PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 223 IN FRAME "Dzakki Butuh Pertolongan"


__ADS_3

Viona berlari kencang menyusuri lorong rumah sakit. Guru Dzakki memberitahukannya kalau putranya mengalami musibah.


Hatinya gundah, jiwanya resah. Terbayang keadaan Dzakki yang mengkhawatirkan.


"Madam Aurora!"


"Ibu Viona! Maaf... kami lalai menjaga Dzakki!"


"Apa yang terjadi pada putra saya?" tanya Viona meminta penjelasan.


"Tangan Dzakki... terkena pisau cutter, dan...!"


"Kenapa bisa sampai seperti itu? Bukankah kalau ada prakarya yang membutuhkan senjata tajam, murid-murid didampingi para tutor?" ujar Viona setengah berteriak.


Madam Aurora hanya menghela nafas.


"Yang jadi masalah sekarang adalah... Dzakki pingsan, kekurangan darah!"


Viona meninggalkan sang guru dengan kesal. Memasuki ruang gawat darurat mencari putranya dan ingin melihat sendiri keadaan Dzakki.


Hatinya hancur melihat Dzakki yang terkulai lemas tak sadarkan diri.


"Dokter! Saya ibunya Dzakki Boy Julian!"


"Duduk, Bu! Ada yang harus saya diskusikan pada Ibu, segera! Karena ini urgent!"


"Kenapa belum ada tindakan pada putra saya?"


"Ternyata golongan darah Dzakki adalah O negatif! Dan golongan darah itu sangat langka di bank donor darah kami di wilayah Denpasar!"


"Lalu?"


"Kami butuh waktu 24 jam agar putra ibu segera mendapatkan donor darah yang sama."


"Maksudnya?"


"Kami tidak memiliki stok darah O negatif!"


"Bagaimana mungkin? Ini rumah sakit besar!"


"Apa golongan darah ibu?"


"Sebaiknya dicoba tes dulu. Semoga bisa untuk didonorkan pada putra saya!"


Viona benar-benar panik sekali.


Ia kebingungan sendirian. Diteleponnya Roger. Dan pria itu langsung menyuruhnya untuk memberikan teleponnya pada sang dokter.


Roger meminta dokter agar secepatnya melakukan pertolongan pada putranya. Biar bagaimana pun caranya, Dzakki harus terselamatkan.

__ADS_1


Cuma masalahnya adalah darah yang sangat dibutuhkan Dzakki tidak ada stok di seluruh rumah sakit Denpasar. Sementara golongan darah Viona sendiri adalah B.


Dokter menyarankan Dzakki untuk segera dibawa ke Jakarta. Karena Bank Donor Darah PMI Pusat, pasti memiliki stok golongan darah O negatif.


Dengan persetujuan Viona dan Roger, Sore itu juga Dzakki diterbangkan dari Denpasar ke Ibukota.


Roger sendiri langsung meluncur ke Jakarta dengan penerbangan malam setelah mengambil cuti dua hari dengan menukar hari liburnya dilain waktu.


...○○○○○○...


Sudah hampir 10 jam, Dzakki pingsan dan belum mendapatkan transfusi darah.


Di RSUD ternyata type golongan darah O negatif hanya ada satu kantong. Padahal Dzakki membutuhkan kantong setidaknya dua sampai tiga liter.


"Viona!"


"Mas Roger!"



Keduanya hanya bisa menangis berpelukan, berusaha saling menguatkan.


"Herdilan pasti mempunyai golongan darah yang sama dengan Dzakki!"


Viona menelan salivanya. Terdiam seribu bahasa.


Semua kerabat, sahabat dan teman telah ia hubungi. Berharap ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Dzakki. Tapi nihil.


Sempat terjadi percekcokan antara kedua kakak beradik itu soal kebaikan sang kakak yang memberikan saudara tiri mereka sebuah hunian dan usaha toko sembako.


Namun akhirnya Roger segera pergi untuk mengejar waktu mendapatkan donor darah dari Herdilan.


...........


Kedua pria yang pernah baku hantam di rumah mendiang Jonathan itu kini kembali berhadapan.


"Roger!"


"Herdilan! Aku butuh donor darahmu! Segera!" ujar Roger tanpa basa-basi.


"Siapa, Lan?"


Tasya keluar dari ruangan toko mereka. Matanya menatap lama pada wajah Roger. Ia seperti melihat bayangan masa muda Bambang di wajah anak tirinya itu.


"Ayo, jangan ulur waktu!"


Roger menarik tangan Delan dengan cepat.


"Tunggu!" sela Tasya mencoba menahan Roger dengan menarik satu tangan Delan yang lainnya.

__ADS_1


"Jangan halangi! Putraku butuh donor darahnya!" teriak Roger kesal.


"Putramu? Pu-putramu... Dzakki? Kenapa Dzakki?"


Roger tak menjawab. Tapi menarik tangan Delan dengan keras.


"Mama ikut, please...!"


Akhirnya Roger mengangkut Delan beserta Mamanya juga.


.....


.....


.....


Viona kini berhadapan lagi dengan Herdilan dan Mama Tasya. Viona tak bisa menolak pelukan haru sang mantan mertua.


Tangisnya pecah dibahu Tasya.


Sementara Herdilan langsung menuju ruang transfusi darah. Mengecek kelayakan golongan darahnya dengan Dzakki.


Seperti yang mereka duga. Golongan darah Herdilan sama dengan golongan darah Dzakki.


Sehingga Viona bisa bernafas lega. Dzakki akhirnya terselamatkan. Dan putranya akan kembali sehat setelah transfusi selesai.


Malam serasa panjang bagi Viona, Roger, Tasya juga Delan.


Tak ada sepatah katapun meluncur sebagai pembuka obrolan mereka. Menunggu detik-detik Dzakki siuman dipembaringan.


Hingga... Pagi menjelang dan Dzakki terbangun bagaikan wajah malaikat yang bersinar terang.


"Dzakki!!!"


"Mami!"


Viona meraih jemari Dzakki yang imut.


"Kenapa... Dzakki,"


"Jangan banyak bergerak, Sayang! Ditanganmu ada jarum infus!" Roger bergerak maju. Membuat bola mata Dzakki bersinar cerah.


"Ayaaah!!!"


"Woles, Boy! Ayah ada bersamamu sejak semalam!" jawab Roger tersenyum bahagia. Sang putra kini telah bangun dari tidur panjangnya.


"Pak Guru Ando? Oma?"


Delan dan Tasya hanya menatap Dzakki tak berkedip. Bola mata mereka berkaca-laca. Dzakki ternyata masih mengenalinya.

__ADS_1


Dan dengan polosnya bocah imut itu menerima uluran tangan Herdilan dan Tasya yang masih terisak tak percaya.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2