
Kak Jo mengelus pipiku.
"Bangun Putri Tidur!" katanya berbisik halus.
Bangun? Bangun? Ini... jam berapa?
Aku menggeliat. Menguap sesaat. Menatap mata indahnya yang berbinar.
"Jam berapa, Kak?" tanyaku dengan suara parau.
"Jam enam, Viona!"
"Jam enam? Jam enam pagi? Kapan Vio tidur semalam?"
"Hahaha... kamu ini ck ck ck! Sejak usia kandungan delapan bulan, aku terbiasa dikac*ngin! Ngobrol seru tahunya malah ditinggal tidur. Selalu begitu!"
"I iya kah?"
Aku terperanjat. Bangun dari tidurku dan tersenyum malu melihat wajah segar kak Jo yang baru keluar dari kamar mandi.
"Jadi gak kita jalan-jalan? Kata Lena, ibu hamil besar harus sering di ajak jalan kaki!"
"Iya. Kak Firman pernah bilang gitu waktu..." aku langsung terdiam mengingat kak Firman.
Kak Jo hanya termenung. Juga diam tak lagi bicara.
"Kakak..."
"Ada apa?"
"Maaf!"
"Maaf untuk apa?"
Aku merasa sakit di ulu hati. Perkataanku sepertinya menyakiti. Ada kontak batin yang kurasa pada kak Jo kini.
Kudekati wajahnya. Meraih jemarinya ke pipi ini.
"Maaf kalau tingkahku yang kekanakan! Yang kadang membuat kakak sedih juga kesal!"
Kak Jo kembali menatap mataku. Kini bibirnya merekah meski tak berkata-kata. Namun telapak tangannya mengelus rambutku pelan.
"Ayo, bangun...! Sarapan sudah menunggu!" katanya kemudian.
...........
Hari yang indah. Cuacanya juga cerah.
Kami pergi ke taman sekitaran kompleks perumahan. Berjalan santai sambil melihat pemandangan sekitar. Rasanya ternyata menyenangkan.
"Kak Chris tinggal dimana, Kak?" tanyaku padanya.
"Dia di Harmony, bersama istri dan kedua anaknya."
"Pasangan yang bahagia ya?"
__ADS_1
"Entahlah! Chris dan Roger adalah orang yang tertutup sejak kecil. Mereka kurang dekat denganku selain Fika, dan si Delan kuny*k tentunya!"
Aku meraih jemari kak Jo. Menggenggamnya erat.
"Aku sadar. Biar bagaimana pun Herdilan itu keponakanku juga! Kudengar juga... Tasya kena guncangan hebat jiwanya! Dia sakit. Gangguan mental!"
Mama Tasya kena gangguan mental?
"Kakak tahu darimana?"
"Dari Christian. Herdilan mendatangi rumahnya dan meminta Chris menarik tuntutan pada Tasya Jessica karena kondisi kejiwaannya sebelum sidang dimulai."
Aku termangu.
Betapa hebatnya kekuasaan Tuhan. Dan Tuhan membuktikan itu.
Mama Tasya yang selama ini cuek, selalu merasa diatas angin meski bertahun bahkan puluhan tahun mengira perbuatan jahatnya akan aman saja. Ternyata tidak.
Akhirnya... ia mendapatkan semua karma.
Tuhan Tidak Tidur. Tuhan Tidak Diam.
Apapun itu perbuatanmu, baik buruk, Tuhan telah menetapkan balasan. Meski sebesar jarrah sekalipun.
"Herdilan kalah kena gugatan istri sirinya!"
"Dia bangkrut sekarang! Satu persatu pihak pengadilan mengambil sebagai barang sitaan. Bahkan PH Tasya sekarang sedang jadi rebutan beberapa pemegang saham yang tak lain adalah teman se-partai mas Bams!"
"Papa Bambang bagaimana kabarnya?"
"Hancur dia! Sidangnya belum dijadwalkan. Tapi... semoga dia sadar pada semua kelakuan buruknya."
Kak Jo menjentikkan jemarinya ke hidungku.
"Kamu tahu? Walau hatiku sedih, keluargaku hancur...tapi aku bahagia! Kenapa?"
