
Pagi hari seperti biasa Dzakki pergi sekolah. Diantar oleh Wawa' Tini dengan disupiri Wawa' Kenken karena Viona Sang Mama masuk kerja pagi pukul tujuh.
Sedang Dzakki sekolah pukul delapan pagi. Otomatis Mamanya berangkat lebih dahulu.
Seperti biasa, Dzakki membawa bekal makanan dari rumah. Untuk dimakan bersama di sekolah.
"Wawa'!"
"Ya, Anak ganteng?"
"Boleh Dzakki minta rotinya ditambah lagi?"
"Kenapa bawa bekal banyak-banyak? Nanti tak habis, mubazir, Dzakki sayang!"
"Untuk teman baru Dzakki, Wawa'! Boleh ya?"
"Oh, begitu. Oke, Wawa' buatkan lagi untuk teman baru Dzakki!"
Anak manis itu senang sekali. Rayuan imutnya berhasil membuat sang Wawa' menuruti permintaannya.
Dzakki juga mengambil uang dari celengan yang dipecahkannya kemarin malam setelah sang Mami mengec*p pipi dan mengucapkan salam selamat malam.
Uang itu akan diberikan kepada Pak Misteri yang membuatnya iba karena sakit panas.
Dihitungnya lagi, total 760 ribu rupiah. Bukanlah jumlah yang sedikit.
Dimasukkannya uang itu dalam tas sekolahnya.
Sebenarnya hatinya sedikit ragu. Ingin sekali bercerita pada sang Mami tentang kawan barunya, yakni pak Misteri.
Tapi Dzakki teringat pesan bapak misterius itu untuk tidak memberitahukan keberadaannya di belakang halaman sekolah karena takut diusir.
Akhirnya, Dzakki kembali tutup mulut. Demi keamanan dan juga kebaikan kawan baru baginya.
............
Sekolah belum dimulai, murid-murid kelas Dzakki masih bergerombolan. Bercanda dan bincang-bincang ringan satu sama lain.
Ada yang berkejaran, saling ledek dan saling canda satu sama lain. Ada juga yang duduk manis di depan mejanya. Salah satunya adalah Dzakki. Ia sesekali memeriksa uang yang ada di saku depan tasnya. Mengintip dengan hati-hati, mengamati perlahan kalau uangnya masih ada.
"Kamu pasti bawa hewan peliharaan ya?"
Salah seorang teman perempuan Dzakki mencurigainya.
"Apa? Bawa apa? Mana ada!"
Dzakki marah tak terima. Ia nyolot kesal bahkan sampai mendorong sang gadis kecil bernama Saraswati itu hingga terjelembab ke lantai.
"Oaaaa... huaaa hik hik hiks!"
Sontak Saras menangis. Hingga bergaduhlah para murid yang lain mengghibah Dzakki.
"Aku tidak sengaja. Maaf Saras, maaf!"
Dzakki sebenarnya adalah pribadi yang hangat. Dan tak pernah sekalipun berbuat kasar pada teman-temannya. Terlebih lagi pada anak perempuan.
Biasanya justru Dzakki-lah yang lebih sering melerai keributan antar teman. Namun kali ini, justru ia lah yang menjadi subjek kekerasan yang tak ia sengaja.
"Maaf, Saras!" katanya takut sekali seraya membangunkan anak perempuan yang terdorong olehnya.
Sayangnya Saras malah tak bergeming. Ia menangis semakin keras dan berlari mencari miss Geraldine untuk buat laporan.
Dzakki yang takut ditambah sorak sorai para teman yang lainnya semakin ciut hatinya.
"Hayo lo, Dzakki! Hayooo... kena marah kau nanti sama miss Geraldine dan miss Anya!" ledek teman-temannya membuat Dzakki makin risau.
"Dzakki tak bermaksud jahat sama Saras! Sungguh!"
__ADS_1
"Hayo tanggung jawab, Dzakki! Hayooo..."
Dzakki makin ketakutan. Ia mengambil tas ranselnya. Lalu berlari keluar kelas. Menengok kanan kiri dan berlari menyusuri lorong ke pintu belakang sekolah.
Ia tampak terengah-engah. Sesekali menoleh ke belakang. Mengawasi kalau-kalau ada yang mengikuti.
Hingga tiba di kolam belakang sekolah. Dan menyibak rimbunnya rumput belukar yang menutupi jalan ke gubug bedeng.
"Pak Misteri! Pak Misteri!"
Dzakki berteriak pelan. Memanggil-manggil nama julukan pria misterius yang menjadi temannya baru-baru ini.
Bocah itu mengintip dari balik jendela kaca yang kusam dan berdebu tebal.
"Uhuk uhuk uhuk," Dzakki terbatuk, tak sengaja menghirup debu yang menempel dikaca.
"Pak Misteri? Apa ada di dalam?" bisiknya lagi memanggil pelan.
Krieeeet...
"Pak Misteri! Where are you? Pak Misteri!"
Kosong.
Dzakki menghela nafas, kecewa. Orang yang dicarinya tidak ada.
Tapi,... tiba-tiba matanya mengarah pada satu bingkisan makanan ringan yang ada di atas dipan.
Dzakki mendekat perlahan.
Sebuah bingkisan makanan ringan yang cantik. Juga ada selembar memo tergantung di sana.
Dengan susah payah, Dzakki berusaha mengeja huruf demi huruf yang tertera.
"Se-la-ma-t... ti... ti-ng...ga-l!"
