
Assalamualaikum, Abang!
Pukul sembilan malam, Kartika menchat Herdilan dengan niat.
Ia harap, di waktu itu Herdilan dalam keadaan sudah beristirahat dan bisa pegang hape serta membalas chat-annya.
Tring.
Kartika melonjak senang. Setelah tiga menit menunggu akhirnya Herdilan membalasnya.
Waalaikumsalam, Nona
Sudah? Cuma jawab salam saja? Begitu? Ish... kakunya orang ini!
Kartika geram dalam hati.
Abang sudah makan?
Hiks... Pertanyaan standar yang tidak berbobot.
Kartika seperti berperang dengan hatinya sendiri. Pertanyaan yang ia ketik membuat miris.
Tring.
Sudah, Nona. Nona sudah makan?
Hiks. Dia tanya balik.
Sudah.
Syukurlah.
Begitu doang responnya?
Kartika seperti jatuh harga dirinya. Berusaha memulai komunikasi tapi malah jadi banting harga kesannya.
Treeet... treeet... treeet
Eh? Ternyata dia menelpon.
Kartika mengangkat panggilan teleponnya.
"Hallo, Abang!"
...[Hallo! Nona bagaimana kabarnya? Bagaimana persiapan pernikahan kita?]...
"Baik, Bang! Alhamdulillah, sepertinya sudah beres semua. Malam minggu ini Papa Mama mau adakan selametan sedekah ngundang."
...[Oh, alhamdulillah, kalo gitu. Abang pulang Sabtu siang.]...
"Kerjaan Abang dah selesai?"
...[Sudah. Fika sudah membantu sebagian. Jadi pas pernikahan kita nanti, semuanya terhandle, Non]...
"Syukurlah! Abang..."
...[Ya?!? Hallo? Nona?]...
__ADS_1
"Bolehkah Tika bertanya, Bang?"
...[Tentulah. Tanya saja. Ada apa?]...
"Abang...bertemu Rihana kah dua minggu lalu sebelum kembali ke Singapura? Di kafe Kemang!"
...[Iya. Abang memang ketemuan Ciko dan Rihana disana. Oiya, Abang belum sempat cerita karena dua minggu ini benar-benar menguras energi membereskan kerjaan yang menumpuk dan harus segera diselesaikan! Abang minta maaf, ya? Maukah Nona menunggu Abang pulang dan ceritakan semua?]...
"Kenapa tidak mau cerita sekarang?"
...[Karena lebih enak cerita langsung!]...
Hm... Begitu rupanya pemikirannya.
"Tapi aku jadi susah tidur karena bertanya-tanya. Dan aku mendapat kabar dari teman tempatku mengajar. Boleh kukirim gambar fotonya, Bang?"
...[Iya.]...
Kartika langsung mengirimkan gambar foto Herdilan yang tengah dirangkul Rihana dengan mesra.
Tengoklah! Tengok, Bang, gambar fotomu itu! Apa elok jika kau terlihat mesra dengan gadis lain sedangkan pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi! Hhh...
Kartika merasa hatinya sedikit nyeri. Ingin mengungkapkan semua unek-unek tapi tak berani dan takut salah.
...[Maaf, Nona! Kelihatannya di foto ini kami begitu dekat, ya!?]...
Iya khan? Kamu sendiri sampai punya pemikiran seperti itu. Apalagi aku, calon istrimu!
Seperti angin segar. Kartika mendengarkan pandangan Herdilan tentang fotonya bersama Rihana di gambar itu.
Kartika mendengarnya cerita Herdilan dengan penuh perhatian. Ia sengaja pasang telinga baik-baik, agar bisa memastikan kalau Herdilan tidak berbohong.
Dan ternyata justru kini dia yang berbalik malu.
"Abang,... maafkan aku, ya? Terlalu berburuk sangka dan menilai negatif sikap Abang yang bertemu Rihana tanpa memberitahukanku!"
...[Bukan Nona yang salah, tapi Abang! Abang lupa, Nona juga butuh penjelasan dari Abang! Maaf..., Abang janji akan memberitahukan apapun nanti jika kita telah menikah! Maaf ya!?]...
Lega hati Kartika. Saran Viona memang benar-benar mantaf dan berbobot.
Setelah sholat sunnah malam dua rakaat, dia menchat dan menanyakan kabar burung yang membuatnya sedih belakangan ini. Jawaban Herdilan benar-benar memuaskan rasa penasarannya.
Seketika hilang rasa gundah serta cemburu yang ada dihatinya.
"Abang, pulanglah dengan selamat! Tika menunggumu! Berharap kita duduk dipelaminan dengan ijab kabul yang lancar dan diberkahi Allah Ta'ala."
...[Iya, Nona! Nona mau tahu, bagaimana perasaanku akhir-akhir ini?]...
"Apa?"
...[ Jantungku berdebar-debar terus. Wajahmu... wajahmu selalu ada didepan mataku! Mmmh..., kamu tahu engga'? Satu kerjaanku gagal karena menggambar wajah Nona, bukan gambar wanita yang ia request. Tapi syukurlah boss itu tidak komplain malah sangat suka karena gambarku lebih cantik katanya. Ya iyalah... calon istriku memang yang tercantik diseluruh dunia]...
