PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 57 Kesedihan Beruntun


__ADS_3

Ayah!


Ibu!!!


Aku terperanjat kaget. Menatap sekeliling. Ruang kamarku di rumah orangtuaku.


Alhamdulillah! Ini hanya mimpi. Syukurlah!


Aku mengusap wajah dengan kedua belah tangan. Berharap dengan sangat, kalau aku hanyalah mimpi buruk saja. Dan 'sumpah demi Tuhan', tak ingin kualami.


Aku bangun dari ranjang. Berjalan keluar kamar, ingin memeluk Ibu dan mengadukan kelakuan suami bejadku pada beliau.


Suasana rumah terlihat ramai. Hilir mudik orang banyak mondar-mandir disekitar ruang tamu.


"Tante Wid? Om Tama?"


Kedua adik Ibu itu segera merangkul tubuhku berbarengan. Tangis mereka pecah dipelukanku.


"A ada apa? Ada apa tante sama om nangis kejer begini?"


Aku hanya bisa menelan saliva. Perlahan memori ingatanku kembali pada mimpi yang buruk tadi.


"Ayah! Ibu! Dimana mereka?"


Aku melepaskan pelukan keduanya. Berjalan cepat kesana kemari mencari kedua orangtua yang sangat kucinta.


Ada banyak orang, kerabat, sahabat serta tetangga terdekat. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha meraih tubuhku agar tenang.


"Ayah! Ibu!... Ayah! Ibu! Vio pulang! Ayah! Ibu! Kalian dimana? Ini ada acara arisan keluarga ya? Koq rame banget?"


Aku tersenyum melambaikan tangan pada kerabat yang kukenal.


Berjalan kesana kemari mencari Ayah serta Ibu. Berusaha menyadarkan diri kalau yang tadi itu benar-benar mimpi.


Kulihat para ibu sedang menggunting daun-daun pandan menjadi serpihan kecil tipis dan mengutip bunga-bunga aneka warna.


Ada acara apa? Ada acara siraman kah?


Aku masih sibuk mencari Ayah dan Ibu. Membuka pintu kamar mereka juga berjalan ke arah dapur.


Semoga saja Ibuku sedang sibuk di wilayah kekuasaannya, membuat aneka makanan kesukaanku dan Ayah.


"Viona!"


Mama Tasya menarik tanganku hingga aku jatuh ke pelukan hangatnya.


"Mama! Mama juga ada disini?"

__ADS_1


"Tante Widia mengabari mama perihal musibah ini, Sayang! Delan juga sedang perjalanan pulang!"


Mama Tasya berurai air mata. Aku langsung teringat kejadian kemarin dalam pengintaianku bersama kak Firman.


"Mas Delan kejam, Mama! Mas Delan selingkuh dari aku, Ma! Mas Delan punya istri baru! Huaaa hik hik hiks... Mamaaaa!"


Mama Tasya membawaku menuju kamar. Pecah tangisanku dipangkuan beliau. Terlihat tatapan kosong Mama yang dingin dan suram. Pasti Mama Tasya sebentar lagi meledak amarahnya mengetahui putra kesayangannya itu mempunyai selingkuhan.


Mama Tasya memelukku erat. Kami menangis keras bersama. Meraung dan merintih saling mengeratkan pelukan.


Mama... Tolong bantu aku, Ma! Tolong marahilah putramu, Ma! Dia menyakiti hatiku sangat besar. Hingga terluka parah jiwa ini dibuatnya! Bahkan... kini mereka akan memiliki anak, Ma!


Cukup lama aku dan Mama hanya berpelukan sambil menangis. Tiada kata kecuali suara isak tangis kami yang terdengar lirih memilukan.


"Mama...!"


"Sayang!... Jangan bicarakan hal itu dulu, Nak! Tapi saat ini yang penting adalah pemakaman Ayah dan Ibumu, Sayang!"


Blaarrr.


Petir itu seperti nyata. Meledak tepat di atas kepala.


Ternyata, kecelakaan Ayah dan Ibu bukanlah mimpi bagiku. Semua benar nyata adanya.


Dan aku kembali jatuh pingsan tak sadarkan diri. Membuat Mama Tasya teriak histeris memanggil semua saudara dan para sepupuku.


............


Banyak tamu kehormatan dari pejabat publik hingga aparatur negara berpangkat tinggi ikut mengiringi prosesi pengantaran jenazah Ayah Ibu ke peristirahatan terakhir.


