
Aku lega. Satu persatu rantai pengikat yang membelengguku beserta adik-adik perlahan melonggar dan tak lagi mengekang.
Entah karena kedewasaan diantara kami telah Allah tumbuhkan, atau mungkin sudah waktunya juga bagi kami semua untuk hidup bahagia.
Perlahan tapi pasti, rantai besi yang berat itu kini jatuh oleh kebaikan demi kebaikan.
Aku terus memepet Herdilan. Memberinya motivasi kehidupan agar ia bisa melihat dunia luas di luar sana. Dan berharap ia juga tak sebatas menatap dunia. Karena ada akhirat yang lebih kekal nantinya setelah kita mati.
Aku manusia biasa. Kadang juga ada dititik capek dan lelah mengurusi semua masalah keluargaku yang tak kunjung usai.
Roger memaksaku untuk memberinya doa restu tulus karena kini Viona telah menerima cintanya.
Dari raut wajahnya terlihat sekali pancaran kebahagiaan. Aku senang, tapi aku sedih.
Viona masih dalam belenggu Herdilan dipandangan mata batinku.
Namun aku bingung. Sinaran aura kebahagiaan adik kandungku mengubah semua sendi hidupnya. Roger telah berubah, jauh lebih baik dalam segala hal.
Dan aku juga melihat tanda-tanda keduanya juga berjodoh. Entah... aku juga bisa salah. Tapi keyakinanku lebih besar kalau mereka seperti ditakdirkan bersama.
Viona menelponku, Dzakki katanya kena musibah dan sedang dalam perjalanan ke Jakarta.
Dzakki butuh donor darah golongan O negatif.
Siang itu juga aku berjibaku mencoba mengedarkan pengumuman butuh donor darah golongan O negatif kesemua instansi karyawanku.
Ternyata golongan darah tersebut amatlah langka. Bahkan lumayan sulit mendapatkan meski ada sebagian kecil saja.
Herdilan menchatku. Katanya golongan darahnya adalah O negatif.
Aku shock. Tak berani memberi jawaban akan meminta donor darah darinya. Hanya bisa menelpon Roger kalau Herdilan memiliki golongan darah yang sama dengan Dzakki.
Kucoba memberinya masukan, agar Viona mau menerima Herdilan mendonorkan darahnya pada Dzakki. Ini keadaan darurat. Nyawa Dzakki taruhannya.
Dan seperti prediksiku, Viona mau tak mau akhirnya mengizinkan Roger menjemput Delan di rumahnya.
Keduanya meluncur dengan ditemani tante Tasya yang bersikukuh ikut serta.
Dzakki bisa diselamatkan berkat bantuan darah Herdilan, Ayah kandungnya sendiri.
Kulihat Herdilan juga sangat senang, karena akhirnya ia bisa memeluk dan mencium putranya setelah Viona membawa Dzakki turut serta pindah ke pulau Bali sebulan yang lalu.
Aku lihat, Viona sangat cemas. Dan Roger nampak tegang. Roger meminta Herdilan menalak Viona karena ia ingin segera meminang mantan istri pertama adik tirinya itu.
Tentu saja Herdilan terkejut, meski ia sudah tahu sebelumnya karena kedekatan batin antara Roger dan Dzakki yang tak terbantahkan.
"Hei...! Kamu pernah bilang,... kau belum menceraikan Viona! Bisakah kau lakukan itu sekarang?" kata Roger membuat Delan termangu.
"Ce-ceraikan Viona?" Herdilan tergagap.
"Secara hukum, kalian sudah bukan suami istri lagi. Apalagi kini Viona juga memegang surat cerai kalian secara resmi."
__ADS_1
Delan semakin gugup. Matanya tertuju menatapku. Seolah inginkan keikutsertaanku membantunya.
Tapi tidak. Maaf Herdilan! Itu urusanmu dengan Viona. Hanya kalian berdualah yang bisa menuntaskan permasalahan itu. Kapasitasku di sini hanyalah orang luar saja.
"Sebenarnya bagiku itu bukan masalah. Tapi bagi kakakku, kak Christian... itu adalah masalah yang besar. Sehingga aku kesulitan untuk menikahi Viona!"
"Me...me-nikahi Viona?"
Mata Delan membulat. Tak percaya pada apa yang Roger ucap. Namun memori ingatannya kembali kemasa dimana Roger terlihat begitu cekatan menyuapi Dzakki.
"Kami akan menikah, Delan!" tutur Viona dengan suara tegas.
Roger merangkul bahu Viona. Membuatku membatin dalam hati, berani juga anak ini kini memperlihatkan kesungguhan hatinya ingin meminang Viona sebagai istri.
"Dihadapan kak Chris, juga kamu. Aku Roger Gibran Suherman, akan segera menikahi Viona Yuliana. Dan Dzakki sudah memberi kami izin. Bahkan menunggu waktu itu tiba. Dzakki sudah antri meminta adik pada Allah Ta'ala!"
Sontak saja aku terkejut. Adik kandungku yang selama ini kusangka penakut dan tak punya keberanian lebih dalam menakhlukan wanita ternyata justru sangat gentlement dan luar biasa.
Kupikir, wanita mana yang tak'kan klepek-klepek mendengar ucapan kesungguhannya yang lugas dan tegas.
Viona tersenyum. Wajahnya bersemu merah mendengar penjelasan Roger tentang hubungan mereka dan kesungguhan hatinya.
"Kami saling mencintai. Dan kami berjanji akan selalu bersama, dalam suka maupun duka!"
