
Roger dan Viona menangis histeris. Bahkan azan Maghrib tak mereka gubris.
Penantian panjang selama enam bulan menunggu kebahagiaan terpupus sudah.
Keduanya lemas tak berdaya. Tak bisa berkata apa-apa. Hanya lelehan airmata dan isak tangis sesegukan saling berpelukan berharap bisa memberi kekuatan.
Berkali-kali Roger meminta dokter dan para perawat memeriksa kondisi bayi yang ada dalam kandungan Viona, tetap hasilnya tak ada janin di dalam monitor komputer dan juga tak ada detak jantung janin seperti biasanya.
Roger berkali-kali memukul dinding tembok ruang Instalasi Gawat Darurat.
Kecewa hati dan jiwanya tingkat tinggi. Bahkan berkali-kali bibirnya bergumam meracau sembari menyebut-nyebut nama Dzakki.
Hatinya hancur berkeping-keping. Ada sesal yang besar pada sang anak sambung yang mengakibatkan peristiwa menyedihkan ini menimpa dia dan istrinya.
Andaikan Dzakki tidak melakukan hal-hal yang seperti kemarin-kemarin itu, mungkin Viona tidak akan pendarahan. Mungkin janin bayi yang dirahim istriku tetap terjaga aman!
Sesal semakin menggunung mengumpat dan menggerutu.
Roger malas untuk ibadah sholat Maghrib. Tubuhnya kadung melemah. Termasuk imannya yang perlahan turun terbawa arus airmata kesedihan.
"Ayah!"
Roger menoleh, Dzakki telah ada di depan pintu ruang IGD setelah terdengar suara selisih pendapat antara Christian dan tenaga kesehatan yang menjaga pintunya.
Mutia menuntun Dzakki. Christian dan Herdilan berjalan beriringan di belakangnya.
"Bagaimana keadaan Viona?" tanya Christian.
Dzakki hanya bisa menatap tajam ke arah Roger dan Viona yang bengkak matanya karena menangis.
"Ini semua karena Dzakki! Adik bayi yang Dzakki minta sama Allah tiba-tiba hilang dan Allah ambil kembali! Ini karena kamu! Kamu ingin membantu gurumu tapi tega mengorbankan adik bayi yang bahkan belum lahir kedunia!"
Roger tak sadar membentak putra sambungnya dengan suara keras dan kata yang kasar.
Dzakki menangis menatap Ayah dan Maminya tanpa berkedip. Ia mendekat ke Viona. Menggenggam erat jemari dingin sang Mami seraya menciumi punggung tangannya berkali-kali.
__ADS_1
"Mami! Mami... hik hiks, Mami! Adik bayi, adik bayi..."
Tiba-tiba seorang dokter yang masih mengamati monitor yang menempel dan terhubung ditubuh Viona kembali memekik histeris.
"Janinnya kembali terdeteksi!!!"
"APA???"
Roger berdiri. Menatap wajah sang dokter.
"Pak dengar! Suara jantung terdengar kembali!"
Roger dan Viona terdiam dari isaknya. Suasana benar-benar hening, demi mendengar suara dari mesin rekam USG yang terpasang.
Christian dan Mutia mencoba membantu Viona dengan mendawamkan ayat kursi dan meniupkannya ke ubun-ubun Viona.
Kini Mutia telah mengetahui semua yang terjadi. Dan ia mendampingi sang suami dengan bantuan doa serta kekhusu'an sholawatnya.
"Viona, baca surat Al-Ikhlas ya!? Minta sama Allah semua kebaikan-Nya!" bisik Mutia membuat Viona mengangguk dan memejamkan matanya.
Roger yang berlari mendekati ruang monitor tersenyum lebar, meski airmata masih membasahi pipinya.
"Bayiku terlihat jelas. Gerakannya agresif sekali!" serunya senang luar biasa.
"Anak laki-laki! Itu, ada tunasnya! Hehehe..."
"Alhamdulillah! Sungguh Allah Maha Besar!" kata Roger benar-benar terpukau.
