PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 192 IN FRAME "PERTEMUAN KEMBALI HERDILAN DAN CHISTIAN"


__ADS_3

Ini kali kedua Herdilan mendatangi rumah besar Christian.


Sebenarnya Christian telah memprediksi dan mempersiapkan semuanya.


Herdilan tak punya siapa-siapa lagi selain Mamanya. Sudah pasti ia akan datang lagi mencari Christian yang notebenenya adalah saudara tirinya.


Untungnya, Dzakki sedang pergi bersama Mutia, Fika serta si kembar Verrel dan Velli ke mall untuk shopping juga healing.


Setidaknya untuk saat ini Ayah dan anak kandung itu tidak bertemu.


Bukan maksud Chris untuk menyembunyikan Dzakki dari Delan. Tapi mengingat keadaan hati dan emosi Viona yang masih terluka serta belum bisa menerima kenyataan membuat Christian mem-pending dulu pertemuan Delan dengan Dzakki.


Chris menatap Herdilan dengan perasaan campur aduk.


Terlihat aura Herdilan masih menghitam, meski kini mulai sedikit lebih cerah meskipun penampilan dirinya terlihat kusam dengan pakaian sedikit dekil tak terurus.


"Sudah bertemu Mamamu? Beberapa hari ini kau tidur dimana, Delan?" tanya Chris membuat Delan menunduk.


Ia tak kuasa mendapati kebaikan hati sang kakak. Membuat jiwanya yang masih labil kadang berfikir baik namun tak jarang ada fikiran buruk pula, menjadi tersentuh oleh perilaku Chris padanya.


"Mama sudah lebih baik, Mas! Aku... bekerja sebagai kondektur buskota di terminal Senen. Alhamdulillah, bisa untuk melanjutkan hidup meskipun hanya untuk makan dua kali sehari saja."


Herdilan menunduk semakin dalam. Merasa mindernya bertambah mengingat siapa pria dewasa yang duduk dihadapannya itu.


"Aku senang kamu bisa mengucap syukur walaupun keadaanmu kini sangatlah sederhana. Tapi aku sedih, kamu tidak menepati janjimu untuk tidak membuat Mamamu kembali depresi!"


Herdilan mendongak. Menatap wajah sang kakak hingga ia melihat kekhawatiran Chris terpancar di wajahnya.


"Mama... kenapa Mas?" tanyanya terbata-bata.


"Mamamu kembali pada level dimana ia masih terguncang jiwanya."

__ADS_1


Deg.


Herdilan merasakan jantungnya sakit. Ia mengingat-ingat ucapan terakhirnya sebelum pamit pada sang Mama.


Mama terlihat biasa saat itu. Bahkan mendoakan kebahagiaan untuknya di masa depan. Namun...


Mama kembali ke level titik awal depresinya?


"Mas...! Ada yang ingin kutanyakan!"


Christian menatap wajah Delan. Ia sudah menduga perkataan Delan ini.


"Apa... Viona juga bersama mas Chris?" tanyanya, terdengar agak ragu.


Chris tak langsung menjawab. Tapi bangkit dan berdiri masuk kedalam kamarnya, setelah memberi kode pada Delan untuk menunggunya sebentar.


Chris menchat Mutia, istrinya. Isinya agar sang istri tidak dulu pulang kerumah. Karena Delan sedang berkunjung. Dan Mutia menjawabnya "Oke" dengan chat balasan yang singkat.


Tak lama kemudian Christian keluar. Ditentengnya sebuah koper kecil milik Delan.


Delan menghela nafas lega. Tangannya gemetar menerima koper berisi dokumen-dokumen berharganya dimasa lalu.


"Mas...! Terima kasih banyak! Terima kasih banyak!"


Delan mengucapkan rasa syukur berkali-kali dalam hati. Ternyata kakak tirinya itu menyimpan semua berkas pribadinya. Ijazah-ijazahnya serta barang-barang berharga milik Delan yang lainnya.