"Selamat tinggal? Pak Misteri berarti... sudah pergi?? Hhh... padahal..., Dzakki bawa uang celengan buat pak Misteri!" gumam Dzakki kecewa.
Lalu lamat-lamat terdengar suara para tutor memanggilnya.
"Dzakkiii...! Dzakki Boy Julian! Dzakkiii...!"
Gawat! Kalau sampai miss Gerald dan miss Anya tahu persembunyian Pak Misteri! ujar kata hati Dzakki gusar.
"Dzakkiii...! Dzakkiii...!"
Dzakki segera keluar dan...
"Dzakki! Syukurlah! Hallo, hallo pak Christian! Dzakki ada, Pak! Sedang bermain di halaman belakang sekolah! Iya, iya. Kami akan memperketat pengamanan di lingkungan sekolah, Pak! Baik. Iya. Sama-sama, Pak Christian! Selamat siang, pak!"
Miss Geraldine menutup sambungan telepon yang tadi dalam genggamannya.
Miss Anya merangkul tubuh Dzakki. Seketika cemasnya hilang.
"Sedang apa Dzakki di sini? Dzakki takut ya, kalau miss akan marahi Dzakki karena mendorong Saras?"
Dzakki menunduk. Matanya meredup seraya meminta maaf pada para gurunya perihal kenakalannya tadi pada Saras.
"Maafkan Dzakki ya, Miss! Dzakki janji, tak lagi nakal dan mengulangi perbuatan tadi!"
"Miss maafkan! Tapi lain kali Dzakki tidak boleh kabur melarikan diri seperti ini ya? Apalagi pergi sendirian ke belakang sekolah seperti ini. Berbahaya, Dzakki!"
"Iya, Miss Gerald!"
"Janji tak kan mengulangi?"
__ADS_1
"Janji, Miss Anya!"
"Ini... bingkisan dari mana?" tanya miss Anya curiga pada bingkisan yang dipegang Dzakki.
"I ini... ini...,"
Miss Gerald dan Miss Anya dibantu pak sekurity Taman Kanak-Kanak segera memeriksa setiap penjuru taman belakang. Dan...
"Miss...! Ternyata ada gubuk kayu di sini!" teriak pak Joko, sekuriti TK yang berhasil juga menyibak semak rerumputan tinggi.
"Dzakki...! Kamu..., dari sini? Dari dalam sini kah bingkisan itu?"
Para guru Dzakki memeriksa tempat itu setelah pak Joko terlebih dahulu masuk dan merasa kondisi aman terkendali.
"Ya ampun! Berarti kemarin-kemarin ada orang asing yang mendiami tempat ini, Pak!" kata miss Anya terkejut.
"Maaf, Miss! Saya lalai memeriksa sampai sini! Saya pikir, tempat ini tertutup dan tidak akan ada yang berani masuk sini!"
"Dzakki sayang! Sejak kapan kamu tahu kalau di sini ada rumah kayu?" tanya miss Gerald lembut.
"Sejak lima hari lalu, Miss!" jawab Dzakki takut-takut.
"Jangan takut, Dzakki! Miss tidak akan memarahi kamu. Mau cerita pada Miss Anya? Siapa nama orang yang tinggal di sini? Dan bagaimana ciri-cirinya?"
"Namanya, pak Misteri! Dia, seperti... Ayah Dzakki, badannya!"
Miss Gerald menarik nafas. Ternyata, ada seorang pria dewasa yang selama ini menetap di gubuk belakang sekolah.
"Sebaiknya gubuk ini dibongkar saja, Pak Joko! Berbahaya kalau ada orang jahat memanfaatkan tempat ini sebagai persembunyian!" tukas guru Dzakki itu was was.
"Ya sudah. Mulai sekarang, Dzakki tidak boleh ke sini lagi, ya? Berbahaya, sayang! Dan bolehkah miss Geraldine meminta bingkisan makanan itu? Nanti miss ganti dengan yang lebih besar dan lebih banyak isinya. Boleh ya?"
Dzakki mengangguk pelan. Ia hanya diam. Bingung pada semua tingkah dan tindakan para gurunya yang terkesan berlebihan.
Miss Anya membantu Dzakki membawa tas ranselnya. Dan...
Srek. (Sang Guru terkejut ketika membuka resleting depan tas muridnya itu)
"Dzakki...,"
"Iya, Miss!"
"Ini...uang banyak sekali di tas Dzakki. Uangnya siapa, sayang?"
"Uang Dzakki, Miss!"
"Dari Mami Dzakki?"
"Dari celengan."
"Dzakki bobok celengan?"
"Iya."
"Untuk apa, Sayang?"
Dzakki diam sesaat. Ragu-ragu ia ingin mengeluarkan unek-unek dihatinya. Tapi akhirnya, Dzakki bercerita juga.
"Kemarin pak Misteri sakit panas. Dzakki kasihan. Makanya Dzakki bobok celengan buat pak Misteri berobat!"
Hhh... Ya Tuhan! Polosnya bocah tampan ini! bisik hati kecil miss Geraldine.
"Bukan karena diancam dan disuruh pak Misteri?"
"Bukan, Miss! Itu maunya Dzakki sendiri."
"Sayang...! Lain kali, kalau Dzakki mau bantu seseorang... Dzakki harus ceritakan dahulu pada Mami atau Ayah Dzakki, ya? Harus diketahui mereka, ya sayang?!"
__ADS_1
"Iya."
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...