PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 140 In Frame "Pertemuan Yang Tak Disangka"


__ADS_3

Viona telah memasuki usia kandungan 9 bulan. Tinggal menghitung hari hingga tiba waktunya melahirkan.


Setiap minggu kini ia intens menyambangi klinik bersalin dokter Lena. Baik dengan Jonathan Lordess maupun seorang diri.


Jonathan memang seorang pengusaha yang super sibuk. Dan juga perusahaannya yang bergerak di bidang pariwisata, travel, dan aneka cinderamata semakin berkembang pesat. Selain itu tempat usahanya juga tersebar di seluruh Nusantara. Khususnya di Bali, Lombok, NTT bahkan Raja Ampat pun ada juga.


"Viona...! Maaf..., ternyata aku tidak bisa stay bahkan di saat kandunganmu sudah masuk bulannya. Aku..."


"Ssstt...! Jangan katakan apapun. Aku sangat mengerti Kak! Pergilah, jangan khawatirkan aku! Ada bi Tini juga dokter Lena yang selalu setia mengontrol keadaanku. Juga Ira yang sering menyambangiku. Jadi Kakak tak perlu khawatir!"


Jonathan menatap lekat wajah perempuan yang beberapa bulan ini selalu membuatnya semakin semangat dalam bekerja. Akan ada jagoan kecil yang hador nanti dikehidupannya juga.


Senyumnya mengembang. Dikecupnya kening sang bumil yang sangat ia sayangi itu.


"Aku cinta Viona!"


Entah... Mengapa mendengar kalimat yang dilontarkan Jonathan, airmata Viona menetes kiri dan kanan. Senang, bahagia dan terharu... bercampur menjadi satu.


Ini pertama kalinya Jonathan mengatakan kalimat itu. Sungguh suatu hal yang luar biasa bagi Viona.


"Aku cinta kamu. Sampai kapanpun... dan tak kan berubah. Meski aku harus mati hari ini juga. Hanya kamu dan bayi kita ini yang ada dalam fikiranku!"


Viona tergugu. Tak bisa mengucapkan kalimat balasan. Namun hatinya menghangat karena cinta Jonathan telah merasuk di jiwanya.


Meski Viona pernah menikah dengan seorang Herdilan Firlando, ini adalah cinta yang pertama baginya. Cinta yang begitu dahsyat. Yang tidak menggunakan nafsu, emosi serta hanya kata-kata puitis saja.


Tidak.


Viona juga mencintai kesederhanaan Jo. Mencintai kebaikan dan ketulusan pria dewasa yang usianya tujuh belas tahun lebih tua darinya itu.


Mungkin orang yang melihat dan mengenalnya sepintas akan mengatakan kalau ia hanyalah menyayangi Jo karena harta juga kebaikan Jo.


Tapi tidak. Hati Viona benar-benar tertambat pada Jonathan. Dan kini ia juga menunggu sekali momen dirinya dilamar Jo setelah melahirkan empat puluh hari.


Itu adalah kesepakatan mereka yang kini benar-benar niat tulus dari dasar hati yang paling dalam.


Viona dan Jonathan ingin bahagia. Itu saja.


Keinginan yang sederhana. Namun sangat sulit ternyata untuk digapainya.


"Hari ini aku akan ke Ubud, Vi! Andaikan kamu tidak sedang hamil,... ingin rasanya aku selalu membawamu serta kemanapun aku pergi. Tapi saat ini tidak mungkin. Aku juga tidak ingin menyengsarakanmu dan bayi kita!" kata Jo, manis sekali terdengar di telinga Viona.


Jo selalu bilang, 'bayi kita'. Ia padahal sangat membenci 'ayah kandung' dari bayi Viona. Namun pria itu ternyata sangat menyayangi bayi yang akan Viona lahirkan beberapa hari lagi. Semua karena cinta.


Cinta yang begitu indah yang mengikatnya menjadi pria luar biasa bagi Viona.


"Hati-hati di jalan! Jangan lupa makan. Kakak selalu kerja tak mengenal waktu, pasti sering lupa untuk makan. Iya khan? Kalau memang tak sempat, bawalah roti, biskuit ataupun lontong dalam tas kecil kakak. Jadi tinggal makan, kalau perut terasa lapar sedangkan pekerjaan masih banyak!"

__ADS_1


"Vi... Kamu semakin mirip seorang istri yang begitu perhatian! Hehehe..."


"Hahaha... Kakak! Aku ini istri yang cerewet yang suka sekali mengomeli suami, ya? Sungguh berbeda dengan diriku yang dulu. Yang tak pernah kulakukan pada suami terdahuluku!"


"Jangan ucapkan kata-kata terakhir seperti itu. Kamu hanyalah istriku seorang saja. Dan aku juga, suami Viona saja. Tidak ada suami-suami lain ataupun istri-istri lain. Kumohon..."


Viona tersenyum. Membuat Jo mendekap kedua pipi Viona yang kini chubby dengan dua telapak tangannya.


Lalu...


