
Viona dan Dzakki hanya diam mengikuti kemana Roger membawa mereka pergi.
Hingga tiba-tiba...
"Ayah! Ayah!"
"Ya, Sayang!?"
"Ini... ini khan pantai Ancol!?" ujar Dzakki melihat situasi luar lewat jendela kaca mobil.
"Iya!"
"Yeeeay... kita ke laut!!!"
Dzakki terlihat sumringah dengan sorak sorai kegembiraannya.
Cup.
Dikecupnya pipi sang Ayah yang masih dibelakang kemudi.
Wajah Roger yang tadinya tegang kini perlahan bersemu merah, merona.
Dzakki ingin cepat-cepat turun dari mobil.
"Sebentar, Sayang! Ayah lepaskan dulu safety belt Mami!"
Viona menelan salivanya. Roger mendekat dan membuka kunci sabuk pengaman yang disekitar pinggangnya. Sementara sang putra bergerak kesana kemari kegirangan membuat Roger semakin kesusahan.
Dzakki memang duduk di depan dipangkuan Viona.
"Sabar dulu ya?" tutur Roger lembut membuat Dzakki lebih tenang.
..........
__ADS_1
Maghrib telah lewat. Senja merona pun berganti rembulan yang bersinar cerah. Secerah hati Dzakki dan juga Roger serta Viona.
"Dzakkiii..., hati-hati, Nak!" teriak Viona melihat sang putra berlarian kegirangan di area pantai.
Angin semilir menyibak poni rambut Viona.
"Sepertinya semesta kurang berpihak pada kita," celetuk Roger membuat Viona tertawa kecil.
"Ini memang musim air laut pasang!" timpal Viona
"Kalau musim rambutan, kapan?"
"Hahaha... Ayah!" ternyata bocah berusia empat tahun lebih itu mendengar guyonan Roger jadi terbahak-bahak membuat Viona dan Roger juga ikut tertawa.
"Dzakki suka pantai!" teriak Dzakki kencang.
"Jangan berteriak-teriak, Sayang! Suara keras Dzakki ganggu orang lain!" larang Viona hendak menarik tangan mungil Dzakki.
Namun Roger lebih cepat menarik jemari tangan Viona dan berkedip serta menggeleng pada wanita itu agar memberikan kebebasan pada Dzakki.
"Biarkan Dzakki berekspresi. Jangan kekang kebebasannya!"
Viona semakin diam.
"Mamiii... main pasir yuk!"
"Ayo, sama Ayah saja!"
Dzakki dan Roger bermain pasir tiga meter dari tempat Viona duduk.
Putra semata wayangnya itu terlihat sangat senang sekali. Sesekali Dzakki berteriak dan tertawa lepas karena Roger mencandainya. Membuat Viona tanpa sadar tersenyum juga.
"Mamiii... sini ikutan!" ajak Dzakki membuat Viona beranjak menghampiri.
__ADS_1
"Dzakki bikin apa?"
"Bikin benteng! Kata Ayah, bentengnya untuk jaga Mami dari orang jahat!"
Viona mendongakkan wajahnya. Menatap lekat pada Dzakki lantas menciumnya gemas.
"Mami jangan takut! Ada Dzakki juga Ayah! Kita berdua pasti bakalan jaga Mami, selamanya!"
Ya Tuhan...
Hati Viona bergetar. Riak bola matanya merebak. Namun segera ditahan agar tak ada kesedihan yang turun dari sumbernya.
"Terima kasih, Anakku!"
Viona merasa sangat bersalah pada putra semata wayangnya itu.
Semenjak ia bekerja, Dzakki jauh dari pandangannya. Viona sibuk ngampus, ditambah sibuk ngantor. Otomatid perhatiannya pada Dzakki jadi terbagi.
Teringat pada perkataan miss Geraldine yang mengatakan kalau Dzakki jadi pendiam belakangan ini membuat Viona makin kesal pada dirinya sendiri.
Apalagi beberapa minggu ini perhatiannya juga tercurah pada Mama Tasya.
Ia fikir, Dzakki baik-baik saja karena ada bi Tini juga Kenken yang selalu menjaganya.
Ternyata putranya juga membutuhkan kasih sayang san perhatian darinya.
Viona kembali mengecup pipi Dzakki sang putra.
Maafkan Mami, ya Nak! Mami masih sangat jauh dari kata sempurna. Mami belum bisa membahagiakan Dzakki! batinnya sedih.
Malam itu mereka bertiga benar-benar bermain pasir sepuasnya. Tertawa, bercanda bersama... menghabiskan waktu yang selama ini tak bisa Viona dan Roger luangkan untuk Dzakki.
Biarlah orang berkata apa, yang pasti malam ini di pinggir pantai Viona, Roger dan Dzakki hatinya bahagia.
__ADS_1
Mungkin orang mengira mereka adalah sepasang keluarga. Karena terlihat sangat kompak dan penuh suka cita.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...