PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 90 MASIH BINGUNG


__ADS_3

Kak Jo menjagaku meskipun ia sedang tak ada di sini. Kami berbincang lewat tulisan. Bercengkrama lewat kata-kata.


Banyak pesan yang kak Jo tulis untukku.


Aku harus menjual semua aset yang kudapat dari Herdilan segera. Karena dalam beberapa minggu ini, suasana rumah tangga kak Tania dan papa Bambang memanas katanya.


Membaca ketikan kak Jo, jujur aku agak merinding ngeri juga.


Akan ada kejadian-kejadian di luar dugaan nantinya, kata kak Jo lagi.


Aku memutuskan segera ambil tindakan. Kucoba chat Ira, menanyakan apakah istri pejabat yang pernah sangat tertarik untuk membeli saham butik sudah menjawab chatnya.


Aku juga minta tolong kak Firman untuk ikut menawarkan rumah serta mobil atas namaku kepada teman-teman seprofesinya. Siapa tahu ada yang berminat membeli. Karena aku ingin gerak cepat 'membuang' semua yang berhubungan dengan Delan dan keluarganya.


Menjual properti serta kendaraan roda empat bukanlah hal yang mudah.


Butik termasuk yang tercepat. Karena prospek grafik penjualannya yang memang menggiurkan. Membawa banyak keuntungan dengan lokasi yang sangat srategis di hunian real estate dan perkantoran-perkantoran elit.


Butik terjual dengan harga cukup tinggi hanya dalam waktu sepuluh hari.


Kini mobil dan rumah masih status menggantung.


Ira bingung dengan langkah yang kuambil. Memang awalnya ia cukup mengerti kalau aku menjual butik. Karena beberapa hari yang lalu sempat mendapat teror juga insiden.


Aku hanya berusaha mengikuti nasehat kak Jo. Bukan karena aku tidak memiliki pendirian juga. Tapi karena firasatku mengarah akan terjadinya kebenaran yang kak Jo prediksikan tempo hari.


Mobil akhirnya kukembalikan ke dealer awal. Memang cukup jatuh dari harga belinya. Karena sudah menjadi barang bekas, walau aku tak pernah sekalipun memakainya.

__ADS_1


Tapi tak apalah, toh itu adalah hadiah tutup mulutku dari papa Bambang.


Jadi tinggal rumah yang masih belum terjual. Aku masih harus pulang pergi dari sana juga menengok rumah ayah ibu.


Atas saran kak Firman, aku mencoba menawarkan rumah kepada grup pemasaran properti. Memang ada pajak dan biaya administrasi yang wajib kukeluarkan nantinya jika rumah terjual. Tapi tak mengapa, semua bisa diakali dengan mencoba menawarkan harga tertinggi dahulu sebelum harga penawaran.


Tuhan benar-benar menyayangiku.


Rumah ada yang berminat, sesuai harga yang kutawarkan. Tapi minta waktu satu bulan, untuk jatuh tempo pelunasannya.


Hhh... Ya sudah. Atas saran dari pihak lawyerku, dan dibuatnya surat hitam diatas putih. Kesepakatan pun terjadi.


Jangka satu bulan saja, aku berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang lumayan cukup besar. Dan kak Jo menyuruhku membuat rekening baru serta menyimpan lebih besar dalam deposito berjangka sebelum aku mengambil langkah usaha lainnya.


Semua ucapan kak Jo bagaikan guru besar bagiku.


Kak Jo juga menyuruhku untuk menjual rumah keluarga dan memintaku tinggal di rumahnya.


"Kakak! Aku tidak berani mengambil tindakan yang terakhir itu. Rumah Ayah Ibu adalah peninggalan mereka yang sangat berarti. Aku tak kan pernah menjualnya karena di situlah kenangan manis hidupku tersimpan!"


"Viona,... Maaf! Aku seperti terlalu mengaturmu! Tapi..., akan ada sesuatu yang bisa menyeret semua asetmu."


"Maksud kakak?"


"Hhh... Anak pertama kak Tania sudah mengajukan laporan pidana atas nama Tasya Jessica! Aku takut, rumah ayah ibumu kena sita negara!"


"Kenapa? Itu rumah ayah ibu pribadi, Kak! Tak ada sepeserpun campur tangan uang mereka!"

__ADS_1


"Kamu salah, Vio! Ayahmu sudah menggadaikan rumah itu tiga tahun lalu karena kasus hilangnya barang-barang penting di brankas gudang kantor Ayah. Dan ayah terkena dampak harus mengganti semuanya supaya tidak sampai ke ranah hukum."


"Bukankah papa Bambang sudah membantu?"


"Kamu tidak tahu detailnya bantuan apa, bukan? Hehehe... Sama seperti kasus mas Bams, hanya untuk menutup kasus ayahmu hingga tidak ter-blow up keluar saja. Tapi memang setelah itu rumah ayah ibu ditebus oleh mama Tasya hingga kepemilikannya kembali ke ayahmu! Namun pihak bank mencatat nama Tasya Jessica sebagai penjaminnya. Jadi kemungkinan ditelusuri pihak kejaksaan jika sampai Christian memenjarakan Tasya dengan tuduhan pembunuhan terencana! Sebenarnya bukan kasus itu saja yang akan dituduhkan mereka."


Aku baru engeuh.


Yang kak Jo ucapkan semuanya benar. Bahkan sampai kasus ayahku sendiri pun aku tak tahu. Padahal pasti Ayah pusing memikirkan kasus yang membelitnya. Sedang aku sama sekali tak tahu menahu. Entah ibu, apakah tahu masalah ayah atau tidak.


Hhh...


Aku dengan saran kak Jo dan pak Tiur pengacaraku, langsung mengubah nama kepemilikan sertifikat rumah menjadi nama Om Tama, adik kandung ibu dengan catatan jual beli.


Itu hanyalah akal-akalan memang. Guna menghilangkan jejak nama mama Tasya di sana.


Meski termasuk pencucian uang, tapi secara hukum itu legal dan sah kulakukan karena memang nanti pihak kepolisian serta kejaksaan setempat hanya akan menyita aset mama Tasya yang sah saja.


Aku masih bisa tetap tinggal di rumah orang tuaku. Kak Jo hanya tersenyum pasrah, menerima keputusanku yang sedikit angkuh. Menolak ajakannya pindah ke rumah kak Jo.


"Baiklah, aku tidak bisa memaksa Viona! Tapi kumohon untuk beberapa hari ini, please tetaplah di rumah dan jangan kemana-mana!"


"Kenapa kak?"


"Tidak. Aku hanya khawatir pada dirimu saja, Vi! Juga takut banyak para jurnalis yang akan mengejarmu dan menyangkutpautkan masalah Tasya Delan denganmu juga!"


Eh???

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2