
Aku, merasakan seperti ada yang salah pada keluargaku.
Aura rumah tinggal kami yang megah warnanya perlahan gelap dan suram. Aura wajah-wajah penghuninya termasuk auraku sendiri, tampak seperti mendung tertutup awan gelap.
Perasaan ini menjadi tidak tenang setiap harinya. Bahkan sampai mengganggu hubungan percintaanku dan adik-adikku juga.
Apakah..., ini adalah suatu pertukaran yang menjadi konsekuensi dari seringnya Papa berhubungan dengan hal gaib dan mistis?
Entahlah. Aku hanyalah manusia biasa. Bukan paranormal apalagi dukun. Yang meskipun memiliki six sence namun bukan berarti bisa melihat dan mengetahui semua rencana Tuhan kedepan.
Tidak. Aku tidak mau jadi orang musrik. Dengan sok tahu dan sok pintar mendahului Kehebatan serta Kebesaran Allah Ta'ala.
Yang pasti aku benar-benar melihat aura keluargaku seperti sedang berada di garis merah kehidupan. Entah. Itu yang kurasa.
Hingga Papa... menceritakan kalau ia telah melakukan poligami tanpa sepengetahuan Mama. Semua dilakukan agar hidup kami semua nyaman, aman dan tentram. Itu versi Papa.
Tentu saja berbeda dengan versiku.
Aku marah. Aku katakan, pantas saja aura rumah kita ini semakin gelap dan seperti sulit bernafas untuk semua penghuninya termasuk aku.
Tapi Papa adalah seorang orator pandai. Yang akhirnya mampu menenangkanku dengan segala jurusnya. Mendalihkan biaya sekolahku, sekolah Roger serta Fika sangat besar dan Papa juga memikirkan masa depan kami bertiga. Begitu katanya.
Aku tak habis fikir. Apakah poligami bisa semakin mengangkat perekonomian dan usaha Papa? Bullshiiit! Nonsens!
Poligami justru membuat para pelakunya menjadi kere'. Karena harus berbagi satu dengan yang lainnya. Juga harus adil dalam segala hal.
Begitu bukan aturan yang sudah Tuhan tetapkan?
Tuhan tidak pernah salah dalam membuat keputusan. Tidak.
Hanya manusianya lah yang selalu berfikir kebalikannya. Merasa bahwa melakukan poligami adalah boleh, jika hal itu memungkinkan. Maka mereka berbondong-bondong melakukan itu. Ck ck ck...
Tidak mereka sadari, bahwa setiap tindakan mengandung resiko. Dan setiap perbuatan ada balasan.
Meski dalam Islam, karma itu tidak ada. Namun setiap perbuatan sekecil apapun itu, pasti akan dapat balasan. Baik perbuatan itu benar ataupun perbuatan yang menyalahi aturan.
Intinya, siapa yang menabur benih. Dia pula yang menuai hasil.
Untuk itu, berbuatlah banyak kebaikan. Maka kaupun akan mendapat banyak keberkahan.
Hhh...
Papaku telah salah melangkah.
Obsesinya menjadi orang yang disegani memang perlahan jadi kenyataan.
Beliau menduduki kursi basah di parlemen pemerintahan, bahkan untuk beberapa dekade. Lumayan sukses karier politiknya.
__ADS_1
Untuk urusan bisnis pun Papa semakin jago dan handal. Meski perlahan kutahu, Papa kadang lupa ingatan serta agak gragas main hantam kromo tanpa pikir panjang.
Aku hanya harap-harap cemas. Takut suatu saat Papa akan dihukum Tuhan.
Kucoba bicara baik-baik dengan Papa. Tapi masih tak mempan. Aku merasakan dada ini semakin sesak melihat aura yang terus berubah makin gelap warnanya.
Ingin sekali aku mendiskusikan ini pada Omku, Jonathan Lordess.
Namun ternyata, Om telah terperangkap tipu daya Papa dan istri keduanya. Bahkan Om Lordess sangat menyayangi putra mahkota mereka yang semakin besar. Aku tahu, istri kedua Papa adalah tanteku sendiri. Karena memang Papa sendiri yang cerita.
Diam-diam aku sering melihat keluarga kecil Papa dengan tante Tasya. Mereka berlimpah materi dan kasih sayang.
Hingga putranya itu memiliki tabiat kurang baik dan ternyata dibenci teman dari golongannya sendiri. Sampai wajahnya hancur terpaksa dioperasi di Korea Selatan.
Aku tahu semuanya. Tapi aku hanya bisa melihat dan menyimak saja. Tak bisa berbuat apa-apa.
Mama sepertinya sudah tahu akan kelakuan Papa dibelakang layar. Tapi Mama bungkam. Seperti membenarkan dan mendiamkan langkah Papa yang semakin jauh.
Hubungan keluarga kami adem. Bahkan anyep alias hambar tak ada rasa.
