PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 144 MENTALKU AMBRUK


__ADS_3

Aku, Viona Yuliana. Usia, lima bulan lagi akan 26 tahun. Namun kehidupan begitu keras Tuhan berikan cobaannya padaku.


Entah mengapa. Apa ada dosaku dimasa lalu.


Atau mungkin, kesalahan nenek moyangku yang kini harus pula kutanggung.


Aku... Hampir setahun ini dirundung masalah terus-menerus. Sungguh membuatku ingin menghilang juga dari muka bumi ini.


Ada sesosok bayi laki-laki yang mungil telah lahir dari rahimku ke dunia yang keras ini.


Apakah anakku akan kuat menghadapi cobaan hidup yang Tuhan berikan nanti? Sedangkan di hari kelahirannya saja, calon Papinya yang selalu setia merawatku dan memberiku kenyamanan kini telah tiada.


Kak Jo..., telah berpulang ke Pangkuan Yang Maha Kuasa.


Kak Jo..., telah pergi. Ditembak mati papa Bambang, mantan mertuaku.


Oh Tuhan...! Maha Dahsyatnya ujian ini!


Sungguh aku tidak kuat lagi. Aku tak sanggup menerima semua cobaan ini dan ingin mati saja meninggalkan dunia, menyusul kak Jo tercinta.


Hik hik hiks...

__ADS_1


Teringat kembali suara kak Jonathan Lordess, menasehatiku dahulu...


"Jangan pernah bertindak dan bertingkah bodoh, Viona! Tuhan membenci perbuatan itu! Dan setan bergembira-ria menyambut kedatanganmu menjadi makhluk sebangsa mereka yakni jadi demit alias memedi!"


Kak Jo memberiku ceramah panjang. Ketika aku hendak melakukan percobaan bunuh diri.


"Setiap umat selalu Tuhan kasih cobaan. Tapi niat Tuhan bukan untuk menghancurkan. Namun untuk membuat umat itu semakin kuat dan mampu melangkah ke tahap peningkatan selanjutnya. Bukan untuk menjerumuskan dan kesesatan itu adalah murni kesalahan umat itu sendiri."


Hik hik hiks...


Tangis pecah sekali lagi. Hingga aku kembali ke pada kenyataan pahit yang harus kuterima.


Ira memelukku erat. Air matanya tumpah ruah dibahuku. Dan kami menangis bersama di malam dingin yang senyap di pukul sepuluh malam.


Ira tak bisa menimpaliku. Hanya suara tangisannya yang tak kalah besar seraya menggangguk dan kembali merengkuh tubuhku dalam dekapan hangatnya.


Cukup lama kami seperti itu. Bi Tini yang sedari tadi di luar ikut masuk dan ikut menangis bersama kami.


"Putramu tampan, Viona! Hiks... Yang kuat, yang sabar ya? Kak Jo pasti tidak ingin kamu rapuh. Ada putramu kini yang menjagamu!"


"Tapi kak Jo..., dia ingkari janji untuk menikahiku, Ra! Huaaa hik hik hiks..."

__ADS_1


Aku sedih sekali. Sangat ambruk mentalku seketika. Mengingat betapa mesranya kak Jo akhir-akhir ini. Mengenang ke romantisannya yang terkadang buatku mengakak lebar.


Kak Jo!!! Kak... Kembalilah, Kak! Andai bisa kutukar dengan nyawaku, biar aku saja yang mati. Atau kalau bisa, kenapa bukan orang-orang jahat saja yang pergi dari dunia ini kalau hanya untuk mengotori.


Tuhan... Kenapa aku Kau beri nasib seburuk ini? Apakah...aku ini memiliki kutukan? Mengapa untuk mendapatkan kebahagiaan itu begitu sulit rasanya? Mengapa Tuhan?...


Dokter Lena memeriksaku kembali. Cairan infusan sudah mau habis, Ia menggantinya dengan yang baru melihat kondisi kejiwaan mengganggu kesehatanku yang juga menurun drastis.


"Viona... Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku pun tak mampu memberimu kalimat penghiburan. Tapi kumohon... tegarlah, Vi! Kami bersamamu! Dan akan selalu bersamamu. Jangan takut! Tuhan selalu ada bersama kita! Hik hik hiks... Aku jauh lebih lama mengenal kak Jo dibanding kamu. Jadi aku juga tahu rasa sakit di hatimu karena kak Jo telah tiada. Tapi please... Jo sangat menyayangi anakmu! Besarkanlah ia dengan penuh kasih. Setidaknya, bayi ini adalah amanahnya. Walaupun bukan darah dagingnya!"


Kata-kata dokter Lena begitu mengena' dihatiku. Sontak aku menangis, lagi dan lagi.


"Istirahatlah! Aku akan memberimu suntikan obat penenang! Ira, Tini... kalian juga harus istirahat. Hari esok akan membutuhkan tenaga kita! Jadi mari kita fight! Okay?!?"


Dokter Lena yang tertua diantara kami bertiga. Aku, Ira juga bi Tini.


Kami sangat menghormatinya, karena dokter Lena selain cantik juga wise orangnya.


Dan perlahan tubuhku melemah, seiring mataku yang mengantuk.


Aku tertidur setelah mengucapkan terima kasih pada semuanya. Pada orang-orang yang selalu ada mendukungku. Pada Tuhan juga, yang membuat hidupku sangat berwarna dan penuh air mata.

__ADS_1


Tuhan! Tolong jangan benci aku. Please... Aku butuh 'cinta' dari-Mu, Tuhanku Yang Maha Penyayang!


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2