
"Mens?"
Aku mengangguk ketika mas Delan menanyakan hal yang begitu sensitif. Dan kudengar helaan nafas kesalnya.
Mau bagaimana lagi, toh itu semua juga sudah takdir Illahi.
Meski aku sudah mengkomsumsi banyak obat penyubur serta vitamin-vitamin mahal yang menunjangku cepat hamil, namun nyatanya aku belum juga di kasih kepercayaan oleh Yang Maha Kuasa.
Begitu juga mas Delan. Yang ikut menjaga asupan makanan sehatnya agar sperm*nya lebih sehat dan membawa bibit kuat untuk membuahi sel indung telurku.
Tapi... semua masih belum mendapat hasil. Aku masih belum juga mengandung.
"Hhh... Pasti Mama bakalan cemberutin kita lagi!" keluh Mas Delan membuat raut wajahku berubah murung.
"Terus... gimana dong?! Masa' harus bohong!? Ga mungkin, mas!!"
Aku berusaha menenangkannya dengan mengusap bahu suamiku lembut. Jujur, aku pun ingin berteriak kesal. Menangis meraung-raung kecewa karena masih saja PMS dengan lancar setiap bulannya.
Mas Delan diam tak merespon elusanku.
"Hari ini aku akan pulang larut, Vi!"
"Mau kemana?"
"Ada rapat penting membahas proyek baru!"
Aku mendengus. Menyadari kalau ini akan semakin sulit bagiku. Karena mama Tasya pasti akan melimpahkan semua unek-unek kekesalannya padaku dobel karena mas Delan tak ada.
Benar saja. Seperti yang kuduga, Mama Mertuaku itu mengoceh ngalor ngidul soal segalanya. Soal kesedihannya yang terus menunggu buah hati kami hadir dan mengisi kesepian batinnya.
Kenapa Mama saja yang mencoba menjalankan program kehamilan? Lebih bagus karena anak sendiri. Kenapa harus terus menerus menekanku dan mas Delan? Justru semakin membuatku frustasi. Hhh...
"Yang sabar Viona! Kalian itu khan masih muda juga. Baru 23 tahun pula. Tuhan Maha Pengatur Segalanya. Mungkin umur kalian masih belum cukup untuk memiliki momongan!"
Ibuku selalu memberiku semangat juga berusaha menenangkan batinku yang galau karena tak kunjung hamil.
Berbeda sekali dengan Mama Tasya. Untungnya aku bisa menahan diri untuk tidak menceritakan perihal tabiat sang Mama Mertua pada ibuku. Jika tidak, entah bagaimana tanggapan Ibu nanti. Hhh...
Sementara mas Delan, di awal sering menyupportku juga memberi semangat. Tapi akhir-akhir ini... seperti mulai terlihat aura suramnya. Jika aku tiba-tiba datang bulan.
__ADS_1
Siapa juga yang mau begini khan! Inginnya aku juga diberi kepercayaan segera. Dan merasakan mengandung serta melahirkan seorang bayi mungil buah cinta kami.
Tapi apa mau di kata.
Apa aku harus menangis meraung, berteriak histeris agar Tuhan segera memberi kami anak? Tidak khan? Lalu, apakah ini juga kesalahanku sepenuhnya hingga mereka, ibu dan anak itu saling mendiamkanku...tak bernafsu menegur sapa aku dikala aku datang bulan?
Lantas apa yang harus kulakukan? Sedangkan segala upaya kini sedang kami usahakan. Hanya waktu saja, mungkin yang belum Tuhan restui saat ini.
...♡♡♡♡♡...
"Kenapa tidak program bayi tabung saja? Biar cepat kalian punya anak!"
Perkataan Mama Tasya membuatku dan mas Delan saling berpandangan.
Benar juga. Tak ada salahnya mencoba, bukan? Masalah biaya yang mahal, kurasa bagi mas Delan apalagi Mama bukanlah hal besar!
