
Roger memasuki garasi rumah Kakaknya setelah ART mereka membukakan pintu gerbang.
Terdengar sayup-sayup alunan suara piano dari dalam rumah.
Ku telah miliki
Rasa indahnya perihku
Rasa hancurnya harapku
Kau lepas cintaku
Rasakan abadi
Sekalipun kau mengerti
Sekalipun kau pahami
Kupikir kusalah mengertimu
Ho'ow Aku... hanya ingin kau tahu
Besarnya cintaku
Tingginya khayalku bersamamu
Tuk lalui waktu yang tersisa kini
Disetiap hariku
Disisa akhir nafas hidupku
Ho uwooo...wowo... hooo uwoo
Roger termangu mendengar suara merdu milik sang Kakak yang sangat dalam dan penuh penjiwaan itu.
Ia hanya bisa menunggu lagu dari satu band yang cukup terkenal di tahun 2000 an itu selesai dinyanyikan Christian sampai akhir.
Roger mengintip pelan membuka daun pintu ruang tengah rumah sang kakak yang luas.
Suasana sepi di dalamnya. Ternyata Christian hanya berdua saja dengan Mutia Permata Melody. Roger tak melihat putra-putri mereka. Entah kemana si kembar itu.
Prok prok prok
Dia menyeringai seraya bertepuk tangan.
Sangat tidak menyangka kalau suara Kakaknya sebagus itu. Apalagi genre lagu yang Chris bawakan tadi begitu melow dan mendayu-dayu. Sangat jauh dari sisi cool sang Kakak yang juga seorang sabeum atau guru olahraga beladiri taekwondo.
"Gak sangka ternyata Kakakku seorang seniman juga. Pinter lagi, rayunya pake lagu merdu merayu!" ledek Roger membuat Mutia tersipu.
"Ngapain kau ganggu waktu senggangku?!" umpat sang Kakak dengan wajah memerah terpergok Adiknya kalau ternyata ia juga seorang suami yang posisinya adalah budak cinta istri.
"Mau belajar sama senior! Ternyata begini ya cara mempertahankan rumah tangga biar selalu harmonis dan manis tanpa ada perang dunia ketiga! Hehehe..."
__ADS_1
"Ah,... kata siapa kita gak pernah ribut! Kita juga suka koq sesekali ribut. Ya khan, Mas? Hehehe..."
"Ribut diatas ranjang! Hehehe..." Christian menimpali pertanyaan sang istri dan langsung mendapat respon cubitan dipinggang dari Mutia.
"Ish!"
"Udah, udah! Jangan bikin aku jadi ga betah dan pingin cepet-cepet pulang deh... Biar bisa bercanda sama Viona! Baru juga datang nih! Seengga'nya, tanya dong adiknya ini..., mau makan atau mau minum apa. Kopi, susu atau sirup gitu!"
"Hadeuuuh!... Datang-datang langsung mengacau!" gerutu Christian. Mutia hanya tertawa kecil seraya menawarkan seperti apa yang tadi Roger ucapkan.
"Aku sih orangnya gak ribet, Kak! Air putih pun sudah cukup. Asalkan dibawah gelasnya ada ampow isi selembar uang 100 dollar Amerika. Hehehe..."
"Kasih aja air kran, Yang! Ngelunjak dia lama-lama sama kita!"
Si empunya rumah marah-marah. Sontak saja Roger tertawa terbahak-bahak.
Mutia meninggalkan kedua kakak beradik itu. Membuatkan minuman segar untuk mereka.
"Bagaimana keadaan anak istrimu, Ger?"
"Baik. Tapi... masih membuatku was was juga! Sepertinya, masalah tak selesai dengan semudah itu!"
"Tepat!"
Roger menatap nanar wajah sang Kakak. Ia menelan salivanya tanda kecemasannya makin meningkat.
"Sebenarnya ada masalah apa sampai Dzakki diganggu makhluk halus itu, Kak?"
Christian menghela nafas panjang. Jarinya mengetuk-ngetuk kursi kayu yang ia duduki.
"Aku ingin tahu semuanya. Ceritakan padaku, jangan ada yang disembunyikan!"
"Roger!... Dzakki itu, bocah yang memiliki intuisi tinggi dan juga kecerdasan luar biasa. Dia, bisa melihat hal-hal yang orang umum tidak bisa lihat. Anak itu memiliki indera keenam!"
Roger termenung. Masih berusaha sabar menunggu cerita Christian selanjutnya.
"Dzakki melihat hal yang tak lazim dilihatnya."
