
Christian terkejut ketika seorang pejabat tinggi negara yang pernah ia kenal sedari kecil menghampirinya.
"Christian Suherman?" tanyanya seraya mengulurkan tangan hendak berjabatan.
Spontan Chris menerima salaman pejabat itu.
"Saya pemilik PH yang dulu dibangun Ibu Tasya Jessica!" katanya membuat Chris mengangguk.
"Bolehkah kita berbincang santai?"
"Oiya, mari silakan!"
Chis menerima sang pejabat dan mempersilakannya duduk di kursi tempatnya makan siang setelah Kenken mengantarnya keliling mencari tempat hunian baru.
"Bisakah jadi bintang tamu di acara PH kami? Saya bersedia memberikan bayaran tinggi untuk mewawancarai Mas dan Istri."
Christian tersenyum dan menunduk.
"Kami bukan artis. Juga bukan selebritis. Jadi, mohon maaf sekali. Bukan maksud menolak tawaran apalagi rezeki! Cuma... kami merasa tidak bisa mengambil job yang bapak tawarkan."
"Bukankah justru bisa dijadikan panggung tempat Mas dan keluarga menjelaskan semua yang terjadi di dunia maya. Beberapa minggu ini nama baik keluarga mas menjadi bulan-bulanan orang yang tidak bertanggung jawab, mencari keuntungan pribadi di atas gosip-gosip panas keluarga Mas!"
"Hehehe..., kami hanya berpasrah saja pada ketentuan Allah Ta'ala, Pak!"
"Tapi kami sangat ingin membersihkan kembali nama baik almarhum dan almarhumah kedua orangtua Mas Christian! Kalau perlu, kami bisa memberikan tempat VIP khusus keluarga besar Mas tampil di acara PH kami."
"Maaf, Pak! Saya tidak bisa!"
"Coba Mas diskusikan dengan saudara-saudara yang lain. Mungkin bisa kita bicarakan lagi untuk honor spesialnya pasti kami tidak akan mengecewakan keluarga Ibu Tasya juga!"
"Pak,... terima kasih banyak atas tawarannya sekali lagi. Keluarga kami memang unik. Penuh cerita dan juga misteri. Papa dan Mama kami sudah tenang di alam barzakh. Begitu juga tante Tasya. Kami tidak membutuhkan panggung untuk mengklarifikasi pada apa yang menjadi konsumsi publik belakangan ini. Karena itu bukan dari kami yang membuka semua cerita masa lalu keluarga besar kami."
Pak Pejabat tersenyum mendengar jawaban diplomatis yang Chris katakan.
Dia sangat ingin sekali membuka tabir keluarga Tasya. Tentang kisah hidup mantan artis yang dulu begitu ia cintai namun gagal karena kadung menikah dengan Bambang Suherman yang tak lain adalah kakak ipar dari sepupunya itu.
Tasya Jessica artis baik, cantik dan berbudi luhur pada masanya. Tidak pernah sekalipun menju*l tubuhnya demi sebuah popularitas yang begitu ia inginkan pada saat itu.
Tapi takdir berkata lain.
Tasya akhirnya menjadi istri simpanan seorang anggota dewan. Bahkan kisah hidupnya tertutup rapat hingga akhir hayat.
__ADS_1
Walau sempat namanya kembali melambung sewaktu Chris membuatnya jadi terlapor dan seketika mendapat julukan sebagai ratu pelakor, namun tak serta merta orang mengetahui kisah cinta yang sebenarnya antara Tasya dan Bambang.
Pejabat itu sampai kini masih menyimpan nama Tasya Jessica direlung hatinya sebagai seorang perempuan yang pernah ia puja.
Meski kini ia adalah seorang suami dan juga Ayah lima anak. Namun cinta tulusnya pada Tasya tetap selalu ia kenang.
............
Khaila Aidenia, merasa dirinya butuh healing. Setelah begitu banyak pengorbanan serta perjuangan yang ia lakukan demi mendapat Christian, namun gagal.
Diraciknya hingga menjadi remahan kecil, kemeja bekas Christian yang masih ia simpan. Untuk menghilangkan rasa sedih serta pilunya tak mampu menakhlukan hati pria tersebut.
Ia mencoba mencari jasa travel untuknya menghilangkan kepenatan.
Sebuah travel memberinya masukan untuk keliling pulau Jawa. Dan Khaila tak menyia-nyiakan kesempatan untuknya bisa melupakan cinta pertamanya.
Perjalanan panjang keliling pulau Jawa, tak membuatnya lemah dan lelah. Perjalanan panjangnya menanti cinta sang pujaan saja mampu ia lalui tanpa kata menyerah, apalagi hanya sebuah perjalanan ringan saja.
Daerah Jawa Barat adalah yang pertama dalam perjalanannya. Puncak, Cianjur, Sukabumi... bahkan kota Paris Van Java yang terkenal sebagai kota kembang begitu mempesona.
