
Pagi-pagi sekali, Herdilan sudah berangkat kerja. Ia sengaja tidak membangunkan Rihana yang masih terlelap dalam tidurnya.
Hanya memo di atas meja makan dengan selembar uang nominal 50 ringgit untuk ongkos dan makan.
Herdilan juga menuliskan kalimat agar Rihana mencari tempat tinggal lain karena mereka tidak sepantasnya tinggal satu rumah. Ia meminta gadis itu menitipkan kunci rumahnya pada sekuriti apartemen di pos bawah.
...●●●●●●...
"Cik!"
"Hei, pagi-pagi lu udah nyamper gue, ***!"
"Suwe luh!"
Ciko tertawa keras mendapati lemparan bantal kursi rumahnya. Herdilan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa rumah Ciko.
"Parah lu!" gerutu Herdilan dengan suara kesal.
"Ada masalah apa? Rihana cantik khan? Dia juga single. Gadis pula. Dari nada bicaranya ia sedang stres berat menghadapi tekanan hidup. Hm..., kurasa dia cocok untukmu!"
"Cocok apa? Lu kira menjalin hubungan segampang itu? Cantik, cocok...langsung bungkus. Belanja apaan lu?" umpat Herdilan menimpali omongan Ciko.
"Tujuh tahun, Lan! Lu menduda sudah tujuh tahun! Sudah saatnya lu move on, bro! Setidaknya, buka hati lu untuk perempuan lain. Biar lu ngerasain lagi yang namanya bahagia!"
"Baru enam tahun lebih, Cik! Kamu fikir saat ini aku gak bahagia? Kamu kira saat ini hatiku sedang merana? Ga lah! Aku hidup tenteram sekarang. Tak punya tanggungan hidup besar yang memusingkan otakku! Enjoy and relax!"
"Emangnya kau mau seperti ini terus? Menduda sampai usia bangkotan?"
"Ya engga'lah!"
"Nha kapan waktunya kalo elu masih dingin ga mau membuka hati minimal memulai pertemanan dengan perempuan?!"
"Ya nanti! Saat ini belum waktunya. Fikiranku hanya berfokus pada Dzakki!"
"Dzakki sudah besar. Ada Mami dan Ayah yang mengurusnya. Dan kurasa anakmu itu bakalan senang lihat Papinya bahagia juga."
"Hhh...! Intinya, ga perlu lu jor-joran jodohin gue sama perempuan!"
"Lu mau sama laki-laki?!?"
"Hah? Anjriiiit!!!"
Bug.
__ADS_1
"Hahaha...! Nha lu tadi bilang ga mau gue jodohin sama perempuan!"
Ciko tertawa ngakak melihat bibir Herdilan yang mencucut tinggi. Sahabatnya itu sudah kadung nyaman dengan kesendiriannya.
"Kau tak kangen bercinta, Lan? Apa... punyamu itu udah ga bangun lagi? Atau... jangan-jangan lu suka beli jajanan pinggir jalan?"
"Woy!!! Lu pikir gue ga normal? Dan.. wey, lu udah pernah ONS sama Rihana ya?"
"Apaan?!? Ngomong apa itu anak? Haish... hahaha! Kalau sampai kabar ini didengar Mega, bisa habis nanti anuku dibabat! Kacau!"
"Hm. Makanya, jangan sembarangan menyuruh orang! Kena batunya baru kau nyaho!"
"Hhh... Aku hanya ingin kau melihat indahnya dunia. Aku, andaikan single sepertimu... Tak kan menunggu lama menduda! Banyak gadis cantik pastinya yang mau menikah denganmu. Tampangmu keren, wajahmu ganteng!"
"Tapi kantongku kosong!" sela Herdilan.
"Hahaha...! Uang bisa dicari bersama, khan!?! Apa... kau mau kuantar ke Mbah Dogol? Mandi kembang tengah malam? Atau Eyang Putri Kanti? Minta ditotok buka aura. Atau... ke Mak Erot? Dipijit biar perkasa dan tambah wah anumu. Hahaha..."
"Ck ck ck...! Pengalamanmu ternyata luar biasa ya, Cik!?"
