PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 KISAH LALAT NAKAL DAN KEBAHAGIAAN BU GURU KARTIKA


__ADS_3

Fahrurrozi. Teman sekaligus rival Christian di masa SMA.


Ia selalu bagaikan lalat yang mengganggu kehidupan Christian kala itu. Sama-sama sebagai anak salah satu anggota parpol yang sama pula, Fahrurrozi bahkan nyaris selalu mengekornya dalam setiap langkah.


Sempat pula ia mendekati Mutia yang sudah jadi istri Chris, dengan niatan ingin menghancurkan apapun yang Chris punya.


Ia dan Bapaknya selalu manis pada Papa Chris. Tapi menusuk dibelakang. Seperti itulah penjilat.


Dan memang ada kesalahan-kesalahan yang almarhum Bambang buat. Namun itu semua semakin ter blow up oleh cerita hot yang dilebih-lebihkan oleh Fahrur dan Bapaknya.


Kelicikan dan kejahatan mereka terhenti setelah Papa Chris terkena kasus, masuk penjara bahkan sampai meninggal dunia dengan kisah kasus yang berbeda.


Mereka pun bisa menapaki karier yang bagus setelah itu. Dan tertawa puas setelah melihat kehancuran klan Bambang sehingga ia akhirnya mendapatkan tempat serta panggungnya sendiri.


Bahkan... rahasia yang terpendam berpuluh-puluh tahun tak diketahui oleh siapapun baik almarhum Bambang sendiri, juga putra-putrinya. Bahwa... Bambang sendiri dijebak sampai membeli perempuan eksperimen yang ternyata adalah Mama Tasya, itu adalah ulah Bapaknya Fahrurrozi.


Hingga nasib dan takdir membawa kisah Bambang dan Tasya kepelaminan.


Kadir Abdul Rajak, kawan baru Bambang Suherman di ibukota yang kala itu melebarkan sayap ideologisnya hingga masuk kancah politik meninggalkan dunia bisnisnya di kota gudeg.


Kadir pula yang sering merasuki otak Bambang, seorang pria pekerja keras yang berjuang di ibukota tanpa membawa serta istri karena lebih memilih kota kecil nan tenang untuk mengurus buah hatinya dengan kesederhanaan.


Bambang yang masih polos kala itu, hanya memiliki tekad bulat dan niat mengubah pemikiran pada anggota dewan dalam hal kemajuan memperjuangkan hak asasi manusia yang saat itu menurutnya begitu miris.


Berkat ketekunannya dalam menyuarakan pendapat, Bambang maju menjadi orang nomor satu yang dipercaya atasan dewan partai politik yang ia ikuti.


Kadir yang merasa sederajat dengan Bambang pun diam-diam memiliki iri hati dan kedengkian.


Kadir tahu, Bambang punya pegangan. Bambang juga suka melakukan ritual supranatural seperti mengunjungi makam-makam keramat, pergi kerumah dukun yang lebih sering disebut orang pintar, bahkan Bambang sering melakukan mandi kembang tengah malam.


Ia juga mencoba mengikuti Bambang diam-diam. Mengekor tindakannya namun keberhasilan belum juga mencapai puncaknya.


Hingga iri hatinya menjadi suatu dendam dan sumpah serapah yang diiringi tingkah membokong dari belakang.


Bambang seringkali ia racuni fikiran-fikiran yang kotor dan tak berperikemanusiaan sesuai dengan jalur yang seharusnya ia berantas.


Kadir menjadi sahabat sekaligus musuh dalam selimut bagi Bambang.


Sementara Pak Yosef juga teman Bambang dalam satu perguruan dari paranormal yang sering mereka sambangi.


Bambang memiliki kelebihan yang Yosef tidak miliki. Yakni seorang penjaga yang selalu mengawalnya kemana-mana. Penjaga yang memiliki kekuatan dan indera keenam dalam hal membentengi Bambang hingga tercapai semua keinginannya dalam duniawi. Penjaga itu tak lain dan tak bukan adalah Christian Suherman. Putra sulungnya yang memang selalu Bambang bawa kemana pun ia pergi kecuali ketika menyambangi istri mudanya.