"Kamu mau, yang?" tanya mas Delan padaku.
"Vio ikuti apapun... asalkan bisa cepat hamil!"
"Oke, fix! I love you my darling!"
Aku dan Mama Tasya tertawa bahagia.
Dan sore hari kami membuat janji pertemuan dengan dokter spesialis kandungan di salah satu klinik rumah sakit VVIP Hospital.
🌲One moment POV Herdilan Firlando🌲
Aku kesal sekali, Viona datang bulan lagi.
Terang saja aku akan menjadi bahan omelan Mama lagi pastinya. Karena masih belum berhasil memberinya seorang cucu yang diharapkan.
Mama kesal karena istri sah Papa sudah mendapatkan dua cucu kembar sepasang pula.
Kak Cristian, anak Papa dari istri pertama yang baru tujuh bulan itu menikah... istrinya sudah melahirkan. Hm... hamil di luar nikah sepertinya.
Mama meledekku habis-habisan. Aku dan Viona sudah sepuluh bulan lebih menikah, tapi belum ada tanda-tanda kehidupan berkembang di rahim istriku itu.
Aneh, Mama lebih respek pada orang yang cepat hamil dan melahirkan meskipun jalan yang ditempuh itu nyeleneh. 'Hamil di luar nikah' harusnya jadi aib yang dijaga ketat kerahasiaannya.
__ADS_1
Hhh...
Malas rasanya berdebat dengan Viona. Ujung-ujungnya perempuan itu pasti menangis telungkup di atas ranjang. Dan aku harus menghibur dan merayunya agar kembali fight lalu mulai lagi berjuang.
Shiit! Padahal aku juga lelah. Butuh dihibur dan butuh disupport bukan terus terusan menyupportnya.
Begitulah perempuan. Selalu ingin menang sendiri. Merasa makhluk paling lemah dan harus selalu dikasihi.
Aku? Siapa yang mau menghiburku? Mengasihiku dengan nasehat-nasehat lembut memberiku kata-kata semangat? Tidak ada.
Justru mama-ku sendiri, orang yang paling culas dalam melontarkan kalimat ledekan yang menyakitkan hati ini.
Hhh...
Hari ini kerjaanku menumpuk, parah. Rapat dengan produsen dalam projek yang baru, belum lagi masih ada dua proses syuting yang masih terbengkalai terkendala cuaca.
Membuat otakku mengkeret dua kali lipat.
Artis pendatang baru yang perusahaanku booking untuk pembuatan iklan ternyata kurang profesional. Janji datang pukul sembilan pagi ternyata sampai pukul sepuluh masih belum datang.
Artis gila! Baru mulai orbit tapi gayanya sudah selangit! Lagipula... ini semua gara-gara pak Yos yang merekrutnya dengan alasan budgetnya bisa dikondisikan. Lah kalau begini, bukan menekan budget pengeluaran justru membuat jadwal syuting molor dan biaya yang digelontorkan lebih amsyong. Hadeh!
"Maaf, Pak! Kami baru tiba, terjebak kecelakaan di depan pintu tol Sunter!"
Asistennya menunduk membungkukkan tubuhnya berkali-kali meminta maaf. Membuatku hanya bisa menghela nafas pendek.
Aku kalau sudah marah, tidak lagi bisa mengeluarkan kata sumpah serapah. Hanya diam menyimpan emosi yang sudah di ubun-ubun ini.
"Mana Artisnya?" Pak Yos yang bertanya, berusaha mengambil alih.
"Sedang di ruang ganti dan make up, Boss!"
Aku tak mau mengeluarkan kata sepatahpun. Sudah malas dengan keributan yang pastinya malah menambah beban dan kerjaanku saja.
Seluruh kru kini telah siap. Aku hanya sebagai 'penonton saja'. Karena aku adalah salah satu produser eksekutif di bawah kendali Mama Tasya.
Sang artis muncul...
Hei...?!? Sepertinya aku kenal wajah itu!!!
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...