PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 196 IN FRAME "Setelah Kepergian Viona"


__ADS_3

Viona tak ingin memendam dendam. Ia ingin hidup tenteram.


Namun bagi Tasya, kepergian Viona dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat adalah suatu pukulan yang telak.


Suatu pembalasan dendam yang sangat manis dari mantan menantu pertamanya yang cantik.


Tasya menangis tak henti-hentinya. Dia merasa dirinya semakin tak berharga.


Pikiran kalut kembali menguasai jiwanya yang lemah.


Tasya mengambil kerudung pasminanya. Ia benar-benar gelap mata. Dilemparnya satu sisi kerudung ke atas flavon kamar. Pada kipas angin yang berputar-putar.


Dia nekad hendak menggantung dirinya.


"Ibuuu... Ibu Tasyaaa!!!"


Beruntungnya seorang perawat masuk kedalam ruangan Tasya. Hingga nyawanya berhasil diselamatkan meski keadaan Tasya kini tak sadarkan diri.


...○○○○○...


Herdilan datang dengan tergesa-gesa.


Mamanya kini ada di ruang rawat dengan infusan di tangan, meski jelas terlihat luka bekas lilitan kerudung pasmina dilehernya.


Tasya baru saja siuman tak lama sebelum Delan datang.


"Mama..."


"Delan...! Delan putraku..."


Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan erat. Saling mencurahkan isi hati lewat tangisan yang menyayat.


Delan sangat sedih, mendengar sang Mama nekad bunuh diri. Ia merasa sangat takut jika suatu hari nanti Mamanya melakukan tindakan tak terpuji itu lagi.


"Mama...! Jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku, Ma! Jangan ya, Ma?" pinta Delan disela-sela tangisnya.


Tasya hanya menangis semakin dalam.


Ia sangat menyesali semua perbuatannya di masa lampau. Pada sang sepupu yang selalu baik padanya. Pada paman dan bibi yang sudah mengurus serta merawatnya.


Semua slice kehidupannya kembali diputar ulang dalam otaknya.


Tasya merasakan penyesalan yang teramat dalam dan besar. Hingga tak mampu lagi berkata-kata selain cucuran airmata yang terus mengalir membasahi pipi.

__ADS_1


"Mana mukena pemberian Viona tadi? Mana, Delan?'


Herdilan mencari-cari apa yang ditanyakan sang mama. Tapi nihil tak ditemukannya.


"Mungkin di kamar Mama, Lan! Tolong ambilkan! Mama mau sholat! Please..."


Delan senang, Mamanya kini telah berfikir jernih kembali.


Mengadukan nasib yang buruk ini hanya pada Illahi, itu adalah yang terbaik.


Sang putra mencari kotak hadiah dari Viona berisi mukena di kamar Mamanya. Ada. Dia termenung melihat betapa bersih dan lembutnya istri pertamanya itu. Memberikan Mama barang yang berharga, agar selalu mengingat Allah Ta'ala.


Mungkinkah Viona masih mengharapkan diriku kembali padanya? Kalau iya, bukankah sebaiknya aku kembali berjuang juga untuk Viona?


Herdilan teringat pada dokter yang makan bersama Viona tempo hari.


Ia pun bergegas mencari sang dokter, untuk menanyakan sesuatu yang membuatnya sangat penasaran.


Tentang hubungan mereka berdua tentunya. Apakah ada yang spesial diantara mereka. Itu membuat Herdilan penasaran.


Pucuk dicinta, ulampun tiba.


Yang dicari ternyata ada di depan mata.


Dokter Diandra terkejut. Tapi seketika wajahnya kembali berubah tenang.


Putra Tasya Jessica mendatanginya. Kemungkinan ada niat ingin menanyakan perihal sang Mama, prediksinya.


"Ibu Bung kini sudah tidak apa-apa!" kata Dokter Diandra membuat Delan mengangguk.


"Terima kasih atas pertolongan dokter. Saya sangat senang, dokter bergerak cepat membantu Mama saya!"


"Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya pastinya dalam merawat ibu Anda!"


"Dokter!... Ada hal lain yang ingin saya tanyakan!"


"Silakan!"


"Apa hubungan dokter dengan istri saya, Viona?"


Sang dokter termangu. Seperti membeku dalam freezer, tapi kemudian dokter Diandra kemudian tersenyum tipis. Ia kembali bisa menguasai dirinya yang sempat kaget dengan pertanyaan Delan.


"Saya sangat tertarik pada Viona. Menurut saya hal itu tidak akan jadi masalah. Kami sama-sama sendiri, alias dalam keadaan tidak memiliki pasangan!"

__ADS_1


Deg.


Kini Herdilan yang pucat pias mendengar jawaban santai sang dokter.


"Jadi, kalian... berpacaran?!?" tanyanya gamang.


Dokter Diandra tersenyum simpul. Jawaban tanpa suaranya itu membuat Herdilan insecure.


"Hari ini Viona mengajukan surat pengunduran diri."


Lagi-lagi jantung Delan bagaikan dipalu. Sakit rasanya.


Jadi..., Viona berhenti dari kerjaannya? Apakah... karena hal ini pula yang membuat Mama kembali berfikir ingin pergi dari dunia?tebak hati Herdilan.


Herdilan diam. Pikirannya jauh mengembara. Menerka-nerka pada keadaan Viona, hingga memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di rumah sakit ini.


"Dokter tahu alamat rumahnya Viona?" tanya Herdilan mencoba melobi rivalnya itu.


"Secara umum saya tahu. Saya memiliki data riwayat para nakes di kantor personalia. Tapi secara pribadi, saya tidak tahu. Saya belum pernah menyambangi kediamannya."


Jawaban dokter Diandra kali ini menenangkan hati Delan.


Rupanya hubungan mereka tidak seperti yang kupikirkan! Hhh... Syukurlah! gumam Herdilan dalam hati.


"Bisakah dokter menolong saya dengan memberikan alamat tinggal Viona?"


"Tidak! Maaf!"


Jawaban yang simple. Namun jelas dan lugas.


"Permisi. Saya masih ada pekerjaan. Jika Bung sudah tidak ada urusan lagi, silakan meninggalkan ruangan saya!"


Enak sekali! Setelah menyakiti istrinya dengan mendua dan berselingkuh, lalu kini ia ingin kembali lagi? Huh! Tidak semudah itu ferguso! Kau fikir aku akan berbaik hati menolongmu begitu saja setelah Viona justru terlihat kurang tertarik padaku! Umpat hati kecil dokter Diandra kesal.


Dokter Diandra sendiri masih agak dongkol. Mendapati penolakan halus dari Viona. Mantan istri pertama Herdilan Firlando itu.


Ia hanya bisa menelan saliva. Menggaruk-garuk kepalanya hingga tersadar agak perih karena kena kuku jarinya sendiri.


Putra semata wayangnya kini mulai uring-uringan. Berteriak-teriak minta diantar kerumah adik Dzakki.


Hhh...


Dokter Diandra kelimpungan sendiri. Bingung harus menyikapi keadaannya saat ini.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2