PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 29 Kehidupanku Kini


__ADS_3

Dua minggu honeymoon di pulau Bali membuat kami jadi bahan olok-olokan canda Mama Tasya Jessica.


"Bagaimana bulan madu kalian? Yakin ga bakalan kasih mama cucu cepat-cepat?"


Pertanyaan mama mertua membuatku merah merona karena malu. Sedangkan Mas Delan mengedipkan satu matanya membuat mama Tasya tersenyum bahagia.


"Kayaknya berhasil ya, jagoannya Mama ini!" ucapnya membuat Mas Delan tertawa kecil.


"Jangan ragukan kemampuan putramu ini lah, Ma! Viona aku buat K.O telak tanpa perlawanan! Hahaha..."


Aku hanya bisa mencubit pangkal pahanya hingga ia langsung berlari menghindari seranganku selanjutnya.


"Apa kalian berjumpa om Lordess?" tanya Mama Tasya membuat kami saling berpandangan lalu kompak menggelengkan kepala.


"Ck ck ck... Anak itu ya!? Masih selalu seperti itu! Masih mencari cintanya yang hilang!"


"Om Lordess masih mencari Almira?" Suamiku menyela dengan bertanya pada sang Mama.


"Bukan Almira! Tapi cinta pertamanya.Makanya istrinya itu kesepian, jatuh cinta sama orang yang bertahun-tahun mengabdi bekerja pada mereka dan keduanya kawin lari. Si Lordess mah ga peduli dia sama Almira! Hhh... Padahal Almira lebih cantik dari pacar pertamanya!"


O alaa... Begitu rupanya, cerita aslinya. Hhh... Cinta rupanya bisa membutakan orang ya!?!


"Lantas buat apa om Lordess menikahi Almira kalau masih cinta sama pacar pertamanya?" tanya Delan dengan mata memicing sebelah.


"Almira menjebaknya. Almira pikir, bisa mendapatkan hati serta cinta om mu pada akhirnya nanti! Tapi... justru dia lah yang terluka juga. Almira itu model senior di PH kita, Lan! Dulu... sebelum menikah dengan om mu! Makanya, ketika Almira memutuskan untuk pergi dan meminta cerai dari Lordess, ia sempat menangis mengabari Mama! Kehidupan rumah tangga mereka begitu miris! Begitu cerita Almira pada Mama. Om mu itu sangat dingin memperlakukannya karena tak ada dasar cinta!"


Aku termangu. Mengingat kembali awal pernikahan kami yang terjadi karena adanya 'masalah'.


Kutatap wajah mas Delan yang asyik menyeruput kopi susunya hingga tandas. Tak terusik oleh tatapanku yang mengandung banyak pertanyaan di hati ini.


"Delan! Kerjaan barumu menunggu!"

__ADS_1


"Siap bu Boss! Tapi jangan dulu ngomongin kerjaan dong! Delan baru juga pulang berjuang, langsung ditodong soal kerjaan!"


"Ya iya dong! Kepala keluarga itu harus begitu. Punya tanggung jawab tinggi buat ngempani anak istri. Betul khan, Vio?"


"Iya, Ma! Hehehe..."


"Ya tapi khan santailah dulu, Ma! Delan pasti akan tepati janji buat gabung kerja di production house Mama. Tapi tidak untuk waktu dekat ini! Ada kerjaan mural lusa di distronya teman, Ma!"


"Hadeh...! Ini kerjaan Mama juga urgent! Harus cepat-cepat dikerjaan. Soalnya pak Harvey sudah dua kali ngechat mama nanyain kabarnya!"


"Ya khan orang-orang Mama berkualitas semua. Coba dulu dikerjakan oleh mereka. Maaf, Ma!"


"Idih, pak Harvey justru pinginnya kamu yang urus proyek itu. Siapa suruh ngajukan proposal brilian? Giliran ditodong bikin malah mau kabur angkat tangan. Mana itu gejolak anak muda yang penuh prestasi?"


Aku tersenyum tipis. Tak faham dengan obrolan mereka berdua soal pekerjaan.


Perlahan aku melipir duduk menjauh dari mereka ibu dan anak yang berdiskusi serius.


"Mulai senin, kamu rapikan butik Mama yang di Kemang! Terserah. Sekarang butik itu resmi dibawah arahan kamu! Sesuaikan saja sama jiwa dan juga keinginan Viona!"


"Ma-ma?"


Aku terbelalak tak percaya. Mertuaku memberi kepercayaan satu butik pusatnya padaku. Hiks.


"Santai saja, Vi! Kamu khan lulusan manajemen bisnis. Ilmu kamu bisa diterapkan di butiknya Mama! Mama ga rela anak sama menantu mama kerja di orang lain!"


Aku menelan saliva. Kembali tersadar status mertuaku yang seorang pengusaha besar.


"I iya Ma!"


"Besok kamu tengok kesana ya, sayang?!"

__ADS_1


"Baik, Ma! Vio akan coba belajar mengurusnya!"


"Good, my baby!"


Aku senang sekaligus gugup. Takut dan cemas karena tanggung jawabnya bukan sembarangan. Butik Mama Tasya juga bukan butik ece-ece. Harga pasarannya di atas 300K semua itu. Hiks.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Menjadi menantu orang terpandang itu ngeri-ngeri sedap. Mau tak mau, aku juga harus mengikuti gaya hidup Mama Tasya.


Bukan aku saja, Mas Herdilan Firlando suamiku juga perlahan mulai berubah.


Dari pemikiran, gaya hidup dan juga arah alur hidup kami.


Yang dulu kami ini adalah pribadi sederhana tanpa banyak fikir macam-macam, kini menjadi orang yang harus selalu dituntut bisa mengambil sikap serta keputusan yang tepat karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Yakni para karyawan yang bekerja di bawah naungan perusahaan besar Papa Bambang dan Mama Tasya.


Kami juga harus fokus berfikir sebelum mengambil keputusan apapun. Karena efek dan dampaknya pasti pada keluarga rahasia kami.


Aku, Viona Yuliana. Diusiaku kini menapaki dua puluh empat tahun, di saat pernikahan kami yang mau setahun... Setiap hari kini menjadi seorang wanita karier dengan membuka butik atas nama brand ciptaanku sendiri.


Lebih tepatnya Aku dan mas Herdilan telah sepuluh bulan mendayung biduk rumah tangga.


Mama Tasya selalu menanyaiku perihal kapan aku memberinya cucu.


Aku sendiri tak mampu menjawab pasti. Karena semua cara telah kami coba. Semua usaha sudah kami lakukan termasuk konsultasi ke dokter spesialis kandungan dan mengikuti semua saran serta anjuran.


Tapi... sampai saat ini belum membuahkan hasil.


Sampai-sampai aku jadi stres sendiri. Dan selalu menangis setiap kali menstruasi datang mengunjungiku sebulan sekali.


Hhh...

__ADS_1


...❀❀❀BERSAMBUNG❀❀❀...


__ADS_2