Cup.


Dikecupnya pucuk hidung Viona.


"Gemesin deh!" katanya membuat Viona tertawa.


"Kapan berangkatnya ini, canda mulu! Hehehe..."


"Sebenarnya aku malas pergi, Vi! Inginnya selalu di sini menemanimu. Seperti ini, bercanda, mengobrol bersamamu! Tapi..., aku punya kewajiban dalam pekerjaanku! Hhh..."


"Ayo, semangat! Jangan lemah! Semangat, semangat, semangat!"


"Hehehe... Kamu kalau chat aku tulisannya semangat tiga kali!"


"Hihihi...! Ish dasar! Harus ya, ketiknya juga full tanpa singkat2 gitu! Ya khan namanya juga chat!"


"Aku berangkat ya? Jaga dirimu baik-baik! Jagoan Papi Jo, titip Mami Vi ya? Jangan nakal, jangan buat Mami susah. Nanti Papi pulang bawakan stroller buat jagoan! Ya?"


Lucu sekali! begitu gumam hati kecilnya.


...........


Jonathan pergi. Ubud Bali kini tujuannya. Villa tempatnya adalah persinggahan istirahatnya. Dan ketika ia tiba di sana, terkejut Jo melihat seseorang yang sedang menunggunya.


Herdilan Firlando.


"Om! Apa kabar?" tanyanya dengan sumringah. Melihat kedatangan sang Om yang ia tunggu setelah seharian penat di perjalanan dan sejam menunggu om pemilik villa datang.


"Mau apa kau kesini?"


"Bolehkah aku ikut kerja dengan Om? Please..."


"Hhh..."


Jo hanya menghempaskan tubuhnya ke sofa teras rumahnya dengan hati kesal. Lalu menghela nafas, tak suka pada kedatangan ponakan kurang ajarnya itu.


Namun... fikirannya kini berputar. Jo memang sempat ingin memanasi hubungannya dengan Viona pada Delan. Dan prediksinya memang selalu tepat.

__ADS_1


Namun sayangnya, rencananya tidak jadi kenyataan. Viona masih stay di Ibukota. Ingin melahirkan di sana, katanya.


Padahal andaikan semua rencana Jo berjalan lancar, ini adalah pembalasan yang telak bagi Delan dari Viona.


Pembalasan dendam istri pertama yang akhirnya menikahi Om suaminya. Dan sang mantan suami, kini jadi kacung mereka.


Keren bukan, pembalasan Viona?


Hhh... Jo hanya bisa menghela nafas. Sedikit sesak rasanya, tak bisa membuat Viona tersenyum lega segera.


"Gimana Om? Apapun pekerjaannya, aku akan ambil! Aku percaya, Om adalah orang yang sangat baik. Pasti Om tidak ingin melihat aku sengsara hidup seperti tunawisma!"


"Apartemenmu mana?"


"Kujual Om! Habis untuk modal usaha! Ternyata... trading penipuan judi online!"


"Ck ck ck... Kasihan nasibmu, Lan!"


"Om... Tolong aku, please..."


"Hhh... Oke! Kau boleh ikut aku. Tapi kau harus setia padaku. Mengikuti apa perintahku dengan benar tanpa membantah! Bagaimana?"


"Iya, Om!"


"Belikan dulu aku stroller! Yang bagus!"


"Stroller? Untuk bayi? Bayi siapa?"


"Bayiku lah! Sebentar lagi calon istriku melahirkan. Aku ingin membelikan stroller untuk anakku!"


"Be belum menikah? Tapi... sebentar lagi melahirkan?"


Herdilan membulat matanya. Tapi hanya sebentar. Lalu ia bertepuk tangan memberi Jo aplause meriah.


"Apa maksudmu mentertawakanku?" tanya Jo marah. Merah wajahnya melihat Herdilan yang seolah lupa...kalau mamanya pernah menyakiti hati Jo dan juga almarhumah Tania.


"Maaf, Om... maaf! Aku... senang, om kini punya pasangan! Semoga pasangan Om kali ini adalah wanita yang sangat mencintai Om! Yang benar-benar tulus menyayangi. Karena wanita jaman sekarang, adalah wanita dajjal. Yang sukanya memeras dengan rayuan mulut manis berbisa!"


"Vionaku tidak seperti istri keduamu!"


Deg.


Jantung Herdilan serasa berhenti berdetak. Nama Viona, istri pertamanya disebut-sebut sang Om.


"Viona Om? Nama... calon istri Om, Viona?... Sedang hamil, dan akan segera lahiran???"


Viona Yuliana istri pertamaku juga sedang hamil besar. Meski entah dimana kini dia berada. Tapi... Apakah ini hanya suatu kebetulan saja? Viona juga nama calon istri om-ku dan tengah mengandung juga?

__ADS_1


Herdilan hanya bisa menerka-nerka dalam hatinya. Menatap bingung ke wajah tampan sang Om yang tersenyum tipis sengaja memancing keingin-tahuan Herdilan Firlando.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2