PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 132 BERSAMA IRA, SAHABAT SETIA


__ADS_3

"Jadi... apa yang selama ini gue terka, ada benarnya!?"


"Aku juga gak ngerti, Ra! Kenapa Tuhan begitu niatnya mengubah takdirku seperti ini. Hhh... Aku bisa apa, Ra! Hanya berdoa dan berdoa, semoga hari esok hidupku lebih baik dari hari ini."


"Aamiin..."


Ira merangkulku hangat. Dihapusnya bulir airmata di pipi, tersenyum lagi padaku setelah terdiam, bengong dan termangu mendengar semua ceritaku.


"Apa lo udah fikirin matang-matang soal pernikahan lo nanti sama Jonathan setelah 40 hari melahirkan?" tanya Ira setelah cukup lama terdiam.


"Aku juga memikirkan itu, Ra! Aku juga tidak akan gegabah dan menerima begitu saja. Selain takut jadi omongan orang, aku juga tak ingin anakku nanti bingung soal cerita hidup Maminya! Bagaimana ia mendengar kisah orangtuanya yang divorce lalu sang Mami menikah lagi dengan pria yang seharusnya di panggil 'kakek'! Hhh..."


"Terus, langkah yang kamu ambil gimana?"


Aku menatap netra Ira.


Aku cinta kak Jo, Ira! Aku mencintainya sepenuh hati ini. Bahkan lebih besar dari cintaku pada Delan dulu. Salahkah aku memiliki 'rasa' itu, Ra?


Aku tak berani berkata jujur pada Ira, soal isi hatiku. Aku hanya bilang padanya, untuk saat ini aku butuh perlindungan seseorang. Dan kak Jonathan adalah orang yang paling tepat untuk tempatku bergantung.


"Aku hanya inginkan sahabatku bahagia! Tak ingin kamu kembali terluka oleh mulut manis laki-laki buaya! Kamu ngerti khan maksudku, Viona?" tutur Ira membuatku terharu.


Aku mengangguk. Lalu memeluknya erat.


"Aku selalu minta bantuanmu. Kumohon, tetap dukung aku ya, Ra...dalam keadaan apapun!"

__ADS_1


"Pastilah itu!"


Aku menangis terharu. Ira adalah sahabat terbaikku. Semoga selalu begitu, untuk selamanya. Kami dari teman, berubah dekat jadi sahabat, lalu kini semakin erat bagaikan saudara.


Tuhan! Kumohon jagalah selalu tali persaudaraan ini! Hanya pada-Nya lah aku meminta!


Kami kembali bercengkerama. Mengganti topik pembicaraan. Kini mengghibah soal percintaan almarhum Kak Firman dengan Mutia Permata Melody.


Aku sejujurnya tidak mengetahui sama sekali bagaimana manisnya hubungan mereka dahulu. Karena aku bukanlah 'anak HIMA' seperti Ira dan Delan.


Aku bahkan tak mengenal kak Mutia. Hanya dengar cerita sepintas saja. Bagaimana kisah percintaan mereka yang luar biasa dari Ira dan teman-teman lainnya.


"Mereka dulu kami juluki 'sweety bunny'! Karena keduanya pasangan bucin parah."


Aku termangu mendengar cerita Ira.


"Makanya. Masih untung kak Firman gak gila, Vi! Dia tegar, ketika Mutia memutuskan hubungan yang sudah melewati jenjang pertunangan. Hhh..."


"Iya. Kak Firman adalah lelaki baik!"


"Sangat baik! Bahkan aku pernah berharap, kamu dan kak Firman bisa bersama setelah badai ini terlewati. Dia cerita soal perasaannya padamu sedari dulu! Tapi dulu dia minder karena kamu anak tentara!"


"Kenapa memangnya kalau anak tentara? Toh kehidupan kami tak lebih baik dari kalian. Ayahku juga bukan berasal dari kasta yang tinggi!" sesalku dengan wajah menunduk.


Aku sempat mengharap lebih di masa itu. Sempat berkhayal dan bermimpi, kak Firman lah yang menjadi jodohku. Bukan Herdilan!

__ADS_1


Tapi... Hhh... Tuhan Maha Kuasa. Maha Berkehendak!


Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mendewasakan aku. Juga merubah jiwaku yang lembek menjadi lebih kuat.


Hhh...


"Apa sekarang Delan mengusikmu, Vi?" tanya Ira tiba-tiba. Mungkin ia teringat sesuatu.


"Alhamdulillah tidak! Aku tidak pernah bertemu dia lagi sejak pertengkaran kami di rumah pemberian papanya itu!"


"Syukurlah!"


"Kak Jo juga mengkhawatirkan diriku kalau bertemu Delan lagi!"


"Hehehe... Sugar daddy-mu ternyata penuh perhatian ya?" ledek Ira membuatku mencubit pinggangnya.


"Sugar daddy yang gak waras. Masa' segitunya sama perempuan hamil besar kayak aku! Kami hanya berhubungan karena ada simbiosis mutualisme. Saling membutuhkan untuk balas dendam!"


"Ceritamu jadi seperti kisah sinetron yang beratus-ratus episode, Vi! Hehehe..."


"Begitulah, Ra! Mungkin kisah ini bisa kutulis dan kukirimkan ke aplikasi novel online. Kira-kira ada yang baca ga ya?! Ish... dasar kau nih!"


Aku ngedumel, sementara Ira tertawa ngakak begitu senangnya.


Begitulah hariku bersama Ira, sang sahabat setia. Dari tangis sampai tawa. Dari cerita serius hingga canda. Berlanjut diskusi lalu haha-hihi. Hari berlalu tanpa kami sadari. Dan Ira harus pulang ke rumah orangtuanya setelah pukul tujuh malam.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2