"Hahaha...! Harus itu! Buka matamu lebar-lebar. Ini dunia, bro! Segala macam ada. Meskipun teknologi sudah canggih, tapi persaingan bisnis justru semakin sengit. Kau pikir, para manusia diluar sana hidupnya lurus-lurus saja?! Engga'! Dunia metafisika justru semakin mengikuti perkembangan seiring kemajuan otak manusia yang makin picik. Mereka ingin cepat kaya dengan instant. Alhasil, kerjasama dengan siluman jadi pilihan. Bahkan santet online bertebaran di mana-mana. Para dukun berganti nama menjadi paranormal yang justru membuka jati diri lewat iklan dan jual nama. Kau tahu, kini mencari orang pintar itu tak sesulit jaman dulu. Tinggal klik mbah Goggle, bertebaran alamat-alamat yang dicap orang pintar!"
"Haish! Obrolanmu berat, bro! Tak faham aku dunia model begitu! Realita sajalah! Serem dengar ceritamu. Apalagi santet-santetan! Mending kau beli bolu jadi saja kalau bikin bolu sendiri selalu santet!"
"Hahaha..."
"Ya lah. Aku cuma menjabarkan saja, Herdilan Firlando! Lagipula dosa besar hukumnya kau pergi ke dukun! Sholatmu tak kan diterima Allah Ta'ala selama 40 hari."
"Nah tuh, kau tahu. Mintalah semua hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Termasuk jodohku pastinya."
Ciko menyerah. Ternyata kedewasaan sang sahabat berkembang pesat. Sungguh membuatnya angkat topi. Kini ia tak kan lagi mengkhawatirkan hidup Herdilan kedepannya. Sang sahabat telah menemukan jati dirinya sendiri serta tujuan hidupnya.
Mungkin saat ini bukan mencari jodoh, prioritasnya. Tapi seorang anak laki-laki berumur enam tahun lebih fokusnya.
Ciko mengaku salah. Ternyata mengirim Rihana ke apartemen kontrakan Herdilan adalah tindakan yang salah.
"Tapi..., bagaimana Rihana menurutmu, Lan?"
"Maksudmu apa?"
"Ya penilaianmu lah!"
"Anaknya lumayan baik, sepertinya. Dan... tidak seliar penampilannya. Hehehe...! Tapi aku hanya bisa menganggap adik saja. Usianya dibawah adikku, malahan!"
__ADS_1
"Adik? Bukannya kau ni anak tunggal?"
"Aku punya tiga saudara tiri khan! Pernah kuceritakan dulu!"
"Oh iya... hehehe, lupa aku!"
Herdilan memang tidak menceritakan secara detil pada Ciko soal kisah hidupnya.
Meskipun Ciko dia anggap sahabat, tapi Delan enggan membeberkan aib keluarganya secara terang-terangan.
Bahkan perihal saudara tirinya yang kini adalah suami dari mantan istrinya pun tak berani Delan ceritakan pada Ciko.
Semua hanya rahasia baginya.
Ciko hanya tahu, kalau Delan anak tunggal dari mantan petinggi dengan sang Mama yang seorang artis jaman dulu yang berstatus istri muda saja.
Itu saja, yang lainnya... tak pernah Delan cerita. Ciko pasti tahu lewat media online soal kehancuran keluarganya. Juga perihal jatuh bangkrutnya klan Bambang Suherman dari tampuk kekuasaan.
Makanya Ciko mengajaknya ikut gabung di para pekerja seni dibawah naungan perusahaan kecil milik Ciko.
Mereka kini sedang kontrak kerja pada salah satu perusahaan besar di Kuala Lumpur. Sumbangsih mereka adalah mendedikasikan kemampuan dalam hal seni mendekor, menghias dinding pertokoan di sebagian project selama satu tahun.
...⛤⛤⛤...
Rihana terkejut. Ketika bangun tidur suasana apartemen Herdilan sepi tanpa kehadiran si penyewanya.
Ia hanya tertegun membaca memo yang ditinggalkan Herdilan beserta selembar uang 50 Ringgit Malaysia.
Rihana kembali membuka ponselnya.
Chat balasan Ciko telah masuk. Kabar menggembirakan akhirnya.
Ternyata pihak kampus mengiriminya email juga. Intinya mereka meminta maaf atas kesalahfahaman yang terjadi.
Bahkan sang rektor memberinya diskon satu semester bebas biaya karena salah memvonis orang.
Sontak Rihana bersorak. Akhirnya ia bisa kembali ke asrama putri kampus lagi. Dan juga dibebaskan biaya semesteran selama 6 bulan.
Senang hatinya, dirinya juga tak harus pusing cari uang untuk biaya semesteran selama 6 bulan meski Ayah Ibu tak mengirimi.
Untuk enam bulan ke depan ia cukup aman soal finansial kuliah. Hanya perlu memikirkan biaya hidup sehari-hari. Dan otak Rihana kembali berputar mencari jalan keluar.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1