
Mereka pulang ke Ibukota dengan hati senang setelah puas berlibur di Puncas Pass.
Keesokan hari semua kembali pada kegiatan semula.
Anak-anak masuk sekolah. Fika kembali ke Singapura, dokter Diandra sudah bertugas lagi di RSJ. Demikian pula Cristian.
Yang berbeda hanyalah pasangan pengantin baru. Viona dan Roger. Keduanya masih menikmati hari pengantin baru. Roger pun belum lagi melakukan aktifitas kegiatan bekerja setelah habis kontrak kerja di Surabaya.
"Yang,"
"Hm?"
"Rugi gak, nikah sama pengangguran?"
"Aih? Apaan sih, Mas? Ngomongmu koq gitu, ish?"
"Aku belum ada tawaran kerja lagi nih!"
Viona hanya tersenyum menatap wajah tampan sang suami.
"Mas...! Aku yakin koq, rezekimu bakalan tambah besar. Soalnya, ada tambahan tanggungan yang kamu miliki sekarang. Ada aku, juga Dzakki. InshaaAllah, esok atau lusa pasti akan ada kerjaan."
Roger menatap dalam bola mata Viona. Ia terharu, istrinya berkata-kata yang menyejukkan hatinya.
Secara Roger sadar, uang itu hal yang penting dalam segalanya. Terlebih dalam sebuah rumah tangga.
Banyak rekan seprofesinya yang sudah menikah, curhat cekcok rumah tangga karena ekonomi yang tidak bisa disesuaikan.
Kebutuhan hidup yang mendesak dan wajib. Terlebih untuk mereka yang memiliki tanggungan anak banyak. Biaya hidup mereka, sekolah yang pastinya butuh banyak pengeluaran. Belum lagi untuk makan sehari-hari. Menjadi keributan yang lumrah terjadi pada pasangan suami istri.
Tak jarang dari mereka sampai putus asa dan tak sanggup bertahan sehingga berani mengambil keputusan yang menyedihkan. Dengan pilihan divorce alias perceraian.
Treeet... treeet... treeet
"Ya hallo! Betul, dengan saya sendiri!? Iya? Dari instansi dinas pendidikan pusat? Oh... oiya, saya memang belum cek email beberapa hari ini. Oh? Oh terima kasih banyak, Pak atas pemberitahuannya. Saya akan segera meresponnya. Ya. Ya! Baik! Terima kasih informasinya. Terimakasih. Waalaikumsalam..."
Roger berbincang di handponenya dengan mata berbinar ke arah sang istri.
"Viona!!!"
Viona yang hanya melongo menatap wajah Roger bertanya perihal kabar baik yang datang pada sang suami.
__ADS_1
"Doamu langsung dikabul Allah!!!" pekik Roger sembari memeluk Viona.
Tentu saja wanita yang kini berumur 32 tahun itu tersenyum lebar. Bahagia sekali.
Keduanya berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Ada apa, Boss? Apa... Viona sudah isi?" tanya Kenken langsung kena pukul Roger dibahunya dengan candaan.
"Suwe! Ngomongnya ngasal bet lu, Ken! Baru nabur kemaren masa' langsung isi. Dikira bikin lontong isi, apa?! Ish..."
"Ya Tuhan, kak Ken! Parah ah candanya!"
"Hehehe... maaf, boss, maaf! Aku asal jeplak ya ngomongnya?!"
"Lain kali janganlah canda gitu! Takutnya didengar Dzakki! Ish..." protes Viona agak sebal.
"Maaf ya, Vi! Iya, Ken khilaf...Asal ngomong gitu!"
"Berarti dia nih yang gituan dulu ya ke Tini?!?"
Pernyataan Roger rupanya membuat matang wajah Kenken. Ia benar-benar malu pada pertanyaan lugas yang menyelidik pada sang boss. Sehingga tangannya langsung meraih jemari Roger. Langsung cium tangan dan merunduk malu.
Roger menjewer telinga sang asistennya yang bandel.
"Hehehe... Syukur alhamdulillah!"
Mereka bertiga tersenyum gembira.
"Assalamualaikuuum..."
Suara salam yang kompak terdengar seperti dari bibir Tini dan Dzakki.
"Alaikumsalam..."
Kami juga kompak menjawab.
Dzakki membuka pintu. Menghambur pada Vioma juga Roger.
"Mami, Ayah,... lihat nih... Dzakki dapat nilai bintang lima dari miss Senja!" cerita Dzakki dengan hebohnya.
"Waaah... hebatnya anak Ayah!"
__ADS_1
"Kereen...!"
Viona mengacungkan dua jempol pada sang putra.
Roger melihat dengan penuh perhatian pada buku yang Dzakki perlihatkan.
"Biasanya miss Senja kasih nilai hanya bintang tiga. Ini bintang lima. Katanya tulisan Dzakki semakin bagus!"
"Iya, betul!" Cup.
Roger mengecup pipi Dzakki. Ia bahagia melihat sang putra yang semakin pintar. Sangat bangga karena Roger lah yang mengurus Dzakki sedari bayi.
"Sebagai hadiah, Ayah mau ajak Dzakki sama Mami naik motor ke swalayan! Dzakki mau beli apa, bebas. Terserah!"
"Iya? Tapi... Jangan deh, Yah!"
"Lha? Kenapa, Sayang?"
Viona dan Roger melihat wajah Dzakki dengan tatapan heran.
"Dzakki tidak boleh terlalu gembira, Ayah! Tidak boleh langsung dikasih hadiah. Nanti Dzakki lupa diri, akhirnya lupa belajar. Jadi sombong. Pas besok sekolah nilainya turun jadi bintang tiga lagi."
"Yassalam... Hahaha! Ini anak pinter banget sih?!? Hm hm hm? Pinter banget anak Ayah ini!" Roger gemas, hingga menggendong Dzakki dengan hati meleleh.
"Anak Mami, Dzakki anak Mami juga, Ayah! Jangan monopoli sendiri!" protes Viona membuat Roger dan Dzakki tertawa terbahak-bahak.
"Iya, Mami! Dzakki juga anak Mami dong! Sini, sini!"
Cup, cup (Roger mengecup pipi istri dan anaknya, bergantian)
"Ga jadi dong nih, ke alfhamart?" tanya Roger.
"Jadi, Yah! Mami... mau beli pembalut. Sepertinya... Mami datang bulan deh!"
"Aih? Datang bulan? Ini masih siang, Mami! Bulan datangnya malam!" tutur Dzakki dengan sangat polos membuat Viona dan Roger kembali tertawa.
Kenken dan Tini yang kembali bergabung ikutan tertawa lepas.
Putra mahkota mereka memang sangat mengesankan. Cerdas, manis, serta menyenangkan hati semua orang.
Itulah Dzakki Boy Julian.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...