Deg deg deg deg deg
Deg deg deg deg deg
Benar-benaran gombalan yang damage-nya luar biasa dahsyat! Hiks...
__ADS_1
"Abang ish! Ceritanya koq mirip rayuan! Hehehe..." tempas Kartika dengan malu-malu kucing.
...[Itu beneran. Bukan cerita bohong apalagi gombalan, Non! Ya Tuhan... Masa iya, Abang harus ngegombal ngarang cerita malam-malam gini! Otak juga udah ga konek lah! Hehehe...]...
"Ish! Padahal jaman muda dulu tukang rayu khan, khan? Hayooo jujur! Hahaha..."
...[Hahaha... kata siapa tuh? Ngarang itu! Hahaha... Iyain aja deh, daripada jatuh harga diri dikuliti calon yayang tercinta]...
"Hahaha... baru calon ya?! Belum yayang beneran! Hihihi..."
...[Iya. Yayang-yayangan aslinya nanti, coming soon! Hehehe...]...
"Tadi siang khan aku nengok baby El, ya ampun Bang! Gantengnya adik Dzakki! Bikin gemes lho! Lebih ganteng dari yang difoto!"
...[Nanti kita buat juga yang ganteng seperti itu! Hehehe...]...
"Iiih...Abang! Apaan sih, hihihi... tapi Dzakki requestnya adik cewek lho! Upss... keceplosan!"
...[Hahaha... Mau juga khan bikin anak! Upss...keceplosan juga! Hehehe..., maaf ya yang! Eh yayang..., Nona maksudnya. Aku bercanda ya?! Boleh khan?]...
"Hihihi... dasar emang kamu tuh ya!? Aslinya memang gesrek juga hehehe...!"
...[Hehehe... begitulah. Susah berubah kalo lagi mode on badboy, Non! Hahaha...]...
"Tapi kata Mbak Viona, Abang yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Abang yang dulu. Dan tadi kami banyak mengobrol. Aku senang sekali. Padahal awalnya aku degdegan lho! Takut hubunganku dengan Mbak Viona jadi serba kikuk, jadi terasa gimana gitu, Bang! Ternyata, itu semua hanya ketakutanku saja."
...[Syukurlah. Nona bisa berteman dengan semua saudaraku secara perlahan saja. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tahu adaptasi diawal itu sangatlah tidak mudah. Jujur saja, aku juga dulu tidak sebaik ini hubungan persaudaraanku dengan semuanya. Bahkan dengan Viona, sampai saat ini kami tidak pernah mengobrol akrab kecuali dalam riungan bersama anggota keluarga yang lain. Kecuali di hadapan Mas Roger, barulah dia merasa nyaman untuk ikut nimbrung berbincang denganku. Aku juga cukup tahu diri. Aku dulu bukanlah suami dan ayah yang baik. Jadi..., aku juga tidak pernah ikut campur mengatur kehidupan putraku kecuali mereka dan Dzakki sendiri yang menginginkannya]...
Kartika menyimak semua cerita Herdilan yang mengalir ringan tanpa ia tanya.
Ternyata kehidupan Herdilan juga cukup keras untuk membuat semua keadaan menjadi sebaik sekarang ini.
"Dzakki anak yang sangat baik. Dia bijak dan penurut!"
...[Ya, betul. Andaikan saja bukan Dzakki yang mempersatukan kita, entah seperti apa kisah kelanjutan keluarga kami ini. Hehehe... Mengobrol ditelepon sampai lupa waktu! Disini sudah pukul sebelas lebih]...
"Oh iya ya? Disana waktu lebih cepat satu jam ya, Bang? Aduh, maaf... Tika lupa!"
...[Hehehe... ya sudah, Nona sekarang istirahat. Tidur cepat dan jangan banyak fikiran ya? Kecuali mikirin Abang, itu sangat dianjurkan. Apalagi kalau berdoa lebih khusu' minta sama Allah semoga kita hidup bahagia bersama selamanya. Aamiin...]...
"Aamiin...! Hehehe, ya udah Abang juga istirahat ya? Aku tutup sambungan teleponnya."
...[Iya. Asal jangan tutup pintu hatimu untukku, Nona! Hahaha...]...
"Ya ampuuun... koq bisa-bisanya lempar rayuan diakhir teleponan, Bang!? Hihihi... ish Abang nih!"
Begitulah mereka kini.
Sepertinya Tuhan mulai menebarkan bibit-bibit percintaan kepada mereka berdua. Perlahan tumbuh dengan indah, dan penuh pesona yang tidak ada rahasia serta tipu-tipu diantara Herdilan Kartika.
Keduanya hanya ingin hidup bahagia.
Sesimpel dan sesederhana itu saja keinginannya. Karena mereka sudah dewasa dan pernah jatuh bangun mendamba cinta.
Semoga doa-doa Tuhan ijabah, dan kebaikan serta keberkahan jadi milik mereka berdua. Selamanya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1