"Kurasa, kamu juga sudah tahu keberadaan Viona saat ini... Benar! Viona bekerja di RSJ tempat Mamamu dirawat. Benar, Viona turut membantu tante Tasya hingga menjadi seperti sekarang ini. Semua karena Viona tidak ingin menyimpan dendam terlalu lama dalam hatinya pada Mamamu!"


"Boleh,... aku minta tolong lagi, Mas? Aku ingin bertemu dengan Viona, Mas! Terlebih dengan anakku yang pastinya kini telah tumbuh besar."


Delan menatap Chris. Kedua tangannya dirapatkan. Ia memohon pada kakaknya itu dengan sangat.

__ADS_1


"Kamu mengecewakanku dihari pertama kau meminta bantuan dariku. Hhh...! Padahal aku percaya sepenuhnya padamu, kukira kamu akan menuruti nasehat permintaanku waktu itu. Nyatanya,... kamu seperti tidak mengindahkan ucapanku. Apakah aku masih bisa percaya lagi padamu, Delan?"


"Mas...! Maaf..., kemarin aku khilaf karena melihat Viona makan siang bersama seorang pria. Aku..., aku..., aku merasa sesak dan bertekad ingin menggapai hatinya lagi, Mas!"


Herdilan diam. Ia mengakui kalau dirinya terlalu berambisi mendapatkan Viona lagi. Padahal...,


Delan menatap dirinya sendiri. Kaos oblong pemberian bang Tigor yang lusuh, celana jeansnya yang belel dan agar sedikit kotor,... juga sandal jepitnya yang ia tinggal di depan pintu rumah Christian kembali mengingatkannya pada dirinya yang sekarang.


Akankah Viona menatapnya dengan benar, kini? Apalagi... Viona adalah seorang konselor, setingkat dengan psikolog karena membuka konsuling ataupun konsultasi pada para pasien ODGJ di sana.


Kembali Herdilan menghela nafas dan menelan salivanya.


"Kuharap benahi dulu dirimu, Delan! Benahi juga kehidupanmu, sampai batas mana kamu menyadari semua kesalahanmu dimasa lalu terutama kepada Viona dan buah hatinya. Sejujurnya aku ingin sekali membantu. Namun... Masa depanmu ada di tanganmu sendiri. Kehidupanmu ada di pilihanmu sendiri. Dan pastinya juga atas izin Allah Ta'ala, Delan!"


"Mas..."


"Itu dokumen pribadimu, kukembalikan. Dan ini..., sertifikat sebuah rumah di bilangan pusat Ibukota. Memang kecil, tapi semoga bisa membuatmu lebih baik lagi dalam menjalani hidup. Juga ada toko sembako disampingnya. Semua bisa membantumu juga tante Tasya nantinya. Dan setelah kamu seattle menghandle hidupmu dalam satu bulan ke depan... Bawalah Mamamu untuk tinggal bersamamu. Kalian bisa hidup bahagia, memulai kembali lembaran baru dengan hati bersih."


"Ma-mas?!..."


Mata Delan merebak. Hidungnya basah menahan keharuan yang sedari tadi ia tahan.


Herdilan berdiri. Menubruk tubuh tegap Christian. Menangis sesegukan sembari memeluk sang kakak.


Hatinya basah oleh perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Selain rasa syukur dan bahagianya dengan perhatian dan semua kebaikan Christian.


"Mas! Terima kasih banyak, Mas! Hiks hiks..."


Siang itu langit yang panas terasa damai bagi Herdilan dan juga Christian.


Ada satu pintu keikhlasan yang terbuka dari Tuhan Yang Maha Kuasa tanpa keduanya sadari.

__ADS_1


Bahwa segala sesuatu kebaikan, bisa melebur meluluhkan niat jahat menjadi menghilang berganti bibit-bibit bunga kebahagiaan.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2