Begitulah kisah mereka hingga menjadi seperti sekarang ini.


Ada persekongkolan antara Yosef, Kadir yang kini diteruskan oleh sang putra yaitu Fahrurrozi.


Mereka melakukan kerjasama untuk menjatuhkan Christian yang berhasil mencuci kembali nama besar Papanya yang sempat hancur dikalangan pebisnis dan juga pejabat tinggi negara karena kasus perselingkuhan serta pembunuhan dan bunuh dirinya yang sangat fenomenal beberapa tahun lalu.


............


"Mutia! Apa kabar?"


Mutia menoleh kearah suara yang memanggilnya.


Seorang pria, tinggi tegap menghampirinya.


"Sini, kubantu bawa belanjaannya!"


"Tidak, tidak usah... terima kasih. Saya bisa sendiri, Mas! Hm... maaf, Mas ini siapa ya?"


"Kamu pasti lupa sama aku. Hhh... Malang nian nasibku!"


"Maaf...! Maaf saya benar-benar tidak ingat!"


"Aku ini teman SMA nya Christian! Pernah beberapa kali kita makan bersama waktu itu di acara reuni sekolah!"

__ADS_1


"Oh iya, maaf Mas! Maaf..."


"Fahrurrozi! Itu nama saya! Panggil saja Aa Alul!"


Fahrurrozi dengan percaya diri mengulurkan tangannya. Dan Mutia dengan sopan membalas uluran tangannya.


Ditempat tak jauh dari keduanya berdiri, ada orang lain yang mengendap-endap seraya membidikkan kameranya mencari angle yang pas untuk difoto.


"Mau saya antar?"


"Tidak terima kasih, Aa Alul! Saya sudah pesan ojol! Itu sepertinya sudah menunggu!"


"Oh, baiklah! Sampaikan salam saya pada Christian ya, Mut Imut!"


"I iya! Mari, A... saya permisi!"


"Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu. Hehehe..."


Mutia hanya bisa tersenyum kikuk. Agak ngeri juga hatinya mendapati teman sang suami yang agak lenjeh dimatanya.


Sepertinya usia-usia 35- 40 tahun itu usia rawan laki-laki mengalami puber kedua! Begitu kata hati Mutia.


Ia bergegas pergi meninggalkan pasar tradisional yang tak jauh dari perumahan Jonathan Lordess.


"Kak, kenapa gak ngajak aku juga, ish!" ujar Viona ketika mendapati sang kakak ipar yang turun dari ojek online didepan gerbang rumahnya.


Viona saat itu tengah menyiram tanamannya.


"Hehehe... Soalnya kalo ajak kamu, pasti kamu yang bayar semua belanjaanku! Aku jadi gak enak, Vi!"


"Ya Allah, kak! Aku khan adikmu. Gak apa-apa juga kali membayarkan belanjaanmu! Kakak sering bantu aku. Apa salahnya aku bantu Kakak juga!"


"Mas Chris bilang, jangan menyusahkan meskipun itu pada adik kandung sendiri! Hehehe...! Besok-besok aku ke pasarnya ajak kamu deh, Vi! Oiya, anak-anak belum pulang khan?"


"Belum, Kak! Mungkin ada pelajaran tambahan di sekolah!"


Keduanya masuk ke dalam rumah. Saling membantu membereskan belanjaan dan memasukannya kedalam lemari es.


Sejak tinggal bersama, mereka berdua tampak semakin akrab satu sama lain. Meski kadang kendala tidak enakan menjadi batu sandungan keduanya.


Secara keduanya adalah wanita yang memiliki egois tinggi untuk tidak ingin saling merepotkan satu sama lain.


Ada sisi ruang hati mereka yang merasa kurang nyaman. Baik Mutia juga Viona.


Mutia merasa dirinya hanyalah menumpang jika tak memberi kontribusi sama sekali dalam urusan pangan keluarga kecilnya.


Begitu pula Viona, merasa sangat tak enak jika tidak menjamu dan mengurusi semua kebutuhan keluarga kakak iparnya juga dan lebih suka jika Mutia menyimpan uangnya untuk keperluan yang lain.


