PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 KOMUNIKASI ITU PENTING


__ADS_3

Apakah wajar Kartika memiliki ketakutan seperti itu?


Bagaimana perasaan Herdilan yang mengetahui langsung dari Kartika kalau calon istrinya itu cemburu padanya?


...○○○○○...


"Nona! Apa definisi cinta bagimu?"


"Cinta?... Entahlah!"


"Apakah pernikahan kita ini dilandasi cinta dan ada dasar cinta didalamnya menurutmu?"


Kartika merenung.


Pertanyaan Herdilan terdengar sepele tapi jawabannya sepertinya akan rumit. Begitu fikirnya.


"Pernikahan kita memang terkesan terburu-buru. Kamu dan aku adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Bertolak belakang dalam kehidupan. Dan parahnya lagi, kita belum saling mengenal pribadi satu sama lain!"


Kartika menunduk. Hatinya mengiyakan perkataan Herdilan.


"Tapi aku melihat Nona adalah pribadi yang baik. Nona juga bukan perempuan sembarangan yang mudah menjatuhkan cinta!"


Kini Kartika mengerjapkan mata. Perlahan ia beranikan diri menatap wajah tampan Herdilan.


"Aku tidak marah mendengar pertanyaan-pertanyaan Nona dalam menyelidikku. Itu adalah hak Nona. Dan aku bangga Nona menanyakan sendiri langsung padaku soal itu. Pertanda Nona serius ingin menikah denganku. Bukan hanya sekedar menjadi istri yang 24 jam menempel terus pada suami. Dan kita memang harus selalu berkomunikasi seperti ini!"


Lega hati Kartika.


Ternyata pria yang menyuntingnya adalah pria dewasa dan matang pemikirannya.


"Terima kasih, Abang bisa mengerti perasaanku! Terima kasih!"


Kartika terharu. Ia bersyukur banyak pada Tuhan. Hatinya bahagia, Tuhan kirimkan lelaki yang tepat untuknya pada akhirnya.


Penantian yang tak sia-sia. Telat menikah ternyata menjadi satu alasan untuknya menunggu pribadi yang matang dan bisa mengerti dirinya.


"Abang! Uang yang abang beri kemarin, aku ambil sepuluh juta untuk sodakoh ke sepuluh masjid. Tidak apa-apakah?"


"Itu uang Nona! Terserah Nona pakai buat apa. Aku sudah memberikannya. Semoga bermanfaat untuk menutupi biaya pernikahan kita nanti!"


"Iya. Terima kasih banyak. Aku akan berusaha menjaga amanah uang yang kamu berikan!"


Herdilan tersenyum. Hatinya menghangat karena terharu. Kartika benar-benar wanita baik. Ia berharap, semoga rumah tangganya nanti akan awet sampai maut saja yang memisahkan.


"Pulang yuk? Nanti orangtuamu khawatir! Oiya... Abang besok pagi-pagi sekali akan pulang ke Singapura. Masih banyak kerjaan disana!"


"Abang stay disana?"


"Ya. Aku tinggal menumpang pada Fika dan suaminya. Aku ini pria yang tak memiliki rumah, Nona!"


"Hehehe...! Semangat ya, Bang! Aku doakan semoga kamu mendapat banyak rezeki biar bisa beli rumah sendiri!"

__ADS_1


"Aamiin..."


"Kapan Abang kembali?"


"Seminggu sebelum pernikahan kita, Nona! Oiya... kalau chat Nona aku abaikan, kumohon jangan tersinggung ya? Karena kerjaanku itu berhubungan dengan cat basah dan kuas berbagai ukuran. Salah-salah sedikit, gambar yang di request jadi berubah. Jadi..., aku jarang pegang hape kalau lagi kerja!"


Kartika tersenyum. Ia mengangguk.


Obrolannya dengan Herdilan perlahan semakin mencair dan mengalir. Bahkan layaknya teman lama yang bisa tik tok saling mengerti satu sama lain.


"Nona, setelah menikah ada rencana lainkah?"


"Maksud Abang?"


"Kamu..., apa akan tetap mengajar?"


"Hm...! Guru adalah cita-cita Tika sedari kecil. Bahkan kami, aku dan almarhumah Tia sudah sepakat akan menjadi guru dan terus mengajar kapanpun itu."


Herdilan tersenyum. Ia menatap wajah calon istrinya. Tapi seketika kembali menunduk.


"Kemungkinan kita akan sering LDR-an! Tapi gak apa. Aku bisa pulang sebulan atau dua bulan sekali. Hehehe..."


Kini Kartika yang terpaku.


LDR-an? Hidup terpisah jauh sedangkan kita sudah suami istri nanti?


"Abang... akan menetap di Singapura?"


