PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 119 HERDILAN DAN FIRMAN


__ADS_3

Herdilan bangun dari tidurnya. Ia terkejut merasa asing dengan sekeliling.


Kamar kecil yang pengap karena lampunya yang dipadamkan membuatnya segera bangkit berjalan keluar.


Tangannya meraba pinggang, lega ia mengetahui tasnya masih terpatri rapi di bagian tubuhnya itu. Dompet, hape, kunci mobil juga sejumlah uangnya masih utuh.


Akhirnya ia tersadar, kalau semalam Firman membawanya naik motor. Meninggalkan mobil mewahnya di pelataran parkiran diskotik.


Firman masih tidur pulas padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam.


Dengan langkah santai ia berjalan menuju Firman yang terbaring menyamping di atas sofa.


Ada selembar foto di selipan jemarinya. Membuat Delan penasaran lalu meraih foto itu.


Matanya terbelalak mengetahui gambar yang ada di sana.


Istrinya Christian?!? Ini benar-benar Firman dan istrinya Christian! Putra Papa yang menjebloskan Mama ke penjara!


"Ya. Ini Melody!" teriaknya membuat Firman terbangun.


"Hei! Ada apa?" tanya Firman kaget.


"Ini..., ini Melody? Istrinya Christian?"


Herdilan balik bertanya. Firman bangun dan duduk di sofa dengan mengucek-ngucek matanya.


"Hoaam...!!"


"Hei, jawab, Fir!"


"Songong kau ya, lama-lama!?!" hardik Firman kesal.


"Aku tanya, apa ini Melody?"


"Mutia Permata Melody!"


"Jadi benar khan? Dan ini... dia bisa foto sama kau ini... apa hubungannya?"


"Dia, mantan tunanganku!"


Herdilan melotot tak percaya.


"Kenapa?" tanya Firman merasa kesal karena Delan seolah meremehkan percintaannya.


Ia bangkit ke kamarnya. Menekan tombol saklar lampu listrik hingga bohlam menyala. Dan mengambil sesuatu..., album foto pribadinya.


"Nih... kalau kau tak percaya!"



__ADS_1



Semua adalah gambar diri Firman dan Mutia Permata Melody. Saksi bisu yang tak terbantahkan.


"Kenapa kalian putus?" tanya Delan penasaran.


"Putus ya putus! Kenapa harus ada alasan?"


"Aku... ingin menawarkan kerjasama denganmu, Firman! Kak Firman maksudku!"


"Hhh... Sorry, ga minat!"


"Hei...! Ini serius! Aku ingin mengajakmu bergabung di agency PH mamaku! Bagaimana?"


Firman termangu. Mendapatkan tawaran kerja yang menggiurkan adalah impiannya.


"Maksudmu?'


"Kita bisa kelola PH bersama. Aku akan memberimu aset perusahaan sebagai bagian dari kerjasama kita. Gajimu sepuluh juta. Kuberi mobil sebagai inventaris. Kuharap kamu bisa kembali menggoda istrinya Christian!"


Firman mengeraskan rahangnya. Kepalan tangannya telah bulat penuh dan kini diangkat dan siap dilayangkan ke wajah tampan Herdilan.


Tapi...


Tawaran yang menarik juga! Ada pertukaran yang baik yang bocah tengik ini ajukan!!!



Semua orang suka uang, bro! Kerja di PH bonafid, langsung dapat jabatan. Gaji dua kali lipat dari supervisor. Kendaraan roda empat walaupun inventaris. Uhhuuy..., kau yang sok idealis pun akan mikir dua kali, khan! Hehehe...


Herdilan menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Bagaimana? Daripada kerja freelance mu yang cuma mengandalkan bonus dan komisi. Itu pun kalau tulisanmu meledak menjadi gosip murahan. Iya khan?!? Hehehe..."


"Tawaran setan memang istimewa!"


"Hahaha... berarti kau mengakui kehebatanku!"


"Setan kecil yang sukses! Dan aku tahu, cecunguk-cecunguk yang menghajarku tempo hari di jalan Pramuka adalah suruhanmu!"


"Hehehe... shock terapy sajalah itu buatmu! Karena kau ternyata biang keladi kehancuran rumah tanggaku dengan Viona!"


"Ohoho..., setan selalu berfikir buruk dan jahat! Kau sendiri yang menghancurkan rumah tanggamu! Bukan aku! Aku hanyalah alasan kecil bagimu untuk dijadikan kambing hitam!"


