
Ternyata menikah bukan akhir yang bahagia juga. Menikah tidak semudah yang dibayangkan.
Herdilan kini semakin dalam cara berfikirnya. Dan terbayang jelas, masalah-masalah kedepan yang akan ia Kartika hadapi.
Masalah pekerjaan, ekonomi keuangan rumah tangga, masalah hubungan baik dengan pihak mertua, akhirnya semua seolah terpampang di depan mata.
Dulu ia menikah pertama kali dengan Viona, kedua orangtua merekalah yang menghandlenya.
Mulai urusan pesta pernikahan, sampai dengan mudahnya memboyong Viona untuk tinggal di istana sang Mama. Semua tampak begitu mudahnya. Dan Herdilan sama sekali tak pernah memikirkan keruwetan-keruwetan itu.
Bahkan ketika mereka mendapatkan rumah warisan dari Papa pun, tiada kendala. Viona tak pernah menanyakan nafkah lahir padanya. Bahkan sampai akhirnya mereka bercerai.
Sekeingatnya, Mama Tasya lah yang mengatur semua urusannya dengan Viona.
Lalu dengan Lady Navisha, ia juga tidak terlalu terbebani. Karena selain dirinya saat itu bergelimang harta dan memegang kendali keuangan perusahaan Mama, ia juga melihat Mama Tasya juga berkontribusi pada Lady dengan rajin mengiriminya hadiah berupa barang ataupun uang.
Kini..., baru ia mengetahui, menikah itu tidak mudah.
Butuh kekuatan mental, fisik serta finansial.
Dan pernikahan tidak seperti membolak-balikkan telapak tangan. Sim salabim dan akhirnya mereka bahagia selamanya.
Tidak semudah itu rupanya.
Hhh...
Herdilan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Fika menelponnya via Singapura. Saudara tirinya itu memberi kabar kalau baru akan terbang ke Jakarta hari Sabtu siang karena Dokter Diandra ada kepentingan mendesak dahulu.
Herdilan mengiyakan. Yang penting saudara perempuan satu-satunya itu bisa datang dan menghadiri hari besarnya minggu ini.
Christian juga menelponnya. Katanya Mutia menanyakan bunga apa yang mau ia gunakan di panggung pelaminan.
Herdilan hanya menjawab simple saja. Semua terserah Mbak Mutia dan Mas Chris. Dia manut ikut saja.
Selain tak faham urusan perbungaan, Herdilan juga tidak konek fikirannya karena masalah tempat tinggalnya nanti. Dan juga soal ibu mertuanya yang terlihat kurang nyaman dengan pekerjaannya yang jauh dari Ibukota.
Jika ia meninggalkan Kartika di Jakarta dan fokus dulu dengan usaha barunya bersama Fika, agak riskan juga.
Tapi ia juga tak bisa berhenti di tengah jalan dan setengah-setengah membangun perusahaan baru, setelah banyaknya uang sokongan dari Fika juga suaminya. Apalagi prediksinya, bengkel muralnya bakalan berkembang pesat jika ia geluti dengan serius dalam kurun waktu dua tiga tahun ini.
Karena dilihat dari prospek serta impacnya. Juga dari koneksivitas yang Fika berikan sebagai kontraktor leader mumpuni.
__ADS_1
Fika membuat namanya cepat dikenal. Dan konsumennya pun bukan orang-orang sembarangan.
.....
Hari Kamis, Keluarga Kartika semakin sibuk dengan aktivitas yang lazim dilakukan calon pengantin dan ibu hajat.
Acara siraman diteruskan dengan pengajian sungkeman berlangsung cukup khikmad serta lancar.
Kartika terlihat sangat cantik dengan gamis putih full brokat dan kerudung warna senada dilapisi layer bahan brokat juga. Terlihat sangat elegan.
Hari itu Kartika menawan para ibu-ibu pengajian dan bahkan dari beberapa ibu merasa menyesal karena terlambat mempersunting Kartika untuk putra mereka sedari dulu.
Cantik banget ya calon pengantinnya! Sangat anggun dan begitu elegan. Beruntung sekali calon suaminya nanti! Begitu bisik-bisik mereka, kasak-kusuk dibelakang Kartika dan keluarga.
Dulu-dulu kemana aja? Kenapa baru lihat kecantikan putriku yang tiada tara, tiada tandingannya? Gumam hati kecil bu Fajar senang sekali.