Hampir setengah jam yang lalu, matanya tadi menatap layar monitor dan mencari-cari janin buah hatinya yang tak perpantau dan dinyatakan hilang. Kini janin itu terlihat sangat nyata. Dan Viona sendiri merasakan gerakan tendangan dede bayi dalam perutnya.
"Ini, dede bayi nendang-nendang Mami lagi, Nak!" ujar Viona membuat Dzakki tertawa kecil. Deretan gigi putihnya menggemaskan. Bahkan jemari Dzakki mengelus-elus perut sang Mami yang tampak jelas seperti bergerak kesamping kanan dan kiri.
"Adik Dzakki sedang latihan sepak bola!" seru Dzakki membuat yang ada diruangan itu tertawa bahagia.
Roger menghampiri Dzakki.
__ADS_1
Dipeluknya tubuh imut itu dan diciuminya berkali-kali.
"Maaf, ya Dzakki! Tadi Ayah memarahi Dzakki. Maaf, maaf! Please, forgive me!"
Roger malu sekali. Ia membentak Dzakki dihadapan Herdilan, Christian juga Mutia.
Roger merasakan emosinya yang meledak-ledak. Hingga tak mampu mengontrol amarahnya yang berakhir keluar pedas level sepuluh melalui mulutnya.
"Ayah, maafin Dzakki juga! Dzakki keras kepala! Dzakki membahayakan semua orang yang menyayangi Dzakki! Maaf, Ayah! Dzakki tidak mau kehilangan semuanya, apalagi adik bayi! Hik hik hiks huaaa...!!!"
Tiba-tiba Dzakki berteriak keras, menangis kencang dipelukan Roger.
"Maafin Ayah ya, Boy! Yuk, yuk... kita keluar cari es krim. Yang rasa coklat enak pastinya ya?" Roger berusaha menghibur Dzakki. Tapi sang putra menggelengkan kepala.
"Dzakki mau temani Mami! Mami harus pulang malam ini ke rumah kita!" katanya sembari meloncat dari pelukan Roger dan kembali mengelus-elus perut Maminya.
"Pendarahanku sepertinya berhenti, Mas!" ucap Viona membuat Roger bertambah senang.
"Benarkah? Beneran, Yang? Berarti malam ini juga kamu bisa pulang ke rumah, Yang?" tanyanya menyakinkan Viona.
"Iya, Mas! Beneran. Dan aku memang gak ada keluhan sama sekali sebenarnya ini!"
"Hhh... Ini semua adalah parsel dari seseorang untuk menghancurkan kita! Sebaiknya malam ini semuanya menginap dulu di rumahku!" kata Christian membuat Roger mengangguk setuju.
"Ke Suryalaya gimana? Pending dulu. Aku sudah kabari Wildan kalau kami tak jadi ke sana malam ini. Karena ada sesuatu halangan. Ternyata Abah sudah mengetahui kalau kita tak jadi berangkat malam ini. Ya sudah, sekalian aku minta doa kekuatan dari Abah dan para santri di sana!"
"Thanks, Kak! Entahlah bagaimana kami tanpamu!" puji Roger sembari memeluk bahu sang Kakak yang tersipu malu.
Roger meminta dokter memeriksa kembali keadaan istrinya dengan lebih teliti. Karena secara logika kejadian yang tadi mereka alami akan membuat penilaian para pelanggan RSUD akan menurun. Apalagi jika sampai terdengar oleh umum, kalau tadi hampir setengah jam lebih kondisi janin dalam kandungan istrinya tak terdeteksi sama sekali.
Padahal semua itu adalah perbuatan para makhluk tak kasat mata yang dikerahkan Mbah Jambrong, dukun ilmu hitam yang dibayar bu Jamilah dan suaminya untuk menjadikan Kartika sebagai tumbal kesuksesan serta kemajuan pesat usahanya yang ternyata diselimuti jampi-jampi sesat dan kerjaan puluhan makhluk laknat dalam bisnis mereka.
Astaghfirullahal'adzim.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1