepenuh hati kali ini!"
"Huh! Enaknya kau bilang!... Maaf Delan! Aku dan Viona akan segera menikah, setelah Viona melahirkan. Jadi..., tolong kau harus menjaga jarak dengannya nanti!"
"Om??? Apakah omongan Om itu benar?"
"Mana pernah aku bohong seperti mamamu si Tasya itu? Kau lihat,... dia... membohongiku, Tania juga kau dengan tanpa pikir panjang!"
"Mama melakukan itu karena keadaan!"
"Ya. Keadaan yang juga memasung dirinya karena terlena dibuai harta. Hidup nyaman, itu alasan!!!"
Aku menangis. Memohon pada Om Lordess agar dipertemukan dengan Viona Yuliana.
Istriku itu sedang hamil besar. Sebentar lagi akan melahirkan. Dan aku ingin sekali berada disamping Viona ketika saat itu tiba.
Tiba-tiba...
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...