PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 224 IN FRAME "Tercetus Ide Perjanjian DiBenak Herdilan"


__ADS_3

Herdilan sangat kagum, pada ketampanan serta kecerdasan sang putra. Seperti mimpi baginya memiliki anak yang luar biasa seperti Dzakki.


Ia sangat bahagia. Dan senyum tak henti-henti tersungging dari bibirnya. Begitu pula Tasya. Ia tak mau beranjak dari sisi ranjang besi rawat inap Dzakki. Meski ada Viona, Roger, Christian serta Mutia disitu juga.


Viona berkali-kali menghela nafas pendek. Kesal dan dongkol, tapi tak bisa berbuat apa-apa.


Herdilan telah menyambung nyawa Dzakki dengan mendonorkan sebagian darahnya. Tak mungkin bagi Viona, untuk menyuruhnya pergi saat itu juga.


"Hari ini apa tidak pergi bekerja?" tanya Viona, kikuk. Ia hanya mencoba menyentil Delan saja.


"Aku sudah di D.O di TK Rinjani karena kasusku tempo hari yang menghancurkan hari bahagiamu, Viona!"


Roger tampak gatal ingin menghajar Delan kembali. Namun urung, mengingat Dzakki ysng sangat senang karena guru Andonya itu datang menjenguknya.


Roger hanya menunggu waktu Dzakki tidur dan beristirahat. Baru ia akan melakukan manuver pada musuh bebuyutannya itu.


...


...


...


Waktu yang ditunggu pun akhirnya datang juga.


Dzakki tertidur pulas setelah makan siang dan minum obat. Kini saatnya ia berbicara empat mata dengan saudara tirinya itu.


"Aku ikut!" Viona memaksa untuk ikut bersama mereka. Alhasil Roger menuruti kemauan Viona jua. Sementara Tasya Jessica menunggui Dzakki di kamarnya.


"Herdilan! Terima kasih kau sudah mendonorkan darahmu untuk putraku." Viona membuka pembicaraan. Tapi segera dihandle Roger.


"Aku justru senang, akhirnya aku merasa dibutuhkan!" jawab Delan membuat muak Viona. Tapi ditahan oleh Roger untuk bersabar.

__ADS_1


"Hei...! Kamu pernah bilang,... kau belum menceraikan Viona! Bisakah kau lakukan itu sekarang?" kata Roger membuat Delan termangu.


"Ce-ceraikan Viona?" Herdilan tergagap.


"Secara hukum, kalian sudah bukan suami istri lagi. Apalagi kini Viona juga memegang surat cerai kalian secara resmi."


Delan semakin gugup. Terlebih kini ada Christian juga diantara mereka.


Christian yang baru saja datang, ikut menatapnya. Seolah menunggu ucapan talaknya pada Viona.


"Sebenarnya bagiku itu bukan masalah. Tapi bagi kakakku, kak Christian... itu adalah masalah yang besar. Sehingga aku kesulitan untuk menikahi Viona!"


"Me...me-nikahi Viona?"


Mata Delan membulat. Tak percaya pada apa yang Roger ucap. Namun memori ingatannya kembali kemasa dimana Roger terlihat begitu cekatan menyuapi Dzakki.


"Kami akan menikah, Delan!" tutur Viona dengan suara tegas.



"Dihadapan kak Chris, juga kamu. Aku Roger Gibran Suherman, akan segera menikahi Viona Yuliana. Dan Dzakki sudah memberi kami izin. Bahkan menunggu waktu itu tiba. Dzakki sudah antri meminta adik pada Allah Ta'ala!"


Viona nyaris tersenyum. Wajahnya bersemu merah mendengar penjelasan Roger yang sangat lugas.


Bukan hanya Delan yang terkejut. Christian juga menampakkan wajah yang berbeda.


"Kami saling mencintai. Dan kami berjanji akan selalu bersama, dalam suka maupun duka!"


Viona hanya diam. Menunduk dan sesekali mengangguk membenarkan ucapan Roger.


"Viona! Aku akan mentalakmu, tapi dengan satu syarat."

__ADS_1


"Kenapa harus ada syarat?" protes Viona tapi segera ditenangkan Roger.


"Apa syaratnya?" tanya Roger tenang.


Christian hanya menjadi penengah saja. Cuma memantau pertemuan kedua adiknya dengan mata fokus pada keduanya.


"Izinkan aku mengurus Dzakki selama seminggu, setelah Dzakki keluar dari rumah sakit! Aku akan mentalakmu sekarang juga. Bagaimana?"


Viona kesal. Kepalanya seperti nasi yang baru matang dalam rice cooker. Mengebulkan asap panas hendak mencaci maki Delan.


"Mengurus Dzakki?" tanya Roger berusaha tenang.


"Hhh... Kau tidak akan bisa mengurus putraku. Kau tidak akan bisa!" tukas Viona.


"Justru itu. Aku ingin mencoba merawatnya. Hanya seminggu saja. Setelah itu, aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian! Sumpah demi Tuhan! Dihadapan mas Chris, sebagai saksi."


Roger hanya bisa memandangi wajah Viona yang pucat pasi menahan amarah.


Apa yang Viona takutkan selama ini akhirnya datang juga. Herdilan benar-benar meminta haknya atas nama Dzakki Boy Julian.


Tangisan Viona meluluhlantahkan hati Roger. Digenggamnya jemari Viona yang basah dan dingin. Berusaha menetralisir perasaan hati Viona yang galau dengan kekuatannya.


"Dia sengaja mengambil kesempatan itu!" pekik Viona pada akhirnya.


Dan Roger tak bisa berkata apa-apa. Selain memeluk tubuh Viona dan berlalu pergi meninggalkan Delan serta Christian.



Sedih hati Delan. Kini Viona... hanya akan tinggal kenangan. Ternyata, adik tirinya lebih mencintai Viona.


Hhh...

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2