PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 77 RENCANA KAK JONATHAN LORDESS YANG MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Viona!"


"Kak Jo!"


Pertemuanku dengan kak Jo sedikit dramatis. Aku menangis dalam pelukannya. Entah mengapa, aku begitu rapuh dan ingin berkeluh kesah tentang kesedihan hati ini hanya kepadanya.


Kak Jonathan tidak menanyaiku banyak hal. Hanya pancaran matanya yang membuatku tenang.


Hari ini aku diculik olehnya ke pinggiran kota.


"Kemana kita, Kak?"


"Ada satu tempat favoritku ketika sedang sedih, Vi!"


"Dimana itu?"


"Hehehe...! Kita lihat nanti, ya!"


Sebuah taman kecil. Tapi penuh dengan bentangan kain aneka warna di sekitarnya.


"Waah... Bagaikan pelangi!"


"Keren khan?'


Aku sungguh terpana memasuki taman yang ternyata adalah tempat pembuatan kain sutra.


"Ini tempat apa, Kak?" tanyaku pelan dengan mata tak berkedip menyaksikan tempat yang sangat asing bagiku.


"Tempat pemintalan benang sutra. Yuk kita ke kumpulan kepompong!"


"Ke-pompong?"


"Hehehe... kita lihat peternakan ulat sutra, Vi!"


Aku terpana, memasuki sebuah ruangan. Ini pertama kalinya aku melihat proses peternakan ulat sutra sampai menjadi kepompong dan kokon, lalu dipintal menjadi benang sutra yang halus indah.


"Ini apa, Kak? Ramuan?"


"Ini adalah dedaunan untuk pewarna alami semua benang sutra!"


Entah mengapa,... mata ini terlihat tak ingin berkedip melihat pria empat puluh itu melakukan sesuatu yang 'menenangkan' hatiku.



Kak Jo menarik rambutku dengan lembut. Mengikatnya agar tidak jatuh kedalam celupan pewarna alami untuk serat sutra ketika aku mencium aroma wanginya.


"Hati-hati, rambutmu bisa tercebur Vi!" tuturnya lembut sekali.


"Kakak..."

__ADS_1


"Ya?"


"Kakak terbiasa di sini ya?"


"Ini salah satu aset berhargaku, Viona! Setelah usaha bisnis travel, aku juga punya usaha pembuatan cinderamata. Salah satunya pemintalan kain sutra ini!"


Pria yang keren. Selain kak Jo pengusaha hebat, dia juga sangat mendedikasikan hidupnya untuk semua usahanya. Pantas saja dia berhasil di semua bidang usaha yang ia tekuni. Aku benar-benar terpukau pada keuletan kak Jonathan! Sangat jauh berbeda dengan Herdilan. Dia hanya mengikuti jejak sang mama. Dan mulai tengil di saat usahanya baru berkembang. Dasar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya!


Pukul dua belas, kak Jo mengajakku makan siang di resto tak jauh dari 'rumah sutera' miliknya.


"Viona! Bagaimana kabarnya Delan?"


"Hhh... Semalam gundiknya datang bikin rusuh rumah kami!"


Aku mulai bercerita. Tentang semua ketidak-nyamananku berumah tangga kini. Juga soal semakin beraninya Delan membuat amarahku bangkit dan berkobar besar.


"Boleh aku kembali memberimu saran?"


"Tentu, Kak!... Aku justru sangat lemah jika tanpa bantuan saran dan dukungan kak Jo!"


"Mintalah cerai segera! Atau... ajukan perceraian lebih dulu dengan alasan yang sudah kamu kantongi itu! Karena, dalam waktu dua-tiga bulan ini... bom-bom rakitan itu akan meledak satu persatu. Menghancurkan keluarga itu! Pasti! Karena Tuhan ingin agar mereka sadar, kalau perbuatan mereka adalah perbuatan jahat!"


"Vi sedang hamil, apakah bisa pemerintah ketuk palu meng-acc permintaan cerai Viona!"


"Dalam hal ini ada pengecualian dalam pasal. Herdilan menikah lagi tanpa seizin kamu. Tentunya jadi pertimbangan majelis hakim menyetujui perceraianmu dan Delan."


Aku melongo mendengar penjelasan kak Jo yang santai.


"Kakak punya rencana lain?" tanyaku mencoba mencari tahu langkah kak Jo selanjutnya.


"Baiklah. Ini sebenarnya masih rahasia. Tapi, aku akan beritahukan padamu apa yang akan terjadi nanti."


Aku menyimak serius. Menatap wajahnya yang semakin tampan ketika kutatap dalam-dalam.


"Tania dan Fika akan kubawa pindah ke Singapura. Tania juga akan mengajukan cerai pada Bams ke pengadilan agama. Kasus yang sama pastinya alasannya denganmu. Selain itu Tania juga sudah mengantongi bukti-bukti otentik bahwa Tasya, sepupu kami itulah madunya selama puluhan tahun dan ingin melenyapkan nyawanya lewat ramuan racikan yang Tasya kirim selama beberapa tahun terakhir ini. Intinya, Tania akan melanjutkan pelaporan Tasya ke pihak kepolisian dengan tuduhan perencanaan pembunuhan."


