
"Viona!"
Aku merasa sangat senang, kembali bertemu kak Jonathan.
Dandanannya kali ini membuat kak Jo terlihat lebih muda bahkan nyaris mirip seumuran Delan.
"Kakak dari mana?" tanyaku penasaran karena dresscode kak Jo begitu santai.
Ia tertawa lebar, manis sekali. Membuatku terpana seperkian detik namun kenyataan membuatku tersadar.
"Ayo, kita jalan-jalan!"
"Kemana?"
"Jangan harap jalan-jalan mewah kalau sama aku ya?"
"Hah???"
"Hahaha... Maksudku, kita backpacker-an! Alias ngegembel bukan dengan kendaraan yang ala-ala kaum jetset, Vi!"
"Tapi pakaianku seperti ini, Kak!" Aku memandangi tubuh sendiri.
Rok plisket panjang serta kemeja satin lengan pendek, karena baru saja menemui pengacara yang memberiku akta surat cerai.
"Ayo, kuantar kau ke toko pakaian di ujung sana! Kita beli beberapa stel pakaian santai!"
__ADS_1
"Tapi, Kak? Kita langsung otewe nih, setelah ini? Ke-kemana?"
Kak Jo menatapku tanpa bersuara. Hanya senyum seringainya yang seolah menantangku untuk bersedia mengikutinya.
"Oke, fine! Siapa takut!!?" jawabku akhirnya membuat kak Jo terbahak-bahak juga.
Kami berbelanja pakaian diskon. Memilih dan memilah kaos-kaos oblong untuk perjalanan panjang kami.
"Rencana berapa hari? Kak Jo memang ga ada kerjaan?" tanyaku meledeknya santai.
"Aku khan pengangguran! Beda sama suamimu yang seorang eksekutif muda di PHnya!"
"Ya ampun...! Aku juga harus mengabari Ira, Kak! Sudah beberapa minggu ini aku memberinya tugas berat mengurus butik!"
"Jual butik itu, Vi! Tapi terserah padamu! Karena kalau tidak,... beberapa bulan kemudian butik itu bisa jadi batu sandungan buatmu!"
"Pastinya! Dan saranku, sepulang kita liburan... segera kamu adakan press conference! Umumkan perceraian kalian pada publik. Ini saran terbaikku, agar kamu tidak ikut terlibat jauh di lingkaran keluarga Bams!"
Aku termangu. Bingung mengambil langkah.
"Ya sudah, kita lupakan semua ke-stres- an kita dulu! Hehehe..."
Hari itu kami berbelanja, bersenang-senang. Kemudian kak Jo mengantarku ke butik Kemang. Dan bibir manyun Ira membuatku tersipu malu.
"Ada ya Boss yang lupakan aset berharganya? Hei, Nona... berapa banyak istri pejabat tinggi yang bolak-balik ingin membeli saham butik ini?!" cibir Ira meledekku kesal.
__ADS_1
"Maaf Ira! Aku baru saja mengurus surat perceraianku. Maafkan aku, memberikan semua mandat mengurus butik ini sepenuhnya padamu!"
"Woles, Vi! Aku mengerti, kamu sedang dalam masa-masa sulit. Aku hanya bercanda! Dan... siapa pria dewasa yang tampan yang menunggumu di luar itu?"
Aku tersenyum. Ternyata Ira lebih penasaran dengan kak Jo.
"Nanti aku ceritakan semuanya. Kalau masalah rumitku ini selesai. Oke? Aku minta maaf menyusahkanmu terus, Ra!"
"Tak apa! Aku justru senang, butik ini bisa jadi milikku sepenuhnya. Hahaha... Boss pemiliknya justru kini tak peduli keuangannya. Aku bisa saja menipumu dan bilang grafik penjualan menurun drastis khan? Hahaha..."
Aku ikut tertawa. Ira memang temanku yang sangat luar biasa. Sahabat rasa saudara. Dan aku teramat beruntung memilikinya.
"Aku mau pergi dulu beberapa hari, Ra! Butuh pencerahan juga hilling perasaanku yang teramat kacau!"
"Iya aku mengerti. Hati-hati dan jaga kesehatan juga! Aku percaya, kamu tak akan berbuat sembrono. Yang justru membuatmu lebih terpuruk!"
"Tidak akan lagi, Ra! Aku janji, aku akan fight. Demi bayi yang kini kukandung ini!"
Ira mengangguk. Menggenggam jemariku erat. Kehangatannya menambah semangatku.
Ira adalah saudaraku. Meski beberapa minggu tak bertemu, tapi kami intens saling bertukar cerita via WA. Semuanya Ira tahu. Karena aku yang cerita. Bahkan juga tentang kejahatan Delan serta mama Tasya.
Kini Ira mendukungku sepenuhnya. Memberi semangat agar aku tak kembali terpuruk dan ingin mengakhiri hidupku lagi.
Tidak. Kali ini aku tidak akan menyerah. Aku yakin, Tuhan memberiku kekuatan untuk melawan. Apapun yang Tuhan beri, kini kuterima dengan lapang dada. Baik itu nasib buruk, ataupun jelek. Aku akan tetap berusaha mengubahnya menjadi takdir baik. Amin.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...