PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 KERIBUTAN HERDILAN VERSUS RIHANA


__ADS_3

"Kamu?"


Herdilan terkejut, mendapati seorang perempuan sedang duduk terpekur dengan wajah tenggelam dibalik kedua lututnya.


"Abang!"


Herdilan membelalakkan mata. Dia lebih terkejut lagi melihat dua koper besar yang berdiri di samping Rihana.



"Kau tahu alamatku dari mana?" tanya Delan ketus.


"Izinkan aku jadi babumu! Tak apa, tak dibayar juga. Asalkan aku bisa numpang tinggal dan makan gratis sehari tiga kali!"


"Benar-benar cewek sinting! Hei...! Aku bukan tuan Takur kaya raya! Aku juga cuma jongos di sini! Tak lebih tinggi status pekerjaanku! Pergilah, cari mangsa lain yang lebih bonafid!"


"Abang! Kita ini sama-sama orang Indonesia! Kumohon, please... bantuannya!"


"Tidak bisa, Rihana! Maaf! Aku sudah bilang, istriku bisa ngamuk-ngamuk nanti! Apalagi anak tunggalku!"


"Aku sudah tahu, abang adalah duda satu anak!"


"Pasti Ciko yang memberitahumu. Ya khan? Hhh... Dasar bocah tua bangk* itu!"


"Apa abang punya kelainan?"


"Ma-maksudmu apa?"


"Abang sepertinya cinta mati sama Bang Ciko ya?"


"What???"


Tentu saja mata Herdilan membulat. Tak terima dirinya dikatakan punya kelainan, terlebih cinta mati pada Ciko.


Gila apa! Hadeeeuh...


"Sadarlah, Bang! Jangan jadi jeruk makan jeruk! Banyak-banyak istighfar, jika belum mau kiamat datang!"


"Ya ampun..."


"Abang! Tolong ralat ucapan kasarmu soal babu TKW. Itu menyakiti banyak teman sebangsa kita yang berjuang mencari nafkah di negeri orang!"

__ADS_1


"Hei, apa maksudku? Aku tidak menghina pekerjaan babu! Kau saja yang baperan dan salah mengerti ucapanku kemarin!"


"Babu bahasa yang sangat kasar! Itu sangat menyakitkan! Abang tidak tahu kalau para babu itulah yang banyak menyumbangkan devisa bagi negara! Mereka layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Pekerjaan mereka dianggap hina, hingga tak jarang babu lebih sering dijadikan keset. Diinjak-injak harga diri dan martabatnya. Padahal, justru profesi itulah yang paling bersumbangsih pada negara dibanding para aparaturnya sendiri yang justru jadi hewan pengerat menggerogoti uang negara! Faham?"


Deg.


Perkataan lugas Rihana membuat Herdilan termangu.


Fikirannya langsung melanglang buana. Ia ingat pada masa lalunya yang selalu merendahkan para asisten rumah tangganya dulu, ketika dirinya masih dipuncak kejayaan.


"Abang! Tuhan Maha Membolak-balikkan nasib seseorang! Orang kaya raya bisa saja jatuh miskin semiskin-miskinnya. Lalu Tuhan juga Maha berkehendak. Orang miskin hina dina, seketika bisa jadi orang besar karena diangkat derajatnya oleh-Nya!"


"Ya ya ya. Sudahi khotbahmu! Berisik! Ganggu tetangga kiri kanan! Ya sudah, ayo masuk!"


Rihana bersorak dalam hati. Hampir saja ia tersenyum lebar menerima kemenangannya berdebat dengan pria dewasa yang beda umur tujuh tahun itu.


Apartemen kontrakan Herdilan memang kecil. Hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu minimalis, ruang tengah bersatu dengandapur dan satu kamar mandi. Tapi lengkap semua fasilitasnya.


Rihana memeriksa satu persatu ruangan dengan rasa penasaran tinggi.


"Ck ck ck... Perempuan ini memang benar-benar menyebalkan!" umpat Herdilan tanpa tedeng aling-aling. Kesal kembali melanda jiwanya.


"Hehehe..., maaf Abang!"


"Aih?"


"Itu penting buatku! Takutnya kamu justru perampok yang pintar bersandiwara. Bagaimana kalau kau kabur setelah menguras habis harta bendaku?"


"Memangnya Abang punya harta berharga apa?"


"Yassalam...!!! Aaaarrrgghhh...!!!"


Herdilan benar-benar gemas dibuatnya.


Akhirnya pria berumur 34 tahun itu memutuskan mengeram diri dalam kamar.


Rihana hanya tersenyum kecil. Matanya menoleh ke arah kulkas mini milik Herdilan. Dan tangan mungilnya dengan sigap membuka pintunya. Memeriksa apa saja yang ada dalam kulkas.


Ternyata usia muda 26 tahun bukan jaminan seseorang itu dewasa atau kekanak-kanakan.


Rihana rupanya memiliki hobi memasak. Dan...

__ADS_1


....


Harum aroma apa ini?


Herdilan tersentak dari rasa kantuknya dan tertidur selama beberapa puluh menit.


Duda keren satu anak itu bangkit dari rebahnya. Membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat meja makannya yang berbentuk bundar dipenuhi beberapa piring penuh makanan.


"Kamu yang memasak ini semua, Rihana?" tanya Herdilan tak percaya.


Sementara yang ditanya hanyalah menatap wajahnya dengan raut cemas.


"Coba dulu, Bang! Kalau ga enak, Ri mohon maaf!"


Rasa lapar yang tadi sepulang kerja sempat hilang karena keributannya dengan Rihana kini datang lagi dengan rasa penasaran tinggi.


Aromanya menggugah selera. Juga tampilannya yang tak kalah penyajiannya dengan masakan di restoran mahal! Tapi... entah rasanya!


Herdilan menarik kursi plastik dan duduk diam-diam. Tangannya sibuk mengambil secentong nasi, ikan sarden kering yang beraneka warna berasal dari cabai merah, bawang merah, bawang putih dan tomat membuat Delan mencicipi sausnya sedikit.


"Ini... beneran masakanmu?" tanyanya tak percaya.


"Gimana?" tanya Rihana dengan dua bola mata membulat. Menunggu komentar sang tuan. Khawatir rasanya tidak sesuai harapan.


Dan dua ibu jari Herdilan menjadi nilai yang menyenangkan hati Rihana.


"Beneran enak?" Rihana mencoba bertanya lagi.


Herdilan mengangguk. Matanya mengerjap, menyetujui ucapan Rihana. Mulutnya terlalu sibuk menikmati masakan gadis berumur 26 tahun itu yang dinilainya sangat enak.


Delan sendiri juga lebih memilih masak ketimbang beli makanan siap saji. Selain lebih irit, juga lebih ada feelnya.


Sarden masakannya hanyalah sederhana tanpa bumbu. Dan sudah pasti rasanya B aja. Hanya terasa penyedap rasa asin dan gurih saja.


Tapi kali ini berbeda.


Sentuhan tangan wanita memang lain rasanya.


"Sudah pas untuk jadi ibu rumah tangga!" puji Herdilan lupa kalau tadi ia kesal tingkat tinggi pada Rihana.


"Hahaha...! Ish, Abang nih! Kuliahku gantung. Gelar sarjana desain-ku terancam gagal! Hiks... Tiga tahun kuliah di negeri orang, kalau tahu bakalan begini, mendingan aku nikah jadi istri orang!"

__ADS_1


Herdilan ikut tertawa. Nasib membawa mereka menjadi manusia-manusia yang menertawakan kebodohan diri sendiri.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2