
Viona berdiri memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya.
"Ah... jangan terlalu kaku, Viona! Anggap saja rumah sendiri! Hehehe... "
Viona termangu, menatap wajah wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu.
Mirip Ibu. Wanita yang lembut dan tulus ini padahal sangat cantik! Lebih cantik di banding Mama Tasya, malah. Hanya... beliau memakai kursi roda, berarti kondisi tubuhnya tidak begitu bagus. Mungkin itu sebabnya Papa Bambang selingkuh dengan mama Tasya. Hhh... Sedangkan aku, mungkin karena tubuhku tak se-bohay Lady Navisha dan tak secepat perempuan dajjal itu dalam hal 'mencetak' anak. Hhh... Dasar lelakinya saja yang memang tak kuat iman!
"Ini kakakku Tania Camila, ini Viona Yuliana!"
Kak Jo memperkenalkan keduanya. Sementara Fika juga ikut meledeknya.
"Ini omku Jonathan Lordess, ini pacarnya Viona Yuliana!"
Pucat pasi wajah Viona, sementara kak Jo malah tertawa-tawa tak peduli pada kalimat yang diucapkan Fika, sang ponakan.
Viona menengok kanan dan kiri, khawatir Papa Bambang masih ada di sekitar lalu mendengar candaan putrinya.
Ah bodo amatlah! Ga mungkin juga papa Bambang nguping! Sudahlah! Viona menepiskan tangannya. Bergelud dengan fikirannya soal papa Bambang.
"Kemana mas Bams?" tanya kak Jo pada kakaknya.
"Biasalah, orang sibuk dia. Ga usah dihiraukan!"
"Sekarang kamu bisa bilang begitu. Dulu-dulu, mana pernah! Pasti karena kamu kini sudah tak mau lagi ikut campur urusannya bukan?"
"Lord! Jangan bilang begitu dihadapan tamu!" tukas mama Tania membuatku menunduk.
"Viona bukan tamu di sini! Viona berhak tahu semuanya! Juga tentang dirimu dan siapa dirinya!"
Apa yang menjadi perdebatan Mama Tania dan Kak Jo sungguh diluar jangkauan Viona. Kepalanya menjadi pusing karena itu bukanlah urusan bagi Viona. Tapi ia seolah tengah terjebak diantara keruwetan hubungan sebuah rumah tangga.
Ini semua, mama Tasya 'biang keladi'nya!
"Mama Tania sedang sakit?" tanya Viona berusaha mengalihkan pertikaian obrolan yang panas antar kakak beradik itu.
Sontak Fika, kak Jo dan Mama Tania tertawa.
"Mama Tania? Hahaha..."
"Maaf...! Bolehkah Viona memanggil mama Tania, dengan panggilan 'Mama'?" tanya Vio dengan sopan meminta izin.
__ADS_1
Viona tertegun. Kak Jo mengelus rambutnya lembut.
"Kakakku orang yang baik, Viona! Panggil saja dia 'kak', jangan buat Fika cemburu karena ada anak lain yang memanggilnya 'Mama'!"
"Apa sih Om? Fika ga kan cemburu kalau Viona yang panggil 'Mama'. Tapi... masa' iya, calon adik ipar panggil kakak iparnya 'Mama'? Hihihi... Maaf Viona, aku jadi ngakak!"
Viona tersenyum kecut. Agak bingung karena Fika terus-terusan bilang kalau ia adalah calonnya kak Jo.
"Panggil saja sesukanya Viona. Senyamannya Viona memanggil saya apa!" Mama Tania tersenyum manis pada Viona. Benar-benar orang yang baik.
"Tania! Sering-seringlah menghubungiku. Mulai sekarang, aku agak longgar dengan kesibukan. Jadi aku bisa sering kemari!"
"Jangan lupa, ajak serta Viona lagi ka sini ya Om!"
"Kalau itu om gak janji! Viona juga punya kesibukan. Apalagi sekarang Viona juga sedang hamil dan sedang sibuk mengurus perceraiannya juga!"
Viona tersentak kaget. Begitu juga Fika dan Mama Tania.
"Om merebut istri orang!?"