Membuat airmata ini menetes dan menetes lagi.


Setelah menikah dua puluh lima tahun, Ayah dan Ibu benar-benar pasangan dunia akhirat.


Apakah aku bisa mendapatkan jodoh seperti kalian?


Hik hik hiks... Air mata ini terus menerus mengalir, susah berhenti. Bahkan mataku seperti garis tipis yang sipit sembab karena terlalu lama menangis.


Aku tak peduli. Sangat tak peduli pada keadaanku sendiri.


Mama Tasya dan Tante Widya mengapitku kiri kanan.


Tubuh ini begitu lemahnya hingga beberapa kali terjatuh dan pingsan lagi.


Sungguh semua ini membuatku rapuh. Ditinggalkan mas Delan aku masih merasa sombong kemarin. Tapi hari ini, Ayah dan Ibuku juga meninggalkanku. Dosa apa yang kulakukan hingga bisa mendapatkan musibah dan keburukan hidup secara beruntun seperti ini?


Suamiku... menikah lagi diam-diam. Lalu Ayah dan Ibu kecelakaan. Keduanya tewas di tempat setelah menabrak pembatas jalan dan terguling beberapa ratus meter di sekitar tempat kejadian.

__ADS_1


Tuhan... Mengapa kau uji aku sedemikian beratnya. Sangat berat hingga aku merasa dunia ini runtuh di atas kepala.


Duniaku benar-benar hancur kini.


Bahkan tempatku pulang dan mengadu, kini tiada lagi.


Ayah! Bunda! Keduanya telah pergi menemui Sang Pencipta.


Lalu aku..., aku kini hidup dengan siapa? Aku tak punya Ayah dan Ibu lagi. Juga tak punya saudara sekandung. Hanya sepupu-sepupu dari Tante Widya dan Om Tama, adik-adiknya Ibu. Sedangkan Ayah sama sepertiku. Anak tunggal tak memiliki saudara kandung.


Mas Delan datang setelah Ayah dan Ibu selesai dikebumikan.


"Sayang!"


Plak.


Kutampar pipinya dengan sisa-sisa kekuatan tubuhku yang rapuh.


Mas Delan ternganga. Wajah tampannya terlihat pucat seketika. Sepertinya ia telah sadar, kalau aku mengetahui semua rahasianya kini.


"Viona! Maafkan aku terlambat mengikuti prosesi pemakaman Ayah Ibu!"


Dia berusaha menenangkanku. Meraih tubuhku dalam dekapannya yang dingin sedingin salju bagiku.


Jatuh airmataku melihat Mama Tasya yang berdiri dibelakang mas Delan menyatukan kedua belah telapak tangannya, memohon padaku agar bisa menahan emosi dahulu.


Aku kalah.


Aku menuruti permohonan Mama. Yang kini adalah pengganti Ibuku yang baru saja meninggal dunia.


Tidak, tidak. Ibuku tak kan pernah tergantikan. Meskipun oleh malaikat berhati baik seperti Mama Tasya. Ibu adalah syurgaku. Wanita mulia yang selalu ada di hati dan jiwaku. Selamanya.


Mas Delan menangis sesegukan di bahuku.


Ia mengucapkan banyak kata disela tangisnya. Tapi tak kudengar dan kuhiraukan ia mengoceh ini juga itu.


Aku hanya diam mematung dipelukannya. Bahkan air mataku seolah membeku tak lagi bisa meleleh deras seperti tadi.


Aku benci padamu Herdilan Firlando!


Mama Tasya terlihat menghela nafas. Wajah beliau yang tadi pucat kini sedikit bersemu kuning kemerahan.


Aku akan mencoba mengikuti nasehat beliau. Aku akan silent untuk tujuh hari kedepan, sampai tahlilan Ayah Ibu bisa diadakan demi ketenangan kedua orangtuaku di alam baka.


Aku sangat menyesal, kini menyadari... kemungkinan Ayah dan Ibu meninggal karena fikiran Ayah yang kalut mendengar cerita pernikahan mas Delan yang lain secara diam-diam.


Aku... Secara tidak langsung adalah pembunuh Ayah dan Ibu. Aku telah membuat mereka mengalami kecelakaan ini. Dan menghilangkan nyawa keduanya dengan cerita sedihku di telepon kemarin.

__ADS_1


Jatuh lagi deraian air mata ini. Dan aku... kembali terkulai lemas dipelukan mas Delan. Pingsan.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2