Aku sendiri, memiliki problematika percintaan yang tak kalah terseok-seok.
Putus dari Bella, aku memulai usahaku sendiri sebagai pendiri trading marketing yang saat itu sedang booming.
Tentu saja bukan usaha ilegal dan menyalahi aturan seperti perjudian atau akun bodong yang sedang marak saat ini. Usahaku murni sebagai makelar jasa. Ada perusahaannya, jelas. Meskipun modal awalnya separuh dari Papa.
Perusahaan yang kubangun sendiri tanpa campur tangan Papa membuahkan hasil. Bisnisku maju, tapi tidak pada percintaanku.
Beberapa kali merajut kasih, tapi selalu kandas ditengah jalan. Hingga suatu ketika,...
Disaat malam pesta perusahaanku, seorang gadis terlihat dalam keadaan tak berdaya diantara dua pria. Dan sepertinya... ini bukan suatu keadaan yang biasa.
Aura gelap merebak disekitar wajah pria-pria berfikir kotor itu. Dan aura warna-warni yang menyenangkan justru terpancar dari wajah sang gadis yang terlihat teler.
Aku penasaran. Mengikuti mereka diam-diam hingga kamar hotel yang mereka sewa.
Sang gadis yang tampak tak sadarkan diri dipanggul dua pria mencurigakan masuk kedalam kamar. Aku menerobos masuk. Menanyakan siapa gadis itu dan kenapa ada bersama mereka dibawa kesebuah kamar.
Rupanya seperti dugaanku. Gadis itu diculik dan dicekoki sesuatu hingga pingsan.
Kuhajar mereka satu persatu tanpa perlu basa-basi lagi. Ternyata hanyalah tikus sawah yang mau berbuat nakal tanpa punya pertahanan kuat.
Mereka lari tunggang langgang. Meninggalkanku dan gadis mabuk itu sendirian di kamar hotel yang telah mereka sewa.
Kaget sekali aku. Tiba-tiba gadis itu bangun dan... membuka seluruh pakaiannya dengan tanpa malu-malu.
Rupanya pengaruh obat perangs*ng yang cukup kuat mengubah gadis itu menjadi binal.
__ADS_1
Dia menarik tanganku masuk ke atas ranjang.
Menangis dan meminta tolong padaku untuk dibel*i. Hhh...
Jakunku tentu saja turun naik. Hasr*t naluri kelelakianku pun timbul perlahan. Terlebih, gadis ini cantik sekali. Tubuhnya molek. Kuning langsat dan mulus tanpa cacat.
Tuhan menciptakannya dengan begitu sempurna.
Aku... tentu saja berusaha menjaga kewarasanku. Aku ingat, aku punya adik perempuan. Bagaimana kalau seandainya itu terjadi pada Fika. Dan... haish!
Perempuan ini terus menerus mengelus tubuhku. Dari atas rambut hingga pangkal paha dan...
"Mas... Tolong aku! Mas... Kenapa rasanya panas tak karuan begini?"
Begitu tuturnya membuat suhu badanku meninggi.
Kubawa ia ke kamar mandi. Berusaha menetralisasikan hawa panas di tubuhnya dengan guyuran shower.
Ternyata aku terpeleset masuk bathtub. Lalu kami basah bersama di bawah kucuran air dingin yang membuatku menggigil.
Bibir gadis itu begitu s*ksi. Membuat jemari ini tanpa sadar membelai dan menciumnya. Lagi dan lagi. Merasa terbuai oleh kenikmatan sesaat.
Aku dan gadis itu... akhirnya melakukan tindakan yang diluar batas. Hingga penyesalan yang datang di penghujung kejadian.
Malam itu kulihat gadis itu begitu nyenyak tertidur. Setelah aku berjibaku sendiri mengeringkan pakaiannya juga pakaianku sendiri.
Hhh...
Bagaimana ini? Aku... telah melakukan kesalahan besar yang fatal. Hhh...
Aku berjanji, akan menunggunya hingga sadar dan juga mau bertanggung jawab pada apa yang telah kulakukan padanya.
Ternyata...
Realita tak seindah espektasi.
Dia marah besar. Memakiku sebagai lelaki bangs*t. Dia berdalih, aku sama saja seperti dua pria yang menculiknya.
Aku seperti anjing katanya.
Aku tak marah. Tak bisa marah. Karena aku salah.
Hanya bisa diam dan menunduk. Mendengar gadis itu mencaci maki bahkan sampai meludahi wajahku.
Dia pergi tanpa kutahu siapa namanya, alamat rumahnya, serta pekerjaannya. Yang kutahu gadis itu adalah salah satu pengisi acara dipestaku tadi sore. Itu saja. Dan kurasa, ia juga mengenaliku sebagai CEO di perusahaan yang tadi sore mengadakan pesta di aula hotel bintang lima ini.
Itulah awal hubunganku dengan Mutia Permata Melody.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...