Herdilan menjilat bibirnya yang kering.


Dalam hati, ia mengakui kebenaran ucapan Firman. Ia sendirilah yang menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya dengan Viona.


Ia terlalu lupa diri hingga dengan mudahnya tergoda rayuan Lady yang murahan.


Hhh...

__ADS_1


Herdilan menghela nafas. Mengambil sebatang rokok milik Firman di atas meja samping sofa.


"Aku telah membuat Viona menangis!" cerita Herdilan dengan mata menerawang kosong.


Dipantiknya korek api yang juga tergeletak di sebelah kotak rokok lalu dinyalakan batang rokok yang kini ada di sela bibir Delan.


Rokok menyala kena hisap. Herdilan menghembuskan kepulan asap putihnya ke udara yang dingin dan kosong.


"Kau menyesal sekarang bukan?"


"Ya kak! Aku sangat menyesal!... Dulu aku selalu mencibir kelakuan Papaku yang menggilir para istrinya. Ia sibuk ke rumah sana, ke rumah situ, ke rumah sini... Haish!!! Kini aku mengalami apa yang Papaku perbuat!"


Herdilan memukul kepalanya sendiri. Firman hanya diam mendengarkan curahan hati lelaki yang usianya dua tahun lebih muda darinya itu.


"Viona marah besar! Aku tidak menyalahkan sikapnya. Itu hal yang lumrah. Perempuan mana yang mau diselingkuhi bahkan dimadu diam-diam. Aku juga,... tak bisa mengambil sikap. Karena Lady sedang mengandung. Otomatis aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku! Ternyata sekarang aku menyesal sekali! Lady menipuku mentah-mentah! Bahkan kini aku tidak tahu apakah anak yang diperutnya itu anakku atau bukan!... Dan dia justru mentertawakanku yang kemungkinan nasib dan takdirnya sama seperti bayi yang dikandungnya. Shiiit! Perempuan bangsat!"


"Hhh..."


Firman hanya menghela nafas panjang.


"Kau bodoh! Melepaskan Viona yang memiliki banyak keistimewaan!"


"Ya. Aku sangat menyesal, Kak!"


Firman mengambil sebatang rokok. Mengekor Herdilan menyalakan dan menikmatinya dalam lamunan kosong.


"Aku bodoh,... aku takut menembak Viona karena dia anak tentara! Padahal aku suka sekali dengan semua sifatnya!"


"Hmm... Aku juga sangat menyukai Viona. Bahkan begitu mencintainya meskipun ia adalah perempuan yang dingin! Dia terlalu pemalu untuk memulai. Dia merasa seperti perempuan penjaja yang menawarkan cinta jika merayu lebih dulu. Dia terlalu pasif, meskipun baik dan istri yang penurut. Itu saja sih, kelemahannya!..."


"Hehehe... Kau cocok dengan si Lady!"


"Siang ini aku akan pergi ke Pengadilan Agama mengajukan berkas perceraian!"


"Kau...nikah resmi? Kenapa nikah siri ajukan cerai ke pengadilan? Tak perlu seribet itu!"


"Hhh... Lady pandai mengambil hati Mama! Dia bilang, dia tak ingin anaknya susah mengurus akta kelahiran nantinya karena status kami yang hanya nikah siri. Mamaku meminta bantuan Papa, mengurus surat nikah resmi lewat tangan-tangan yang lihai pastinya."


"Woow... skandal ini semakin memblunder!"


"Hei!?!? Jangan-jangan kau juga ikut andil memberikan berita sampai Mamaku ditangkap polisi?" tuduh Herdilan membuat Firman berang.


"Bangsat cilik! Kalau aku mau, sudah sejak lama aku membeberkan kebobrokan keluargamu, Herdilan Firlando! Cuih!... Bapakmu itu pejabat penting. Sekali aku menggoyangnya, hancur nama besarnya! Tapi tidak. Aku masuk dunia jurnalis pun tidak sepenuh hati. Karena bukan bagian dari keinginanku!"


Herdilan menepuk-nepuk pundak Firman. Lalu merangkulya sebentar.


"Kau harus sadar! Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya kalian menyimpan bangkai, pasti tercium juga baunya. Faham?"


Herdilan terpekur menunduk mendengar ocehan Firman yang mirip pengkhotbah.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2