
Besok adalah hari wisuda Viona. Pastinya adalah hari yang istimewa bagi keluarga besar mereka.
Tante Widya, Om Tama, Christian dan Mutia telah mendapatkan undangan dari Roger secara terselubung via telepon.
Roger ingin memberikan kejutan pada Viona. Perempuan aneh, lemah tapi sok kuat yang telah merampok seluruh isi hatinya tanpa tersisa.
Pesta sengaja dibuatnya setelah pulang dari acara graduation pemindahan tali toga wisuda Viona di rumah mendiang Jonathan Lordess.
Ia sudah beberapa hari ini menyusun rencana pesta itu bersama Tini dan Kenken.
Di tempat lain, Herdilan juga ternyata dalam keadaan gembira karena sang Mama sudah sembuh dan diizinkan pulang ke rumah.
Tentu saja hari ini adalah hari yang istimewa baginya.
Pukul sebelas setelah selesai mengajar di TK, ia langsung menuju RSJ untuk menjemput sang Mama yang sudah lima tahun tak pernah keluar dari gedung putih tempatnya dirawat itu.
Tasya Jessica kini telah berhijab. Dengan gamis dan hijab khimar, perempuan paruh baya itu terlihat sangat berbeda. Sehingga para nakes nyaris tak lagi mengenalinya.
Semua perawat termasuk dokter Diandra turut bahagia melihat salah satu pasiennya kini telah sembuh total. Tasya dan Delan mengadakan syukuran kecil dengan membagikan nasi kotak kepada para pasien serta nakes dan para medis.
Terakhir kali mereka sholat dzuhur di mesjid kecil RSJ.
Tasya sujud syukur atas semua yang Tuhan beri kepadanya. Semua. Termasuk kesedihan dalam hidupnya yang kini ia sadari telah mendewasakan hatinya.
Dewasa bukanlah soal umur. Banyak orang berumur diatas 40 tahun tapi masih bersikap kekanakan. Kebalikannya, banyak anak remaja justru yang lebih dewasa pemikiran serta sikapnya dibandingkan umur mudanya.
Begitulah hidup. Semua adalah pilihan. Yang telah Tuhan sediakan dengan sangat murah hati-Nya. Tentunya untuk menjadi suatu perbandingan bagi umat-Nya.
..........
Dzakki yang hari itu pulang sekolah dijemput bi Tini dan Kenken, sangat senang karena diajak dulu pergi ke swalayan.
Tini dan Kenken mau sekalian jalan untuk belanja buah dan beberapa sayuran lagi untuk dimasak esok hari di pesta wisuda Viona.
"Wawa', Dzakki mau beli susu kotak!"
"Boleh, Dzakki ambil sama Wa' Ken ya? Wa' Tini masih di tempat buah sebentar. Nanti menyusul!"
Dzakki tersenyum menuntun jemari Kenken berjalan ke arah rak-rak bagian susu.
"Pak Guru Ando!"
Mata bocah itu sangat jernih penglihatannya. Ia melihat Herdilan dan Tasya yang juga mampir ke swalayan untuk belanja keperluan rumah mereka.
Putra Viona itu berlari ke arah Delan dengan semangat. Membuat Kenken kewalahan mengejarnya.
__ADS_1
"Dzakki jangan lari-lari, nanti jatuh!" teriak Ken.
"Pak Ando!"
"Eh, Dzakki? Sama siapa?" sapa Delan terkejut melihat sang murid ada di swalayan itu sendirian.
"Sama Wawa'!" katanya seraya menunjuk Kenken yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Eeeh, anak siapa ini? Manisnya!"
Tasya mengelus lembut pipi Dzakki, kedua mata mereka saling berpandangan. Kemudian Dzakki langsung mencium punggung tangan Tasya.
"Ya Allah, santunnya!" puji Tasya.
"Ini murid Delan, Ma! Mereka di sekolah biasa memanggilku pak Ando!"
"Siapa namamu, Anak Ganteng?"