"Oh gitu ya?"


"Jangan risau! Nanti kita komunikasikan lagi. Saat ini, fokus saja sama kerjaan Nona dan juga hari pernikahan kita. Hehehe..."


"Abang santai sekali! Jarak antara Jakarta Singapura itu jauh sekali, Bang! Bolak-balik dua bulan sekali... berapa banyak kocek yang harus Abang keluarkan untuk ongkos yang mahal itu!"


"Hehehe... iya juga sih!"


"Setahun enam kali pulang pergi. Sekali jalan bisa minimal lima jutaan. Bolak-balik sepuluh kita. Dikali enam bisa habis enam puluh juta! Waah... setahun bisa dapat satu pintu rumah kostan itu!"


"Waaah, keren calon istriku ini! Tiga tahun bisa jadi juragan kost-kostan kita! Hahaha..."


"Iya khan? Itu Tika hitung minimal. Bisa lebih dari segitu khan ya Bang? Hiks... maaf, Tika seperti perempuan yang pelit ya?!"


"Hehehe...! Tidak, Nona! Aku malah bersyukur. Ibu negara benar-benar perempuan hebat! Pembukuan keuanganku akan tertata rapi nantinya. Alhamdulillah!"


"Ish, Abang!"


"Hahaha...! Maaf, maaf!"


Kartika tersipu malu.


Tanpa terasa perjalanan mereka telah sampai di depan perumahan.

__ADS_1


"Maaf, aku gak ikut turun ya, Non? Harus buru-buru. Soalnya ada janji ketemuan sama Ciko. Sahabatku itu!"


"Iya, Bang! Ga papa."


"Salam sama Papa Mama!"


"Iya!"


Akhirnya keduanya berpisah. Ada sepasang mata yang rupanya diam-diam memperhatikan mereka.


Dia adalah pak Saiful, suami almarhumah bu Jamilah.


"Tika!" panggilnya pada Kartika ketika hendak memasuki gang rumahnya.


"Pak Saiful?"


"Saya ingin mengobrol sebentar dengan Tika, bisakah?"


"Mari kita mengobrol di rumah saya, Pak!"


"Saya malu. Biar disini saja! Saya..., mau minta maaf atas semua kesalahan saya juga istri saya almarhumah!"


"Pak,... sudahlah! Mari kita lupakan semua yang buruk yang pernah terjadi dalam hidup kita. Saya pribadi tidak menyalahkan Bapak juga Bu Jamilah. Saya justru minta maaf, selama ini saya juga kedua orangtua saya kurang peka. Betapa sakitnya ditinggal orang yang kita sayangi. Sayapun turut merasakan. Chintia adalah sahabat saya sedari kecil. Kami tumbuh dan besar bersama hampir lima belas tahun. Saya sangat kehilangan Chintia sama seperti yang bapak ibu rasakan. Bahkan sampai sekarang, saya sangat sulit berteman karena selalu membandingkannya dengan kebaikan Chintia. Hik hiks...! Saya, sangat sedih kehilangan Chintia!"


"Tika! Mungkin ini sudah takdir Chintia. Dan saya menerima kehendak Allah Ta'ala. Saya dengar, Tika akan menikah akhir bulan ini. Saya turut berbahagia. Sungguh saya tulus mengucapkan rasa senang saya!"


"Bapak, datanglah ke hari bahagia saya bersama keluarga. Nanti saya kirimi undangannya ke rumah Bang Nirwan dan Bang Sandi! Bapak tinggal dimana sekarang?"


"Saya sekarang ikut Nirwan! Saya akan datang, Tika! Bersama Nirwan dan istrinya nanti!"


"Iya. Nanti surat undangannya menyusul berikut denah gedungnya!"


"Memangnya bukan di rumah sini hajatannya?"


"Rencana pihak calon suami yang mempersiapkannya. Minggu depan surat undangannya baru akan selesai. Itupun diatur semua oleh pihak keluarga Bang Herdilan!"


"Oh begitu! Baiklah. Sekali lagi bapak ucapkan selamat ya, Tika!"


"Terima kasih, pak! Mari mampir ke rumah. Papa Mama ada di rumah sepertinya!"


"Tidak usah, terima kasih banyak tawarannya. Bapak pamit ya, Tika!?"


"Iya, Pak Saiful!"


Begitulah. Hati pak Saiful kini terasa ringan karena beban batinnya yang berkurang.


Beliau pergi berlalu lebih dulu. Setelah tubuhnya menghilang dari pandangan, Kartika pun bergegas pulang.


Hari yang penuh dengan ujian. Semoga semua masalah bisa diminimalisirnya. Masalah besar Kartika harap menjadi kecil. Masalah kecil bisa menghilang secara perlahan.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2