PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 7 Rutinitas Keseharianku


__ADS_3

Delan mengabari Ayahku kembali. Lady Navisha baik-baik saja, katanya.


Berarti, kekhawatiranku pada Lady terlalu berlebihan. Begitu kata Ayah.


Kuakui. Aku memang sudah kadung berteman dengan Lady Navisha. Dan aku bukanlah orang yang asal dalam pertemanan. Baik buruk temanku, harus kuterima dengan lapang dada.


Bahkan ketika teman sedang salah langkah dan berada di jalan yang berbahaya, wajib bagiku mengingatkannya. Itu arti pertemanan tulus tanpa embel-embel balas budi, menurutku.


Hhh...


Untuk menenangkan hatiku soal Lady, akhirnya kuputuskan mengiriminya chat agar ia membalas chattanku ketika hapenya aktif. Yang menandakan kalau ia dalam keadaan baik-baik saja. Tidak pingsan apalagi terluka.


............


Esok hari kembali aku ke kampus. Ada kelas akuntansi yang harus kuikuti.


Dan seperti biasa,... Ira juga Delan menyambutku di depan pintu ruangan kelas.


"Eh Vi,... gimana keadaan lo?" tanya Ira seraya menarik lengan atasku.


Aku memberinya kode lewat gerak tubuh, bahwa aku baik-baik saja. Begitulah aku. Selalu menjawab dengan gerakan jika sedang malas bicara.

__ADS_1


Terlebih saat ini aku sedang sebal dengan sosok yang bernama Herdilan Firlando yang ada di samping Ira itu.


Yang menambah kesalku, yaitu justru tingkah Delan yang seolah cuek dan biasa saja padaku. Tak ada ucapan maaf, meluncur dari bibirnya untukku.


Tapi... apakah perlu ia minta maaf padaku? Bingung juga aku.


Setelah kufikir-fikir... justru aku seperti memiliki ganjalan. Tapi apa itu?


Ya Tuhan...! Aku lupa! Harusnya aku mengucapkan terima kasih karena Delan telah menolongku yang jatuh pingsan di malam kemarin.


O my God! I forgot what happened last night!


Aku menunduk. Mencari kata-kata yang pas agar bisa kuucapkan segera dihadapan Delan.


"Terima kasih sama siapa, Vi? Sama gue kah? Emang kenapa waktu malam itu? Ayah lo ga marah karena lo terlambat pulang khan?"


Ternyata si Delan bukan cowok ember! Hiks... Kukira Ira telah tahu segalanya. Juga tentang ayahku yang kini meminta Delan jadi mata-matanya mengintai semua kegiatanku!


Aku tersenyum kecut. Lalu mengangguk pada Ira. Aku juga mencolek lengan Delan. Dan Delan menggangguk mengerti arti colekanku.


"Lady ga ada kelas ya, hari ini?" tanyaku pada Delan. Cowok itu hanya diam membisu. Tak tertarik menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


Kuakui, aku memang kurang respek berteman dengan Delan. Selain orangnya tak menarik, Delan juga lemot ketika kuajak bicara.


Entah apa karena dia kecewa, yang di awal pertemanan kami responku kurang baik padanya. Entahlah!


Lady beberapa hari tak terlihat di kampus. Meski aku cukup puas karena gadis itu menelponku langsung hingga terdengar tawa jahilnya. Dan ia mengatakan sedang liburan bersama teman barunya yang seorang eksekutif muda ke kota Gudeg.


Hhh... Dasar kau Lady Navisha! Aku sampai bengek nungguin kabar darimu. Khawatir dengan keadaanmu karena meminum minuman yang sama di malam itu. Tapi nyatanya, keadaanmu baik-baik saja. Justru terkesan cuek dan tak balik menanyakan kondisiku yang pingsan dan Delan telah memberitahukannya.


Aku hanya bisa menghela nafas pendek saja. Begitulah sifat dan sikap Lady, teman satu SMU dan kini juga teman sekampusku.


Hari berjalan kembali seperti biasa.


Tugas kuliah dan juga kehidupanku kembali normal seperti biasa. Begitu juga dengan Ira serta Delan. Keduanya semakin sibuk dengan urusan kepengurusan HIMA jurusan kami.


Lady, yang berbeda kelas denganku meski masih satu jurusan juga semakin jarang menchat apalagi menyambangi kelasku.


Kami semua sibuk dengan urusan masing-masing.


Tanteku, adik kandungnya Ibu membuka sebuah gerai makanan yakni "Ayam Geprek Widia" di salah satu mall tak jauh dari kompleks perumahanku.


Otomatis kegiatan hari-hariku kini semakin bertambah sibuk. Kampus, tugas kuliah dan juga gerai 'Ayam Geprek' tante Widia yang kini berstatus janda beranak satu setelah om Heru suaminya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas lima bulan lalu.

__ADS_1


Aku anak tunggal, tapi aku dituntut untuk tidak manja juga kolokan. Begitulah, ibu dan ayah mendidikku dengan cukup keras walau segala kebutuhanku terpenuhi.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2