
Viona tidak pernah menyangka, kepindahannya ke Bali bersama Dzakki adalah langkah salah.
Tadinya ia berfikir untuk pergi menjauh dari Herdilan adalah keputusan yang tepat.
Nyatanya...
Sang putra perlahan berubah.
Dzakki kini terlihat lebih pendiam dan tak seperti dulu. Usia mudanya juga tak seceria ketika masih di Jakarta.
Dzakki lebih suka menghabiskan waktunya dengan laptop, juga gadget pribadi miliknya yang Roger hadiahkan daripada mengobrol dengan Viona.
Ia memang sudah kembali bersekolah di Taman Kanak-Kanak Internasional, yang kebanyakan muridnya berasal dari berbagai negara dan golongan.
Nyatanya justru membuat Dzakki kesulitan bergaul dan beradaptasi. Semakin membuatnya menjadi pribadi yang individualis.
Viona sendiri melanjutkan usaha Jonathan dengan lapak cinderamatanya yang tokonya ada di alun-alun desa, seperempat jam jarak yang ditempuh dari villa yang jadi tempat tinggalnya.
Dzakki hanya bisa tersenyum bahagia jika Roger menelponnya setiap malam.
"Ayah, kapan Ayah datang mengunjungi Dzakki?" tanyanya suatu ketika.
...[Apa Dzakki tidak suka tinggal di tempat yang sekarang]...
Roger bertanya, menyelidik.
Ia sejujurnya takut sekali pada kenyataan kalau Dzakki bisa menjadi kecewa karena keputusan pindah tempat yang diambil Viona secara tiba-tiba. Terlebih tanpa bersama orang-orang terdekat Dzakki seperti Tini, Kenken dan dirinya.
Namun apa daya, dirinya bukanlah siapa-siapa.
Christian sendiri sempat ia kunjungi sebelum kembali ke Surabaya, supaya bisa menasehati dan memberi masukan pada Viona akan langkahnya.
Tetapi Chris juga tak dapat menjanjikan Viona akan menuruti perkataannya.
Chris hanya berkata, Viona adalah pribadi yang bebas. Dan untuk saat ini ia sengaja membiarkan Viona mengambil keputusannya sendiri. Bukan bermaksud melepaskan tanggung jawabnya pada Viona. Hanya ingin Viona memiliki rasa empati pada hidup dan dirinya sendiri tanpa masukan siapapun.
__ADS_1
Viona berhak memilih.
Viona berhak mendapatkan apa yang ia mau.
Meskipun kadang langkahnya salah, tapi disitulah kedewasaan seseorang akan berkembang.
Selama ini Viona lemah. Cenderung mengekor dan bernaung hanya mendapat perlindungan dari orang-orang yang simpati padanya.
Walau begitu, Christian tetap memantau. Setidaknya Viona masih dalam pengawasannya. Dan dia pula sebenarnya yang telah menggaji Cemen, Bi Kurni serta Mbak Clon agar selalu setia menjaga dan menemani Viona serta Dzakki.
"Dzakki rindu Ayah!"
Roger sedih melihat wajah putra angkatnya yang murung tak lagi bergairah seperti dahulu.
...[Akhir bulan Ayah akan ke tempat Dzakki tinggal. Please... jadi anak baik ya, Nak! Ayah pasti datang!]...
Roger hanya bisa menjanjikan kehadirannya akhir bulan. Dirinya sendiri masih terikat kontrak sebagai dosen pengganti untuk beberapa bulan lagi di Surabaya.
Jika ia melepaskannya, maka harus membayar uang kompensasi yang tidaklah sedikit. Dan Roger lebih memilih menahan perasaan demi mengumpulkan pundi uangnya kelak untuk masa depan Dzakki.
Jodohnya mungkin jauh. Entah dengan wanita mana ia akan membina rumah tangga kelak. Roger tak berani menerka. Ia juga telah patah arang dan tak bersemangat lagi meminta Viona untuk mau hidup bersamanya dalam kehalalan.
Mungkin dirinya tak ditakdirkan hidup menikah dan punya anak. Hanya Dzakki saja harapannya.
...........
"Dzakki...! Dzakkiii!!!"
Viona mulai merasa kalau Dzakki kini sedikit membangkang. Seringkali panggilannya diabaikan tak dijawab meski sudah berteriak-teriak.
Perilakunya mulai tak terkontrol. Seringkali ia mendapati putra kesayangannya itu melamun sendirian di pinggir kolam renang yang berukuran dalam. Tentu saja Viona panis, cemas dan khawatir Dzakki jatuh tenggelam.
Mengingat dirinya pernah hampir tenggelam di kolam itu saat bulan madu.
Juga mengingat Dzakki yang jatuh terpeleset di kolam renang Atlantis.
__ADS_1
Viona semakin takut.
"Dzakki... Sedang apa, Nak?"
Dzakki hanya menoleh sepintas saja. Tangannya memainkan air kolam hingga menjadi putaran gelombang.
"Sayang! Kenapa kalau Mami panggil-panggil Dzakki, jarang sekali menyahut?"
"Dzakki tidak dengar, Mi!"
"Dzakki Sayang! Apa ada masalah di sekolah?"
"Apa Mami peduli kalau Dzakki ada masalah?"
Ya ampun... Bocah lima tahun ini sudah bisa berkata kalau ada masalah! Viona gemas hatinya.
Dikecupnya pipi sang putra.
Dzakki mendorong tubuh Viona, menolak ciuman pipi berikutnya. Spontan Viona jadi bingung sendiri.
"Kenapa Sayang?"
"Tidak apa-apa! Dzakki mau tidur saja, ya!?"
Viona sedih hatinya. Putranya benar-benar tak lagi antusias bertanya dan menjawab apapun ucapan Viona.
"Sayang! Jangan dikunci dari dalam, Nak! Dzakki...! Dzakki sayang... Buka pintunya!"
Viona makin cemas ketika Dzakki justru mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Ia takut kalau Dzakki melakukan hal yang... No, Viona! Jangan berfikir hal-hal yang buruk! Ucapan adalah doa. Jangan, jangan katakan hal aneh!
Viona berusaha menetralisasikan perasaannya yang menggalau.
Berharap semoga ini hanyalah kesulitan di awal kepindahan Dzakki pada satu keadaan. Sulit beradaptasi. Dan ia pun merasakan hal yang sama seperti Dzakki. Kesulitan menyesuaikan diri.
__ADS_1
Butuh waktu memang. Viona harap masa-masa penyesuaian ini akan segera berakhir dan mereka berdua hidup bahagia.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...