"Maksudnya?"
"Ini mengenai wali kelasnya di sekolah."
"Ibu Guru Kartika Sari?"
"Yap."
"Hhh... Pantesan!"
Roger menghela nafas. Mengambil sebatang rokok kretek milik sang Kakak.
"Hei,... kau bilang sudah berhenti merokok!?!" tegur sang Kakak bingung.
"Aku merokok hanya untuk menemanimu supaya tidak merokok sendirian!"
__ADS_1
"Hadeh! Dasar kau nih, tidak konsisten!"
"Hehehe... maaf, Kak! Memang sudah kubatasi, secara Viona sedang hamil. Jadi kalau dirumah aku total berhenti merokok. Tapi kalau diluar, sebatang dua batang masih suka juga."
"Ck ck ck...!"
"Sekarang bagaimana aku harus menyikapi anakku yang sangat ingin mencampuri urusan gurunya itu?"
"Hhh... Agak berat memang! Tapi,... ternyata kita pun kadung tercebur dalam masalah ini, bro!"
Roger menatap wajah Christian. Bingung dan tak bisa menebak maksud perkataan kakaknya itu.
"Dzakki melihat ibu gurunya dalam genggaman makhluk halus peliharaan seseorang! Anak itu berusaha menyuruh makhluk halus itu untuk pergi dari gurunya. Tapi ternyata tidak sesederhana itu! Lingkaran setan itu sudah terjadi bertahun-tahun dan tidak semudah meminta pergi makhluk yang hanya numpang lewat, bahasa kasarnya. Otomatis, orang yang memeliharanya pun marah besar dan menganggap kita-kita ini sudah kurang ajar ikut campur urusan mereka!"
Glek.
Roger menelan salivanya. Ia mengerti maksud perkataan sang kakak.
Roger sangat tidak suka bersinggungan dengan hal-hal yang mistis. Ilmu metafisika dan supranatural sangat ia jauhi.
Selain urusannya sangat dekat dengan keimanan, dan ia takut jadi orang yang musrik. Juga karena ribet kalau berurusan hal-hal gaib.
Roger lebih suka urusan yang nyata. Ribut di ring, satu lawan satu. Saling hajar, saling jotos bisa terlihat siapa yang menang siapa yang kalah dan bisa saling balas saat itu juga.
Berbeda dengan ilmu-ilmu gaib yang tak kasat nyata. Yang membuatnya lebih baik mundur teratur, daripada babak belur dan tak tahu harus membalas dan menjotos siapa.
Bukan berarti dia takut melawan setan. Dia yakin Tuhan Maha Menolong, tapi sangatlah ia hindari kalau urusan jalan halus.
"Kak,... darimana kau tahu masalah Dzakki seberat ini? Apa... wali kelasnya itu menceritakan dan minta bantuan pada putraku karena punya indera keenam?"
"Tidak. Guru itu justru tidak tahu dan tidak menyadari dirinya dikirimi seseorang. Malah dia risih karena Dzakki selalu mengingatkannya dengan hal-hal yang tak ia mengerti!"
"Dzakki? Anak itu yang mengingatkan guru itu?"
"Ya. Dzakki melihat makhluk halus yang menyandera ibu guru itu. Makanya dia jengah dan meminta makhluk itu pergi. Dzakki juga selama dua hari kemarin berturut-turut melarang gurunya makan bekal yang disinyalir sebagai media untuk si makhluk terus-terusan berada di samping bu guru."
Seketika wajah Roger tegang.
Mutia muncul dengan membawakan nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring spongecake.
"Kita makan malam bersama, ya!?" kata Mutia membuat Roger tersenyum dan mengangguk.
"Anak-anak kemana?" tanya Roger merasa suasana rumah lebih sepi dari biasanya.
"Diajak omnya mengikuti pesantren kilat di Suryalaya. Cuma tiga hari saja, mumpung sekolah mereka sedang libur!"
"Verrel Velli libur? Dzakki sekolah koq ya?"
"Gedung sekolah anak-anak sedang direnovasi, jadi kelasnya libur bergilir tiga hari sekali. Sisanya belajar via online!" jawab Mutia membuat Roger baru mengerti.
"Aku ke dapur lagi ya?" tutur Mutia membuat Chris bernafas lega. Agak kurang nyaman jika ia membicarakan permasalahan Dzakki di depan istrinya. Khawatir Mutia akan cemas dan mengabari Viona. Membuat suasana semakin kacau sedangkan ini bisa jadi permasalahan serius.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1