PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 56 Mimpi Buruk Yang Nyata


__ADS_3

Ibukota seolah mengerti perasaanku. Hujan turun dengan begitu derasnya. Membuat kami tertahan di lobi bandara Soetta dengan wajah datar di pukul delapan pagi.


Treet... treet... treet...


Hapeku berdering dan airmata ini langsung menetes menatap layarnya yang tertulis 'Ibu Sayang calling'.


Ibuku seperti memiliki telepati yang kuat. Betapa aku ingin curhat untuk melepaskan penat. Otakku seperti pisau yang sangat tumpul hingga tak mampu berfikir lagi dengan logika.


"Hik hik hiks... Ibuuuu! Mas...mas Delan mengkhianati janji suci pernikahan kami, Bu!"


"Ibuuuu... huaaa, hik hik hiks!"


Kutumpahkan semua kegundahan hatiku pada Ibu padahal beliau jauh diujung sebrang. Tentang betapa jahatnya suamiku bermain api di belakangku. Dan tentang semua penyelidikanku dengan kak Firman yang berakhir dengan kekecewaan.


"Ayah? Ayah sama Ibu mau jemput Viona? Sekarang? Iya kha? Hik hik hiks... Vio masih di bandara! Iya!"


Klik.


Ibuku ternyata sedang dalam perjalanan. Bersama ayah yang tengah menyetir mobil tua kesayangannya. Mereka berencana akan menjemputku langsung di bandara.


Aku beruntung memiliki orangtua lengkap. Mereka mensupportku penuh dan menghiburku agar tetap berfikir jernih.


Kak Firman masih setia menemaniku. Aku berterima kasih sekali atas bantuannya yang banyak padaku. Bahkan di saat seperti ini. Di momen-momen keretakan rumah tanggaku yang kukira akan bahagia selamanya.


Ternyata cintanya semu belaka.


Apa... apakah mas Delan memang sebenarnya tidak mencintaiku sedari awal pernikahan? Bisa jadi. Ya. Bisa jadi memang dia tak mencintaiku tapi terpaksa mencintaiku. Kalau itu betul, bukankah sebaiknya ia jujur padaku? Dan aku pasti akan melepasnya dengan rela tanpa harus melakukan tindakan gila, menikahi Lady tanpa sepengetahuanku. Hik hik hiks...


Kak Firman memberiku se-cup kopi nescafe yang dibelinya di kafe kedai bandara. Masih mengepul panas, tapi aku malah menyeruputnya langsung tanpa ditiup.


"Auwww..."


"Hati-hati, Viona! Masih panas!"


Jemari kami saling berpegangan di antara cup plastik. Seperkian detik kedua pasang netra pun saling tatap.


Aku hanya bisa melengos, memalingkan wajah seraya menghela nafas pendek. Aku tak ada niat 'main hati' di saat seperti ini. Sifatku bukan pendendam parah hingga ingin membalas semua perbuatan buruk suamiku.



Sejam berlalu membuatku kembali menoleh kanan dan kiri. Tak jua kulihat Ayah dan Ibuku datang menjemput.

__ADS_1


Kucoba menelpon hape ibu. Tak aktif. Lalu menelpon ke nomor kontak ayah.


Tut tut tut tut


Tut tut tut tut


Aktif tapi tak ada yang mengangkat. Mungkin Ayah sedang sibuk dibalik kemudi. Dan menurut prediksiku ada dalam area jalur macet.


Tut tut tut klik


"Hallo Ayah? Macet parah ya Yah?"


...[Hallo! Hallo... Ini pemilik hape ini kecelakaan lalu lintas! Ini siapanya? Hallo...]...


Bagaikan petir disiang bolong. Aku tersekat masih dengan mata terbelalak dan linangan air mata kembali mengalir.


"Kak Firman!!! Kakak!!!" teriakku histeris sambil memberikan handphoneku padanya.


Kak Firman menghandle semuanya. Tangannya menarik jemariku yang basah keringat dingin bercampur tetesan air mata.


Tak peduli kemana kini ia menuntunku setengah terbang berlari.


Sebuah taksi membawa kami kesebuah rumah sakit besar.


...Ruang Jenazah...


"Ka-kak! Kak Firman, Ayah... Ayah Ibu dimana?"


Kak Firman meraih bahuku hingga tubuh ini setengah kekuatannya tersangga ditubuh atletisnya.


"Kak Firman!"


"Yang sabar, Viona! Tabahkan hatimu, kuatkan dirimu!"


"Kak Firman! Kita pasti salah ruangan!!!"


Seorang perawat berpakaian seragam hijau dengan masker menutupi setengah wajahnya membukakan pintu 'RUANG JENAZAH'.


"Kak Firman! Kak..."


Aku menempel erat ditubuh kak Firman.

__ADS_1


Tak kupedulikan diri ini yang seperti cicak melekat. Aku benar-benar butuh kekuatan.


Sekujur tubuh tertutup kain putih membuat lututku gemetar sekali.


"I ini...siapa?" tanyaku pelan.


"Ini siapa, Kak?" Kak Firman menarik tengkukku hingga merebah di dada bidangnya karena tubuhku yang lebih pendek sekitar tiga puluh centimeter.


Kaki kami sama-sama melangkah pelan. Tangan kak Firman membuka lembaran kain putih yang menutupi sesosok...jenazah berlumuran darah.


"Ayaaaaah!!!"


Aku menjerit histeris melihat sesosok jenazah itu.


Itu ayahku! Itu ayahku! Ayah yang biasanya selalu menjagaku dengan segala ketegasannya.


Ayah! Ayah!!!


Jeritanku membuat kak Firman tak bisa berkata-kata. Air matanya ikut menetes penuh raut kesedihan.


"Ayaaaah!!! Ayah, ini pasti bohong khan? Ini pasti prank khan? Ayah pasti cuma ingin menghibur aku dengan semua kebohongan ini khan, Ayah?"


Kugoyang-goyangkan tubuh kaku ayahku agar beliau tertawa dan memelukku meski jarang tertawa lebar.


"Ayo ayah, bangun Ayah! Ibu dimana? Dimana Ibu, Yah?"


Perawat tadi yang hanya bisa menunduk di belakang kami lalu berjalan ke ranjang besi sebelahnya. Dan membuka satu kain lagi di tubuh jenazah lain.


"I ibu? Ibu? Ini Ibu?? Bukaaan... Ya Tuhaaaan! Cepat sadarkan aku dari mimpi buruk yang panjang ini ya Tuhanku! Tuhaaaan... Aku minta ampun Tuhaaaan!"


Aku semakin histeris. Semakin kalang kabut mencoba mengelap wajah ibuku yang juga penuh dengan darah yang masih mengalir dari atas kepalanya.


"Hahaha... Ini mimpi yang sangat menakutkan! Sungguh aku ingin segera bangun! Kak Firman, tampar aku kak! Tampar agar aku bangun di tempat tidur! Tampar hik hik hiks"


Kak Firman hanya diam menunduk. Air matanya jatuh satu-satu seolah tak malu memperlihatkan kecengengannya dihadapanku.


"Kak... Pukul aku kak! Huaaa hik hik hiks!"


Gubrak.


Aku tak tahu lagi. Apa yang terjadi pada diri ini. Semoga saja ini benar-benar mimpi buruk bagiku.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2