"Mengapa? Tidak boleh?"
Viona hanya bisa menelan saliva. Dihelanya nafas panjang guna menyadarkan otaknya yang makin oleng. Dan...
Kak Jo menggandeng tubuh lemahnya yang nyaris jatuh ke lantai karena pusing.
"Jo, Viona... Bawa aku ke luar!" pinta Mama Tania tegas.
Kursi rodanya di dorong kak Jo. Sementara Viona berjalan pelan mengikutinya dari belakang.
"Jonathan..."
"Kenapa? Ingin menasehatiku? Soal hubungan rumah tangga yang baik dan benar? Tak perlu usik diriku, Tania! Usik saja itu kehidupan Bams diluar sana! Bagaimana ia memperlakukanku dan juga si sundal itu?!"
"Jonathan Lordess!"
"Viona adalah istri dari putra suamimu dari Tasya Jessica!"
"What??"
"Dia juga ternyata diperlakukan suaminya seperti dirimu diperlakukan si Bams!"
__ADS_1
Viona menunduk sementara Tania diam.
"Kamu masih ingin tetap diam, Tania? Kamu akan terus diam diperlakukan seperti itu terus oleh mereka? Wanita iblis itu telah memiliki segalanya milikmu! Bahkan jiwa dan raga suami yang kau sanjung-sanjung itu!!!"
Viona semakin menundukkan kepala, melihat Jonathan menggila.
"Tasya itu saudara kita!"
"Saudara apanya? Saudara yang bagaimana? Yang dengan seenak jidatnya bertingkah seperti nyonya besar mengambil semua milikmu seolah itu adalah haknya?"
"Jo!..."
"Aku akan bertindak mulai sekarang! Terlebih... ada nyawa baru yang tak berdosa yang kini ikut terseret dalam lingkaran setan mereka! Harus di beri pelajaran sebagai efek jera!"
"Itu tugas Tuhan, Jo! Bukan tugas kita!"
"Tuhan selalu berfirman, tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tak mau merubahnya sendiri! Itu pertanda Tuhan menyuruh kita bertindak! Membela diri bukan perbuatan salah, khan?"
"Jo..."
"Aku pernah sampai dibuat gila oleh si sundal itu!"
"Tuhan tidak tidur, adikku! Mungkin ini cara Tuhan mengurangi dosa-dosa kita di masa lalu. Yakinlah, Tuhan punya 'cara' untuk mereka!"
"Dan kita mati begitu saja tanpa memberi mereka 'balasan'?"
Viona mengerti sekali arah pembicaraan kakak beradik itu.
"Kak Tania,... bolehkah Viona minta bantuan kakak sekalian untuk memberikan suami Viona pelajaran? Viona sedang hamil. Suami Vi menikah lagi dengan perempuan lain dan mamanya justru mendukung perempuan itu hanya karena status mereka yang sebagai perempuan kedua dan merasa teraniaya hidup mereka selama ini!"
"Jadi... Tasya mendukung anak lelakinya menikah lagi dengan perempuan lain?" Tania meradang mendengar cerita Viona.
"Dengar sendiri khan? Bagaimana itu sifat si Tasya? Bukan hanya padamu, padaku. Tapi pada Viona menantunya sendiri. Bahkan dia lebih membela istri kedua dari putranya itu, Tan!"
Viona dan Tania saling bertatapan. Kemudian seolah ada obrolan dalam hati lewat telepati. Hingga keduanya mengangguk perlahan... tapi pasti.
"Mari kita kuatkan diri kita!" Kak Jo merangkul Tania dan Viona bersamaan.
"Tasya harus segera sadar! Bahwa perbuatannya itu bukan sesuatu yang baik! Herdilan juga harus tahu, siapa itu mama yang sejak dulu ia bangga-bangga! Aku muak melihat gaya mereka dari hari ke hari!"
Kak Jo... menghelanya sambil mengangguk puas. Kini hatinya sedikit lega. Kakak satu-satunya itu akhirnya mau juga menerima ajakan berkongsi. Saling membagi kekuatan untuk menjerat kejahatan-kejahatan sepupunya, yakni Tasya Jessica.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...