
Pukul dua belas malam akhirnya Viona keluar dari ruang rawat inap.
Setelah cukup lama mengurus biaya administrasi serta berdebat dengan dokter jaga yang ada di ruang ICU, Viona pun diizinkan pulang juga.
Keluarga kecil Roger ditambah Herdilan, meluncur menuju kediaman Christian.
Disana mereka merasa lebih aman dari gangguan-gangguan tak kasat mata.
.....
Dilain tempat, sebuah gubug bambu di tengah persawahan habis terbakar setelah beberapa jam lalu tersambar petir yang sangat besar.
Habis seluruh isi gubug itu, tak bersisa.
Bahkan pemiliknya pun nyaris mati jadi orang panggang. Untungnya masih terselamatkan walaupun separuh tubuhnya hangus dan saat ini masih dalam keadaan kurang sadar.
Mungkin kalau dibawa ke rumah sakit besar, kondisi Mbah Jambrong saat ini koma atau mati suri.
Dzakki dan keluarganya kini bisa bernafas lega. Maminya sehat dan adik bayi yang ia pinta pada Tuhan, kini dalam keadaan aman. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi, maka adik lelaki akan lahir ke dunia menemani hari-harinya.
Namun ternyata tidak baik-baik bagi Christian, sang paman.
Perusahaan Christian kini sedang terguncang setelah tender besar yang mereka capai, tidak bisa memenuhi target tepat pada waktunya. Bahkan kini ia dalam posisi menuju kebangkrutan.
Chris meminta adik iparnya untuk mengantarkan kedua anak kembarnya dari pesantren esok hari.
Mereka batal menjemput dan doa bersama.
Chris harus ke kantor Subuh demi membenahi pembukuan serta meeting bersama beberapa pemegang saham terbesar demi membicarakan kondisi yang rumit ini.
Ia harus bisa mencari jalan melobi para perusahaan yang bekerja sama dengan pihak perusahaannya.
Seperti inilah bisnis sebenarnya.
Dan Chris sudah cukup paham karena dia sedari muda mengikuti langkah sang Papa dalam berbisnis membangun usaha trading.
Kantor mereka saat ini mendapatkan waktu 7x24 jam untuk membenahi semua permasalahan.
Akan lanjut ke pengadilan kah? Atau legowo meninggalkan perusahaan yang di sita pihak bank. Kini Chris sedang dalam tahap seperti ini.
Mutia membantu sang suami dalam doa. Ia sangat gugup juga cemas.
"Kak, kami pamit pulang ya!?" kata Viona mencoba mendekati Mutia yang tekun beribadah di mushola rumahnya.
__ADS_1
"Iya, Vi! Maaf, aku ga bisa antar sampai depan ya?" jawabnya ramah.
Viona memeluk tubuh Mutia erat. Mutia bagaikan kakak kandung baginya. Yang selalu ada di saat-saat Viona susah. Kini seharusnya adalah waktu baginya memberi Mutia support dan dorongan doa pula.
"Aku akan bantu doa dari rumah!" bisik Viona dibalas anggukan Mutia.
"Jangan terlalu dipaksakan, Vi! Kandunganmu masih lemah. Istirahat saja, dan doakan di atas ranjang... kami InshaaAllah akan fight sekeluarga!"
Mutia tersenyum manis. Viona ikut tersenyum juga.
Baginya Mutia bagaikan bidadari surga yang turun ke bumi. Selain cantik dan baik, Mutia juga memiliki sifat dan sikap yang bijaksana. Dewasa serta penuh dedikasi tinggi dalam hidupnya.
Meski kehidupan rumah tangganya berawal dari ketidakbaikan, tetapi ia mampu bertahan bahkan merubah semuanya menjadi suatu keberkahan.
Tuhan Maha Baik, begitu ia selalu positif thinking.
Viona dan Roger serta Dzakki pamit undur diri setelah sarapan dikediaman Chistian.
Viona mencoba menyuruh Mutia ikut sarapan. Namun kakak iparnya menolak dan terus berdiam diri di mushola mendoakan kebaikan untuk sang suami yang sedang keluar rumah membereskan masalah perusahaannya.
Akhirnya keluarga kecil Viona tak bisa memaksa.
......
"Sial*n!!! Ini beneran deh, masa' bisnis katering kita sampa begini sih, Pak?!? Seumur-umur baru kali ini masakan katering kita ditolak karena basi dan berlendir. Bahkan tiga pabrik garmen langsung memutus hubungan kerjanya sama katering kita! Ga masuk akal!!!"
Bu Jamilah berteriak kesal. Membanting bantal-bantal kursi yang ada di sofa ruang tamunya.
"Ya mau gimana lagi? Mbah Jambrong juga sakit. Kena petir katanya kemaren sore. Anaknya itu yang jawab telepon aku!!!"
