
"Tapi hari ini sepertinya makhluk itu tidak terlihat mengganggu. Cuma,... Dzakki tadi siang mimpi buruk tentang gurunya itu. Hhh... malah sekarang dia desak pingin tahu kabar gurunya dan minta telepon. Untungnya telepon Viona pada gurunya itu tidak diangkat. Jadi aku dan Viona tidak harus pusing ngurusin masalah orang!"
"Justru yang jadi masalahnya itu, aku takut masalah ini akan melebar. Karena sepertinya si pemilik makhluk itu tidak terima kita bikin onar!"
Roger dan Christian diam, saling berpandangan.
"Terus? Kita harus gimana, Kak?"
Chris menghela nafas. Dia pun sepertinya merasakan tekanan yang cukup besar.
"Yang sangat aku khawatirkan itu adalah Viona!"
"Viona? Kenapa?"
"Istrimu itu agak lemah fisik dan juga jiwanya. Ditambah lagi saat ini ada janin didalam rahimnya. Aku takut,... hhh... Jujur untuk Dzakki aku tidak terlalu mengkhawatirkan. Karena anak itu ternyata tidak selemah yang kukira. Bahkan aku lihat, makhluk itu cukup kerepotan dan tidak berani bertindak kasar pada Dzakki. Dia hanya menakut-nakutinya saja. Tapi pada Viona dan kita-kita, makhluk itu bisa kejam."
Roger lagi-lagi menelan saliva.
Ia teringat semalam tubuh sang putra yang melayang seperti diangkat namun tidak dengan kasar. Justru dialah yang seolah didorong dengan kekuatan yang dahsyat sehingga tubuhnya terhempas dan terbentur lemari.
Tetapi Dzakki diangkat dan diletakkan dengan sangat hati-hati di atas sajadah yang Roger bentangkan.
Itu pertanda memang benar, makhluk itu tidak berani sefrontal tindakannya pada Roger.
"Iya betul. Aku juga merasa makhluk itu tidak terlalu kejam pada Dzakki!"
__ADS_1
"Sekarang, kita jangan lengah! Dan kalau bisa, jauhkan dahulu Viona dari Dzakki!"
"Itu tidak mungkin! Selain bakalan susah memisahkan ibu dan anak, Viona juga pasti akan banyak bertanya mengapa, kenapa! Dan juga aku harus menjauhkan Viona kemana!"
"Hhh...! Tapi saranku, sebaiknya Viona segera diberitahu. Akan kacau urusan kalau perempuan salah faham!"
"Iya juga!"
Keduanya kembali terpekur. Bengong dengan fikiran masing-masing.
"Ini masalah akan memakan waktu cukup lama ini. Dan sekarang pun mulai melebar meski belum sampai mengganggu aktifitas kita, terutama Dzakki!"
"Besok Dzakki masih harus ke RSUD. Proses general check up."
"Lanjutkan, setidaknya catatan medis juga penting untuk kesehatan Dzakki kedepannya. Walau saat ini kuyakin putramu dalam keadaan sehat wal'afiat. Oiya, lusa aku jemput anak-anakku ke pesantren! Aku akan coba minta bantuan doa Abah untuk keselamatan kita semua. Dan saranku, pertebal imanmu. Jangan lepas dari dzikir dan memohon perlindungan Allah Ta'ala! Karena hanya kepada-Nya lah, semua kembali."
"Itulah!... Pemikiran dan cara pandang manusia itu berbeda-beda!"
"Hhh..."
Keduanya berjalan perlahan menuju ruang makan, setelah terdengar panggilan Mutia dari sana untuk makan bersama.
"Makan dulu, nanti lanjut ngobrolnya setelah makan!" kata Mutia seraya mempersilahkan suami dan adik iparnya untuk duduk dan makan bersama.
Mereka makan bertiga sambil diselingi percakapan ringan dan penuh guyonan.
__ADS_1
...............
Prang
Kartika benar-benar sedang di ambang keterpurukan. Ia sangat sedih seharian ini hingga nyaris otaknya pun tidak bisa berfikir normal.
Bagaikan mimpi, kakinya masih belum berfungsi berjalan seperti sedia kala.
Menangispun seolah tiada guna.
Beberapa saudara dan kerabat terdekatnya datang silih berganti menjenguknya bergantian berkat pemberitahuan kedua orangtuanya.
Ada banyak saran dan juga nasehat. Tak sedikit beberapa orang memberinya alamat dukun urut sampai shinse patah tulang dan menganjurkan Kartika dibawa kesana.
Mama dan Papanya terus intens berkomunikasi dengan dokter yang menanganinya.
Dokter sendiri masih dalam tahap penelitian karena Kartika lumpuh tanpa gejala dan tak punya riwayat penyakit yang mengindikasikannya pada keadaannya kini.
"Apa anak saya mengalami lumpuh layu dok?" tanya sang Papa terus menanyakan keadaan putri semata wayangnya.
"Untuk saat ini kami belum bisa mengambil kesimpulan, Pak! Kemungkinan cerebral palsy atau ada kemungkinan terserang autoimun GBS. Atau bisa juga gejala myasthenia gravis atau kelumpuhan sementara! Kami mohon kesabaran Bapak untuk menunggu hasil pemeriksaan keluar dalam waktu beberapa hari. Dan saya harap dukungan dan support keluarga untuk saudari Kartika Sari, agar tetap semangat menjalani pengobatan!"
Begitulah. Untuk saat ini pihak keluarga dan Kartika sendiri masih harus menunggu kabar selanjutnya.
Berharap penyakit yang kini diderita Kartika segera hilang. Dan Sang Guru manis itu kembali sehat seperti sedia kala.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...