"Dzakki Boy Julian, Oma!"
"Oma? Ya Allah... Delan...! Mama dipanggil Oma!"
"Oma Mamanya pak Guru ya?"
"Dzakki!"
"Ini guru Dzakki, Wa'!"
"Oh iya, saya Wa'nya Dzakki!"
Kenken, Tasya dan Herdilan saling berjabat tangan dengan saling tersenyum.
"Ayo Dzakki, Wa' Tini pasti menunggu kita!"
"Iya."
"Mari, Pak Guru...! Kami permisi!" pamit Kenken sambil menuntun Dzakki menjauh pergi.
Tini yang menunggu Kenken dan Dzakki di rak sayuran celingak-celinguk menengok kanan kiri.
"Kalian dari mana?" tegurnya dengan raut wajah masam.
"Dzakki ketemu gurunya. Tapi..., aku koq merasa pernah lihat wajah mereka dimana ya?" jawab Kenken membuat Tini penasaran.
__ADS_1
Ia langsung menoleh ke arah telunjuk Kenken.
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Kenken dijawab anggukan Tini.
"Dzakki, let's go home!"
"Let'go!"
Jam di tangan Kenken menunjukkan pukul satu lebih. Viona juga sudah menchatnya berkali-kali, menanyakan keberadaan mereka.
Perempuan itu memang agak sedikit menyebalkan kadang. Viona memiliki sifat yang overthinking. Yang kadang justru membuatnya sakit kepala sendiri memikul beban. Yang menurutnya sangat berat hingga lupa pada Kekuasaan Allah Ta'ala.
Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi kapasitas kemampuan umat-Nya. Semua butuh proses yang akan menjadi jawaban melalui pendewasaan pemikiran.
Bukan dengan terpuruk, terhempas, tenggelam hingga merasa dunia ini kiamat baginya.
Tapi begitulah. Kita akan mudah memberi nasehat pada orang lain ketika kita tidak berada di posisinya.
Entah bagaimana, jika kita sendiri yang menggantikan sosok teraniaya itu.
Karakter, kepribadian dan cara seseorang mengatasi masalahnya berbeda-beda.
Kenken sendiri yang kini telah berusia 32 tahun. Lebih tua dua tahun dari Viona.
Tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya. Sejak kecil hidup sebatang kara seperti ranting kayu yang terombang-ambing dilautan lepas.
Pertama kali bertemu Jonathan Lordess pada saat usianya 18 tahun. Saat itu justru dirinya menyelinap masuk ke rumah boss yang menjadi panutannya untuk mencuri.
Dia adalah pencuri amatir dari satu rumah ke rumah yang lain sedari usianya 16 tahun.
Jonathan memergokinya. Tapi tidak serta merta menghakiminya. Justru Jonathan memasak spagetti di malam pukul dua itu dengan tenang.
Menyuruh duduk di depan meja makan marmernya yang besar. Lalu ia memintaku menilai rasa spageti masakannya saat itu.
Kenken merasa sangat menyesal melihat kebaikan Jo. Setelah makan, Jo menanyakan keadaannya. Juga menanyakan alasannya mencuri.
Kenken menceritakan semuanya. Kesedihan dan kegetiran hidupnya yang seperti orang buangan.
Sejak saat itu Jo memintanya bekerja di rumah itu sebagai tukang kebun. Malam itu juga Kenken justru diserahkan puluhan kunci milik Jo termasuk kunci berangkasnya.
Entahlah. Tak mengerti lagi kenapa ada orang sebodoh itu. Justru mempercayakan semua miliknya pada orang yang hendak mencuri. Tidakkah ia takut kalau harta berharganya akan ia gondol semua tanpa tersisa.
Tapi jawabnya hanya sekalimat, Tuhan tak pernah lupa menciptakan segumpal hati pada umat-Nya di alam rahim.
__ADS_1
Kenken merasa itu adalah clue untuknya menjadi manusia yang sebenarnya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...