
Tak pernah kusangka, hari bahagiaku menjadi hari yang penuh luka kembali.
Kedatangan Herdilan yang tiba-tiba membuatku menjadi orang yang berbeda.
Entah... setan apa yang telah merasukiku. Sehingga aku menjadi kalap dan menjadikan telapak serta kepalan tangan ini gahar pada mantan suamiku itu.
Kesal dan geram aku dibuatnya.
Ia bersikukuh belum mentalakku.
Apakah Herdilan menjadi bodoh? Atau kini ia jadi orang yang idiot setelah keluar dari penjara?
Ia kata, aku masih sah istri pertamanya karena merasa belum menandatangani surat perceraian kami. Sedangkan aku sendiri jelas-jelas sudah memegang selembar akta cerai lengkap dengan tandatangan darinya.
Memang waktu itu akulah yang gerak cepat mengajukan lewat kuasa hukum yang ditunjuk almarhum kak Jo untuk membantuku.
Memang secara lisan, Herdilan belum mengucap kata talak padaku. Tetapi secara hukum, semua telah memenuhi syarat cerai. Dan hakim memberiku ketukan palu sebagai wanita yang telah bercerai.
Aku kini harus segera bergegas pergi meninggalkan Ibukota.
Tak ingin hidupku dibayang-bayangi manusia bodoh itu lagi. Aku memilih melangkah pergi.
Aku akan membawa Dzakki-ku pergi jauh. Hingga tak perlu lagi melihat wajah pria menyebalkan itu kembali.
Cukup sudah. Semuanya telah usai sejak enam tahun lalu.
....
Kepeluk dan kudekap erat tubuh Dzakki.
"Mami...! Apa pak guru Ando masih diluar?" tanyanya polos membuat gemas diri ini.
"Jangan tanya-tanya dia lagi. Dia orang jahat, Dzakki! Dia itu mantan narapidana!"
"Mantan narapidana itu apa, Mami?"
Ya Tuhan! Anakku baru empat tahun setengah tahun. Mengapa harus mendengar kosakata baru yang kurang baik itu? Apalagi jika gelar itu ternyata disandang ayah kandungnya. Apakah Dzakki tidak akan kacau nanti perasaannya?
Roger masuk ke dalam kamarku. Menggendong putraku dengan mengalihkan perhatian Dzakki membacakan buku dongeng yang dibawa Verrel.
Senja berganti malam.
Hari yang indah berubah duka.
Om dan Tanteku masih ada di rumah mendiang kak Jo, menemani kesedihanku. Sedangkan kak Mutia dan si kembar telah pulang lebih dahulu karena ada les privat mengaji.
Sementara kak Chris mengantarkan Herdilan, entah ke dokter atau pulang ke rumah yang kini ditempati Mamanya.
Aku tak mau lagi memikirkan orang itu.
Om Tama dan istrinya pamit pulang. Disusul oleh tante Widya beserta para sepupuku.
Aku tak tahu harus berkata apa. Tetapi keluargaku mendukungku sepenuh hati. Memberi support dan semangat agar aku kuat. Hidup masih panjang. Masih harus kuteguhkan hati agar bisa kembali fight lagi.
__ADS_1
Roger mengetuk pintu kamarku.
"Boleh aku masuk?" tanyanya.
"Dzakki mana?"
"Tidur di kamarku ditemani Kenken!"
Aku menghela nafas. Sedikit lega putraku seperti tak terlalu terganggu oleh kejadian tadi.
Roger menghampiriku.
"Menikahlah denganku! Dan kita tinggal bersama sementara di Surabaya!"
Aku menelan saliva.
Kutatap wajahnya yang agak tegang.
"Aku tidak mau menikah denganmu jika hanya untuk menjaga kestabilan hidupku!"
Roger terkejut mendengar jawaban cepatku.
Ya.
Aku memang tidak ingin menikah hanya karena suatu keadaan.
Teringat masa laluku menikah dengan Herdilan Firlando.