...🌹🌹🌹...


Sementara itu Kartika masih belum bekerja karena keadaan kakinya yang masih lemah.


Bahkan sepulangnya dirawat, Kartika menggunakan kursi roda penyangga untuknya bisa bergerak tanpa perlu terlalu menyusahkan kedua orangtuanya.


Keinginannya bertemu Dzakki serta keluarganya masih belum terpenuhi. Sehingga masih menjadi ganjalan dihati.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Merebak seketika kaca-kaca bola matanya.


Baru saja memikirkan keinginan dan tekad bulatnya bertemu Dzakki, anak yang ia tunggu-tunggu itu telah datang bersama beberapa orang muridnya yang lain.


"Ibu Guruuu!!!"

__ADS_1


Keenam muridnya yang diantar oleh bu Irma langsung menubruknya. Mereka berebut berpelukan dan salim padanya.


Jatuh berderai airmata Kartika.


"Ibu, Ibu..., kenapa duduk di kursi roda?" tanya Lalita, gadis mungil berkepang dua.


"Husss...! Ibu Guru sakit, jangan banyak tanya!" bentak Hari, anak ganteng berambut ikal dengan mata melotot ke arah Lalita.


"Ish, aku khan cuma tanya!"


"Hik hik hiks..."


"Sudah, jangan ribut! Bu Guru jadi nangis tuh!" kata yang lain berusaha menenangkan guru cantik yang sudah lebih dari seminggu itu tidak mengajar.


Kartika langsung menarik jemari Dzakki yang diam sedari tadi.


"Tolong,... pegang kaki ibu, ya Dzakki! Hik hik hiks!"


Dzakki yang termangu, hanya menuruti permintaan ibu Guru Kartika.


Namun sebelum ia memegang kaki Kartika, jemarinya lebih dulu menghapus airmata guru cantiknya itu.


"Ibu sudah lebih baik sekarang. Jangan terlalu sering menangis! Ada perempuan lain yang ikut bersedih kalau ibu menangis!"


Deg.


Jantung Kartika seperti berhenti berpacu.


"Perempuan lain? Si siapa, Dzakki?" tanyanya sangat penasaran.


Dzakki menatap mata Kartika. Ia sadar, kalau ucapannya nanti akan membuat suasana jadi kacau.


Akhirnya Dzakki mengambil keputusan, membisiki telinga kanan Kartika dengan suara pelan.


"Itu! Dia berdiri di belakang ibu!"


Kartika langsung gemetar. Bibirnya bergetar lalu berbisik pada Dzakki.


"Si-apa?"


"Teman bu Guru! Ibu tidak pernah menengoknya. Tidak pernah menyambanginya. Dia sedih. Dia juga menangis karena mamanya yang salah faham pada bu guru atas kematiannya. Dan dia juga belum merasa tenang!" bisik Dzakki.


Dzakki tiba-tiba jatuh terduduk. Ia tersenyum menyeringai ketika Kartika memekik seraya menanyakan keadaannya.


"Tidak apa-apa, bu! Dzakki hanya lemas saja! Hehehe..."


Kartika yang merasa pundaknya yang selama ini berat, tiba-tiba terasa ringan. Lalu..., tangan Dzakki merengkuh lututnya. Membuatnya berteriak kesakitan.


"Dzakki!!! Kamu apain ibu Guru?" protes Hari yang langsung menarik tangan Dzakki dari lutut Kartika.


Kartika tercengang. Ia merasa tubuhnya tak seberat tadi. Dan sangat ingin mencoba berdiri dengan kekuatan tenaganya.


Hingga...


"Bu Guru!!! Bu guru bisa berdiri sendiri lagi!"


Kartika langsung memeluk Dzakki. Ia menangis tersedu-sedu. Berkali-kali kata terima kasih meluncur disela tangisnya.


Kegaduhan membuat Mama Kartika yang sedang sholat Dzuhur langsung keluar kamar.


"Kartika!!!"


"Mama!!! Ma, Tika bisa berdiri, Ma!!!"


"Alhamdulillah!!!"

__ADS_1



...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2