Khaila menikmati setiap inci keindahan yang Tuhan cipta dengan mengabadikannya pada sebuah kamera pocket miliknya.
Perjalanan mulai mencapai ke wilayah Jawa Tengah setelah mencapai perbatasan kota Cirebon dengan mobil Daihatsu MPV bersama sebelas orang termasuk supir dan orang travel.
Tugu Jogja menjadi tempat pertama kali Khaila berfoto ria. Padahal sudah pukul sepuluh malam, namun suasana masih ramai dan banyak pelancong yang lalu lalang melewati jalan di tugu kebanggaan orang Jogjakarta itu.
Mereka berniat mencari penginapan di sekitarnya karena memang ada rencana stay dua hari di kota itu. Lebih lama dibanding kota-kota lainnya yang hanya tempat persinggahan saja.
Karena mereka akan menjelajah ke seluruh tempat wisata yang ada di sana, seperti ke Keraton Jogjakarta, belanja di pasar Bringharjo dan nongkrong di jalan Malioboro.
"Mbak, mau foto ngga'? tanya seorang pria bertopi menghampiri Khaila yang sedang duduk melamun sembari menyeruput es boba yang baru saja dibelinya.
"Oh tidak, Mas! Saya bawa kamera sendiri!" tolak Khaila halus seraya memperlihatkan kamera pocketnya.
"Sayang sekali, kamera jenis itu kurang bagus penerimaan gambarnya. Kalau kamera saya ini, dijamin lebih greng hasilnya!"
"Iya kah? Tapi di sini tangkapan layarnya sudah lumayan baguslah. Hehehe..."
"Yang punya Mbak ini memang kamera pocket keluaran terbaru. Tapi untuk hasil pencetakannya nanti baru bisa terlihat kalau hasil jepretannya kurang maksimal, Mbak!"
"Oh...gitu ya? Jujur saya kurang faham, Mas! Ini pun saya beli ngasal tanpa tanya penjualnya panjang lebar. Yang penting bisa buat jetrak-jetrek ambil gambar momen-momen perjalanan saya kali ini. Hape sendiri jarang saya pakai buat selfi."
__ADS_1
"Kamera yang saya bawa ini bisa ambil gambar meskipun ditempat yang kurang pencahayaannya! Maaf, saya kasih contoh ya?!"
Cekrek
Cekrek
Pria itu membidikkan kameranya pada Khaila beberapa kali. Membuat gadis berusia 29 tahun itu tersipu malu karena tak terbiasa di foto orang. Apalagi orang baru yang belum begitu dikenalnya.
"Mas, saya gak maksud untuk di foto. Tapi ya sudah, berapa jadinya saya harus bayar?"
"Tidak perlu, Mbak! Karena saya memoto Mbak bukan dengan kamera polaroid, jadi gak harus bayar kertas cetaknya. Hehehe..."
"Waduh! Ternyata kamera juga macam-macam ya, Mas?"
"Iya. Ada berbagai jenis kamera juga fungsi serta masing-masing keunggulan! Kalo Mbak mau pakai jasa saya untuk dapatkan foto instant, saya pakai kamera yang ini. Bisa langsung keluar hasil fotonya. Cuma agak kurang maksimal juga hasilnya, minim cahaya jadi terlihat gelap juga. Beda dengan kamera yang saya gunakan tadi!"
"Ternyata fotografer itu bukan kerjaan asal ya?"
"Ya ngga' bisa, Mbak! Hehehe... kadang banyak juga kena omelan customer karena hasil kurang sesuai sama espektasi."
"Hehehe... tetap harus pintar ngedit ya!"
"Iya. Tapi kalo kelihatan terlalu tebal editan juga kena komplain, Mbak! Hehehe... begitulah, saya belajar dari banyak pengalaman!"
"Hmm... gitu ya?! Dikira kerjaan paling enak itu fotografer. Enak ambil gambar orang sesuka hati. Bisa ngarahin orang untuk gaya juga. Dapat uang, that's it!"
"Hahaha... ga sesimple itu juga, Mbak'e!"
"Mas sudah lama jadi fotografer keliling begini?"
"Cukup lama, Mbak! Hampir 5 tahun!"
"Wah, sudah banyak pengalaman dong ya! Mas stand bye di sini kah? Atau... keliling tempat lain?" tanya Khaila, semakin tertarik melakukan obrolan ringannya bersama pria yang kurang lebih seumuran dengannya. Sampai tiba-tiba ada telepon masuk di hape sang fotografer.
"Hallo? Ya, Di! Apa??? Ya sudah, bawa Bapak segera ke rumah sakit! Oke, Oke... aku otewe ke sana!"
Khaila hanya menunduk mendengarkan percakapan fotografer itu di ponselnya.
"Mbak! Maaf, saya pamit dulu ya!? Ada keadaan darurat, saya permisi!"
Khaila mengangguk. Ia menatap tubuh pria fotografer itu dari kejauhan. Berdoa dalam hati semoga bapak pria itu segera sehat kembali.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...