Aku termangu. Ternyata kasus mama Tasya akan rumit beberapa bulan ke depan.


"Dan belum akan selesai. Akan ada puncak yang nanti kamu lihat sendiri, Viona!"


"Lalu?"


"Untuk itu..., demi keselamatan dirimu juga. Cepatlah bercerai dari Delan! Karena kamu tidak akan terlibat lagi dengan urusan masalah mereka yang besar dan menyedihkan itu! Ini hanya saranku, untuk hidupmu kedepannya, Viona!"


Aku menangis. Agak bingung pada jalan hidupku selanjutnya. Harus bagaimana nanti. Terlebih kini aku yatim piatu, dan sedang mengandung pula.


Kak Jo menghapus butiran air mata di pipi.


"Kamu... mau mengakhiri balas dendammu dengan manis?"

__ADS_1


Kudongakkan wajahku ke wajahnya. Menunggu ucapannya selanjutnya. Apa.


"Terimalah lamaranku! Aku akan menjagamu dan mengurus kalian berdua. Tapi dengan catatan, kamu mengakui anak dalam kandunganmu adalah anakku kepada si Delan di depan Tasya Jessica!"


Dug dug dug


Dug dug dug


Jantung ini berdegub keras.


"Kakak Jo akan melamarku? Maksudnya, mau menikahiku yang jandanya Herdilan Firlando?"


"Apa... kamu menolakku?"


Aku tak tahu harus menjawab apa. Senang atau sedihkah. Aku merasa hidupku bagaikan boneka mainan untuk kak Jo dan keluarganya, termasuk Herdilan yang juga ponakannya itu.


"Kakak...! Bolehkah aku bertanya? Apakah aku ini seperti 'wanita mainan' bagi kalian?"


Kak Jo diam. Terlihat ia menunduk. Wajahnya sendu dan hanya melihat ke arah jalan raya.


"Maaf, jika aku terlalu santai mengutarakan rencanaku padamu. Tapi kamu berhak menerima atau menolak, Vi! Hhh... Bukan masalah bagiku, jika kamu menganggap aku pria yang suka bermain-main! Sudahlah! Itu masih akan lama terjadi. Aku cuma mencoba menjelaskan rencana awal keluarga kami! Terutama Tania! Dia kakakku satu-satunya. Tasya sepupu kami benar-benar telah begitu jahatnya tak peduli pada perasaan kami yang menyayanginya setulus hati. Kami besar bersama. Tumbuh dan hidup bersama, dirawat Mama kami tercinta sedangkan ia hidup terlunta-lunta bersama Mamanya. Ah sudahlah... kamu tak akan mengerti perasaan ini!"


Aku melihat raut kekecewaan di wajah kak Jo. Aku jahat, telah mematahkan harapannya membalaskan dendam sampai akhir.


Tapi sejujurnya aku takut, kalau hidupku kedepan akan semakin hancur. Apalagi jika aku menerima pinangannya hanya untuk bermain-main membuat Herdilan terluka hatinya.


Sedari kecil aku di didik keras oleh Ayah. Tapi tak sedikitpun ayah menyuruhku memendam amarah juga dendam kesumat yang beranak pinak. Justru Ayah Ibu selalu berpesan, jauhi hal-hal yang menyakitkan. Bukan membalas semua perbuatan jahat orang pada kita.


Itu sebabnya, aku agak takut untuk terus melanjutkan pembalasan dendam yang berkepanjangan.


Dendam tak baik berlanjut, apalagi sampai di bawa mati. Terlebih kini aku juga akan memberikan Delan keturunan. Aku belum tahu pasti, anakku berjenis kelamin lelaki atau perempuan. Karena aku belum pergi lagi ke bidan ataupun dokter kandungan.


"Vi! Kapan kamu ada waktu ke dokter Lena? Mau aku temani?"


Entah mengapa kak Jo seperti bisa mendengar isi hatiku. Dan pertanyaannya seketika meluluhkan hati ini.


Dia bukanlah suamiku. Bukan pria yang menghamiliku. Juga bukan siapa-siapaku. Tapi perhatiannya, membuat aku merasa menjadi wanita berharga di matanya.


"Kakak mau mengantarku?"


"Kalau kamu mengizinkan, lusa kubuatkan janji pertemuan ke kliniknya Lena!"


"Viona mau, Kak!"


Kak Jo tersenyum. Ia mengangguk lalu menggenggam jemariku hangat.


"Mari kita pulang! Ini sudah lewat Dzuhur! Kamu harus banyak istirahat dan jangan terlalu capek berlebihan! Yok!"


Aku ikut tersenyum. Bersama kak Jo, hariku menjadi lebih tenang dan adem.

__ADS_1


Mungkinkah jika ini akan berlanjut dikehidupanku nanti, andaikan aku resmi menjadi istrinya?


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2