Sang suami tak kalah kesalnya. Ia juga melampiaskan amarahnya dengan membanting pintu rumahnya sangat keras.
"Pelan-pelan dong, Pak! Pintu rusak nantinya! Sudahlah kita rugi besar, pintu harus ganti juga!" gerutu sang istri.
"Lha? Khan Ibu duluan tuh yang lempar-lempar!?" jawab sang suami tak terima.
"Aku lempar bantal itu, ga ngerusak kayak kamu!"
"Heh? Kau duluan yang pancing-pancing emosiku! Marah-marah selalu padaku sebagai pelampiasan amarahmu! Aku ini kurang apa lagi sebagai suami? Sejak dulu aku manut sama kamu! Ga pernah sekalipun aku bangkang meski jiwa dan batinku tertekan!"
"Koq omonganmu jadi ngelantur, Pak? Apa maksudmu? Nyalahin aku sepenuhnya gitu?"
"Ya memang kamu selalu yang jadi biang masalah!"
__ADS_1
"Apa? Apa maksudmu?"
"Pikirkan masalah kedepan, jangan marah-marahin aku terus!!! Aku ini suamimu! Harusnya kau hormati, kau hargai! Kau mana pernah punya pikiran normal seperti itu. Selalu dan selalu aku yang jadi sasaran amarahmu tiap kali ada masalah!"
"Hellow!!! Kau ini laki-laki, Pak! Harusnya kau yang bergerak tiap kita ada masalah. Tapi mana? Mana gerakanmu? Mau di ranjang, mau di kehidupan, gerakmu lambat! Cuih! Kalau bukan aku yang mulai bergerak, mana mungkin kita bisa seperti sekarang ini? Anak-anak pun gak ada yang menghargaimu!"
"Wow wow wow! Semakin pintar kau menyudutkanku!!! Hebat, hebat! Sampai urusan ranjang pun kau bilang aku lambat! Ck ck ck, perempuan apa namanya ya, sebutannya itu! Mengumbar aib suami seenak udelnya! Padahal justru dialah yang gak becus mengatur semuanya dalam rumah tangga!"
"Apa yang ga becus? Yang punya ide bangun usaha katering itu siapa? Aku!!! Yang bisa masak dan bikin para pelanggan ketagihan masakanku itu siapa? Aku pula!!! Apa kerjamu? Cuma tunjuk sana tunjuk sini, ongkang-ongkang kaki sok jadi boss!"
"Hei, Betina! Kalau usaha kateringmu gak aku handle urusan keuangan, pengaturan dan juga semua-muanya, gak kan jalan bisnismu! Perusahaan kita maju juga atas campur tanganku, tau?"
"Campur tangan apa? Aku kalau tidak dibantu mbah Jambrong, sudah bangkrut dari tahun-tahun lalu!!!"
"O jadi kamu sama sekali tidak mau mengakui peranku dalam bisnis kateringmu itu? Hah? Mentang-mentang perusahaan itu kau bangun dengan namamu, lalu kau sombong begitu?"
"Lho memang kenyataannya khan? Memangnya aku salah bicara? Ish, kau saja yang sok kepedean ngaku-ngaku berjasa. Padahal kerjamu itu, gak ada sama sekali!"
Plak
Sebuah tamparan mendarat dipipi bu Jamilah. Suaminya kini benar-benar merasa terhina.
"Jadi selama ini aku tidak ada jasa dimatamu, Jamilah?"
Jamilah hanya melotot tak berkedip. Matanya merah, hatinya semakin marah.
"Pergi kau lelaki lemah! Pergi! Pergiii!!!"
"Kau ini memang benar-benar sudah jadi wanita iblis! Sudah berani mengambil anak gadis orang lain sebagai tumbal, sekarang kau menyuruhku pergi! Ck ck ck... Anak-anakmu sendiri tak ada yang akan memihakmu jika tahu kelakuan bejatmu!"
"Bodo amat! Apa pedulimu? Hah? Mana pedulimu ketika putriku satu-satunya mati tertabrak mobil? Kau hanya diam dan diam! Aku hampir gila memikirkan harus kehilangan anak perempuan yang paling ku sayangi! Kau tidak punya pemikiran apapun!"
"Itu karena aku tahu, semua sudah terjadi! Semuanya harus seperti itu dan kita harus terima!"
"Tidak! Tidak akan terjadi kalau si Kartika itu tidak sakit, dan masuk sekolah. Kalaupun harus terjadi, aku lebih ikhlas kalau anak bu Fajar itu juga mati bersama putri kita! Baru aku ikhlas!!!"
"Wanita gila!"
"Kau yang gila!!! Pergi kau, pergiii!!!"
Bu Jamilah mengamuk. Mendorong keras tubuh suaminya hingga keluar rumah dan mengunci pintunya segera.
Ia benar-benar dalam keadaan hati yang terbakar.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...