Kami menikah karena suatu kesepakatan politik antara Ayah dan Papa Bambang.
Aku tak ingin kisah itu terulang lagi. Dan kesedihan kembali merajai hidup ini.
Tidak. Tidak ingin.
Aku harus dewasa. Harus bisa mengambil keputusan yang benar demi masa depanku dan Dzakki kedepannya.
Aku telah memilih untuk pergi dari semuanya.
Menjauh dari kehidupan mereka, klan Bambang Suherman.
Hubungan rumit ini tidaklah baik.
Hubungan ini teramat sulit untuk kukaji dengan akal sehatku.
Dan aku memilih pergi dari rumah ini.
............
Hari berganti, aku memulai semua dengan langkah pasti.
Mengurus surat kepindahanku lewat tangan aparat Kelurahan setempat.
Dzakki juga. Kuajukan surat kepindahan dari pihak sekolah dan domisili kami tinggal.
__ADS_1
"Dzakki..."
"Iya, Mi?"
"Lusa kita pindah, Sayang!" ucapku pada Dzakki yang langsung tertegun.
"Ke tempat Ayah, Mi?" tanyanya polos sekali.
"Bukan, Sayang!"
"Kita pindah berdua saja."
"Tini ikut, Viona!" sela bi Tini menarik tanganku.
"Jangan, Kak! Tetaplah di sini, di rumah ini. Jangan tinggalkan rumah ini demi aku!"
"Aku sudah janji, akan menjadi bagian hidupmu selamanya, Vi! Didepan kuburan boss Jo, telah kuucapkan sumpah itu!"
"Aku yang tidak mau mengajakmu!" tolakku halus membuat Tini berurai airmata.
Bukan maksudku berbuat jahat.
Minggu depan adalah pernikahannya dengan Kenken.
Aku tidak boleh menggagalkan hari besar bi Tini yang telah banyak berjasa membantuku selama ini mengurus Dzakki.
"Kenapa Viona tega padaku? Hik hik hiks..."
Kupeluk erat tubuh Tini. Menghapus butiran di wajah manisnya.
"Kakak boleh sering-sering menyambangiku ke Bali. Tapi harus izin suami dulu! Kakak... Kenken adalah pria yang baik. Dia mengerti kakak lebih dari siapapun. Semoga rumah tangga kalian selalu dalam keberkahan Allah. Dan cepat mendapatkan momongan!"
"Viona tetap akan pindah besok? Tidak menunggu pernikahanku dan Kenken?"
"Aku ingin sekali ada dihari bahagia kalian. Sungguh! Tapi keadaan tak memungkinkan, Kak!... Aku takut terjadi sesuatu pada putraku jika tetap berada di Ibukota ini. Khawatir Delan membawa Dzakki yang ternyata telah mengenalnya lebih dulu sebagai guru olahraganya! Aku... tidak inginkan itu, Kak! Hik hik hiks..."
Aku menangis di pangkuan Bi Tini. Sesegukan karena sedih, sementara Dzakki termangu dengan tatapan aneh.
"Pak Ando itu memang siapa, Mami? Kenapa Mami tak suka Dzakki dekat dengan pak Ando?"
"Tidak. Mami bisa mati kalau Dzakki dekat-dekat dengan orang itu! Please... mengerti perasaan Mami, Sayang!"
"Apa pak guru Ando pernah menyakiti Mami? Apa begitu? Kalau iya, Dzakki juga benci pak Ando mulai sekarang!"
Aku, Bi Tini menangis memeluk Dzakki.
Aku tak ingin putraku tahu semuanya saat ini. Terlalu dini untuk usianya.
Aku tidak boleh merusak karakter dan juga sifat baiknya karena kisah rumah tangga kami yang kelam.
Tidak!!!
Tuhanku Yang Maha Agung! Kumohonkan bimbinganmu untuk diri ini melangkah kedepan. Untuk kebaikanku serta masa depan Dzakki Boy Julian.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...