Viona hanya diam. Menunduk dan sesekali mengangguk membenarkan ucapan Roger.
"Viona! Aku akan mentalakmu, tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?" tanya Roger tenang.
Aku hanya menjadi penengah saja. Cuma memantau pertemuan kedua adikku dengan mata serta fikiran yang fokus.
"Izinkan aku mengurus Dzakki selama seminggu, setelah Dzakki keluar dari rumah sakit! Aku akan mentalakmu sekarang juga. Bagaimana?"
Viona terlihat kesal. Kepalanya seperti nasi yang baru matang dalam rice cooker. Mengebulkan asap panas hendak mencaci maki Delan. Aku hanya diam mengamati perdebatan diantara mereka bertiga.
"Mengurus Dzakki?" tanya Roger berusaha tenang.
"Hhh... Kau tidak akan bisa mengurus putraku. Kau tidak akan bisa!" tukas Viona.
"Justru itu. Aku ingin mencoba merawatnya. Hanya seminggu saja. Setelah itu, aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian! Sumpah demi Tuhan! Dihadapan mas Chris, sebagai saksi."
Roger hanya bisa memandangi wajah Viona yang pucat pasi menahan amarah.
Perlahan kulihat aura wajah Viona merah menyala. Airmata menetes jatuh dipipi.
Apa yang Viona takutkan selama ini akhirnya datang juga. Herdilan benar-benar meminta haknya atas nama Dzakki Boy Julian.
Tangisan Viona meluluh-lantahkan hati Roger. Adik kandungku itu menggenggam jemari Viona yang basah dan dingin. Seperti sedang berusaha menetralisir perasaan hati Viona yang galau dengan kekuatannya.
Jujur akupun merasakan bimbang dan galau seandainya jadi Viona.
__ADS_1
Seperti buah simalakama.
"Dia sengaja mengambil kesempatan itu!" pekik Viona pada akhirnya.
Dan Roger tak bisa berkata apa-apa. Selain memeluk tubuh Viona dan berlalu pergi meninggalkan Delan juga aku.
Hhh...
Aku bersyukur, adikku itu tidak dalam posisi panas hati.
Usia dewasanya yang sudah 31 mau 32 tahun rupanya membuat Roger makin bijaksana. Alhamdulillah.
"Kenapa kau meminta perjanjian yang sekejam itu, Herdilan?" tanyaku ketika hanya kami berdua saja.
Sejujurnya aku sudah tahu. Herdilan pasti akan meminta kesepakatan dengan Viona. Namun, kuacungi jempol juga karena keberanian Herdilan yang langsung to the point memanfaatkan momen pertemuannya dengan Dzakki atas dasar balas budi.
Otak mafia! Umpat hatiku dengan senyum tipis.
"Mas...! Aku ingin sekali merasakan mengurus dan merawat putra kandungku sendiri, seminggu saja. Hanya seminggu, Mas! Aku hanya minta waktu satu minggu untuk me time ku pada Dzakki. Apa permintaanku terlalu berlebihan?"
"Tidak. Cuma..., dengan meminta waktu satu minggu apakah akan membuatmu terpuaskan bersama Dzakki? Kau fikir mengurus anak segampang itu?"
"Justru itu, Mas! Izinkan aku menjaga Dzakki seminggu saja. Aku akan mengikhlaskan Viona bahagia bersama Roger."
"Ternyata sedangkal itu cintamu pada Viona, Delan! Kukira cintamu dalam padanya, ternyata sangat picik! Pantas saja Viona tidak ingin melihatmu lagi selama ini. Kamu..., bukanlah pribadi yang baik dalam menjunjung tinggi komitmen hubungan!"
"Mas...! Bukan begitu, Mas!"
"Rubahlah sifat burukmu itu. Jika tidak, kau akan sendirian selama hidupmu! Kalaupun ada yang mau bersamamu, waktunya hanya seumur jagung saja. Kau memiliki tabiat yang kurang bagus!"
Aku melangkah pergi. Meninggalkan Herdilan yang terpaku sendirian.
Tapi tiba-tiba ada satu perasaan lain dihatiku. Dan aku tersadar, kenapa Herdilan ngotot mengambil jalan itu.
Oke! Kini aku tahu maksudmu, Lan! Semangatlah! Aku mensupportmu, jika itu untuk kebaikan kalian semua. Tuhan Maha Baik! Tuhan Maha Tahu isi hati setiap hamba-Nya. Dan aku percaya, Tuhan merestui semua langkah kebaikan semua umat-Nya.
"Mas...!"
"Kumohon waktumu dan mbak Mutia, untuk esok hari pukul sembilan pagi. Menjadi saksi jatuh talakku pada Viona! Dan mas Riger bisa segera menikahi Viona!"
Aku tersenyum mengerti. Tatapan Herdilan penuh arti. Hanya anggukanku dan tepukan tangan ini dibahunya yang lebar.
"Terima kasih Herdilan!" tuturku singkat.
"Akulah yang seharusnya mengucapkan banyak terima kasih pada Mas!" tukasnya.
Aku pamit pulang pada tante Tasya. Tak lama kulihat Viona dan Roger telah kembali masuk ke ruangan Dzakki setelah beberapa belas menit pergi meninggalkan perbincangan kami yang cukup panas.
Viona, Roger... semoga kalian bahagia. Semoga Dzakki juga bahagia. Aku bisa tenang kini. Dan kuharap, Papa dan Mama juga tenang diharibaan-Nya. Aamiin...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1