"Karena semua terbalaskan pada akhirnya!" jawabku membuatnya menggeleng.
"Karena aku bisa mengenalmu. Dan karena aku bisa memilikimu sebentar lagi!"
Deg.
"Kak Jo, kumohon jangan terlalu manis! Aku bisa kena penyakit gula, karena kamu sangat manis! Hehehe..."
Dia mencubit pipiku pelan. Bibirnya menyeringai lebar dan tawa renyah menggema mengisi gendang telingaku dengan indahnya.
Haish... Lama-lama aku bisa jadi pujangga cinta karena kak Jonathan!
............
Siang bergulir dengan indahnya. Kami benar-benar memanfaatkan waktu yang ada.
Makan siang di resto sekitar taman, lalu kembali ke pusat kota cuci mata. Mall akhirnya jadi tempat kami jalan-jalan tanpa tujuan. Masuk ke time zone, bermain layaknya abege usia belasan yang baru belajar pacaran. Rasanya, sungguh menyenangkan.
Hingga di pukul tiga sore. Kak Jo memintaku mengganti pakaian yang dibeli di salah satu toko dalam mall.
__ADS_1
"Cantik!"
"Dilihat dari sisi manapun tetap saja gendut!" gerutuku tidak puas dengan penampilan sendiri.
Kak Jo tertawa.
"Kamu tahu tidak? Sebagian laki-laki itu sangat menyukai perempuan yang sedang hamil!"
"Iyakah? Bohong banget! Paling untuk dibully, dikata-katai!"
"Hei, Nona! Kalau kamu tak percaya, kenapa tak buat polling pada sepuluh orang pria usia 25-45 tahunan. Perempuan hamil itu auranya luar biasa!"
"Aura kasih, iya...luar biasa! Kalo Vi, aura auran!"
Tawa kak Jo membahagiakan hati ini. Tak peduli panas yang terik. Tak peduli keadaan negara yang sedang paceklik. Tak peduli ekonomi masyarakat begitu sulit. Bersama kekasih hati, semua terasa indah. Dunia milik berdua.
"Aih? Kita mau kemana, Kak?"
"Nonton konser, seperti permintaanmu kemarin!"
"Apa???"
Aku terkejut. Mobil yang dikendarai Kenken memasuki sebuah gedung teater Ibukota.
"Beneran?"
"Iyalah. Mana pernah aku bohongi Viona?"
Ternyata benar-benar menonton pertunjukan konser musik salah satu artis terkenal di Ibukota. Yang lagu-lagunya selalu fenomenal, booming dan laris setiap kali singlenya keluar di pasaran. Konser tunggal penyanyi yang nama aslinya adalah Muhammad Tulus Rusydi. Yang juga diramaikan oleh artis pendukung kenamaan lainnya seperti Yovie and Nuno dan Andmesh Kamaleng.
"Kakak... ini beneran?"
"Ya beneran. Masa' bohongan!"
Mataku membulat tak percaya. Seperti mimpi rasanya. Berada di tengah-tengah suatu acara live music.
"Waktu pertama kali. Kulihat dirimu hadir. Rasa hati ini inginkan dirimu... Hati tenang mendengar. Suara indah menyapa, geloranya hati ini tak kusangka..."
Aku memekik senang.
"Andmesh..."
Semua audiens bersorak. Bertepuk tangan menyukai lagu hits yang tengah dibawakan sang penyanyi dengan merdunya.
Kami semua ikut bernyanyi bersama. Sampai bergemuruh seluruh ruangan konser tertutup itu. Membuat mataku berkaca-kaca bahagia.
"Terimalah lagu ini, dari orang biasa. Tapi cintaku padamu, luar biasa. Aku tak punya bunga. Aku tak punya harta. Yang kupunya hanyalah hati yang setia, tulus padamu..."
"Aaaah... Kakaaak! Sukaaa!!!"
Aku berjingkrak. Lupa pada kondisiku yang tengah hamil besar. Membuat kak Jo memegang perutku seketika seraya berkata, "Hati-hati bayi dalam kandunganmu, Viona!"
Aku tertawa malu.
__ADS_1
Kakak... Terima kasih. Untuk semua yang kau beri padaku. Juga pada calon bayiku. Terima kasih banyak!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...