Begitulah manusia. Selalu menggunjing dan membicarakan hal-hal yang tak penting. Alih-alih mengikuti acara pengajian, para ibu itu justru kebanyakan lebih banyak kepo dan memperhatikan sang pengantin bahkan terkesan seperti ingin menguliti.
"Katanya calon suaminya duda satu anak, ya?"
"Serahannya berapa? Orang kaya ya, calonnya?"
"Aku penasaran pingin liat calon pengantin prianya, kira-kira gantengnya sama gak sama yang ada di youtube beritanya itu!"
"Iya, iya betul. Masa' kondangan ke gedung naik angkot, hiks...! Sanggulku nanti terbang dong!"
"Lha? Bukannya katanya mau pake gamis seragaman yang tempo hari kita beli?"
"Hilih, seragaman disangka nanti keluarga besan! Aku mau tampil cetar membahana, ah! Mau disasak, terus disanggul. Hari minggu aku lepas hijab dulu. Sayang kalo momen-momen seperti itu cuma gamisan kayak ibu-ibu marawisan aja!"
Begitulah. Para ibu yang hadir dipengajian. Obrolan mereka tak pernah habis, dari barat ke timur dari utara ke selatan.
Suara ciak-ciak decat decit sama sini, tak ubah seperti seperti anak ayam di pasar malam.
.......
"Papi! Papi?!? Papi?"
"Ah iya, Boy?"
Herdilan tampak terkejut mendapati guncangan dari tangan mungil putranya.
Dzakki ternyata sedang berdiri tegak dihadapannya.
__ADS_1
"Ada apa, Dzakki?" tanyanya sekali lagi.
Herdilan segera membenarkan pucuk rokok kretek yang tadi dihisapnya. Asapnya perlahan menghilang dan baranya juga mati pelan-pelan.
Dzakki duduk disampingnya.
"Papi banyak fikiran ya?" tanya Dzakki spontan.
Herdilan hanya diam. Percuma dia menyangkal. Putranya jauh lebih cerdas dan sudah pasti lebih peka melihat kedalaman hatinya.
"Papi sedang bingung!"
"Kenapa bingung, Pi?"
"Hhh...! Papi akan menikah, tapi sepertinya tetap tidak bisa tinggal serumah nantinya dengan Mama Kartika!"
Layaknya curhat pada orang dewasa, Herdilan berkeluh kesah pada Dzakki.
Dan responnya pun seperti orang mengerti saja. Dzakki hanya mengusap-usap punggung lengannya. Membuat Papinya itu menoleh, lalu tersenyum menatap Dzakki.
"Dzakki juga bingung, Pi! Hehehe...! Dzakki tak tahu bagaimana menyelesaikan masalah orang dewasa!"
Kini Herdilan tertawa sambil geleng-geleng kepala. Putranya sangat pintar. Dan juga hebat karena sudah seperti pelawak profesional yang mampu membuatnya tertawa lepas padahal seharian ini ia banyak termenung melamunkan permasalahan barunya.
"Pi! Kita nonton kartun spongebob yuk? Adek Elzhar juga suka lihat film kartun itu lho!? Hehehe..."
"Iya kah? Ayo! Kita nonton tuan Crab marah-marah di kedai Krusty Krab karena Patrick salah bikin Krabby Patty. Hehehe..."
Keduanya berpegangan tangan masuk kembali ke ruang tengah. Disana memang ruangan keluarga paling luas dengan televisi LED besar tertempel di dindingnya.
Dzakki menyalakannya dan duduk bersila di samping Papinya.
"Papi!... Percayalah, Tuhan pasti tidak akan memberi cobaan pada umat-Nya melebihi kapasitas kemampuannya! Papi pasti bisa lewati ini semua!"
Kini Herdilan hanya bisa termangu. Ucapan putranya membuat jantungnya berdebar-debar.
Direntangkannya kedua telapak tangan. Ia memeluk Dzakki dengan perasaan bahagia yang meluap.
Tuhan begitu baik padanya, karena telah memberikannya seorang putra yang memiliki kemampuan batin luar biasa.
"Semoga Allah selalu menjaga putraku, Dzakki Boy Julian dari segala hal yang tidak baik!" doanya sembari mengecup pucuk kepala Dzakki yang mengamininya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1