PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 235 IN FRAME "SEBULAN SERASA SEWINDU"


__ADS_3

Viona menanti kedatangan Roger hari ini.


Berkali-kali matanya melirik ke arah jam dinding. Mengira kalau waktunya sang kekasih hati tiba sebentar lagi. Padahal Roger telah mengabarinya baru akan tiba di bandara Soetta sekitar pukul sepuluh pagi. Sedangkan saat ini masih pukul delapan kurang.


Dzakki baru saja di antar ke sekolah oleh Tini dan Kenken.


Ya. Mereka memang memutuskan untuk pindah kembali ke Jakarta. Setelah apa yang terjadi di Ubud Bali. Juga atas permintaan Roger, supaya Viona dan Dzakki stay di Ibukota. Jadi mereka bisa ketemuan setiap tiga minggu sekali.


Ini adalah kepulangan terakhir Roger dari Surabaya karena masa kontraknya yang telah usai. Membuat Viona begitu senang.


Penantian mereka seperti sudah diujung waktu.


Masa-masa bahagia akan segera direguk. Dan berharap kali ini Tuhan meridhoi langkah yang diambil.


Viona mengambil wudhunya. Sholat Duha adalah yang terbaik, daripada fikirannya melanglang pada hal yang buruk.


Doa lebih baik daripada diam dan menunggu. Karena sebulan serasa sewindu bagi Viona.


Dua rakaat membuat hatinya lebih tenang. Juga doa keselamatan dunia dan akhirat serta doa untuk Ayah serta Ibunya pun telah Viona panjatkan. Semoga tenang di sisi-Nya. Aamiin...


Viona terkejut setelah mengakhiri sholatnya dengan salam ke kanan dan ke kiri. Roger tengah duduk di sampingnya dengan mata berbinar.


"Sayang? Kapan datang?" tanya Viona senang.


"Lima menit yang lalu. Kulihat kamu begitu khusu'. Senangnya jika sang pujaan hati selalu mendoakan keberkahannya!" puji Roger membuat hati Viona berbunga-bunga.


Ia mencium punggung tangan sang calon suami. Dibalas cium kening oleh sang pujaan hati.


Melting hati Viona.


Rasa rindu yang tadi membludak, kini seolah menguap seketika.


"Ayo, makan! Aku tadi masak soto ayam."


"Nanti saja, tunggu Dzakki pulang sekolah, Yang!"


Viona tersenyum simpul.


"Kenapa? Kenapa memandangiku seperti itu, Mas? Apa... ada yang aneh dari wajahku?"


Roger menggeleng. Senyumnya menggoda hati.


"Rasanya ingin cepat-cepat kita halal!" gumamnya dengan suara berbisik.


Viona malu. Dicubitnya pinggang Roger yang memekik antara sakit tapi senang.


"Ayo keluar, kelamaan di kamar bahaya!" ujar Viona membuat Roger terkekeh.


Viona tau aja! Kata hati Roger.


...⚘⚘⚘⚘⚘...


Dzakki senang ketika pulang sekolah mendapati sang Ayah yang menunggunya di teras rumah.


Klakson mobil yang Kenken kendarai membuatnya segera bergegas menanti sang putra.

__ADS_1


Pertemuan dramatis pun tak dapat dihindari lagi. Membuat Viona tertawa lebar dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya jika sudah bersama.


Benar-benar satu frekuensi! Gelitik hati kecil Viona.


Mereka makan bersama di meja makan yang penuh masakan Viona.


"Waaah, masakan Mami semakin uenak!" puji Dzakki sambil mengacungkan ibu jarinya. Puas.


Viona tersipu malu. Diliriknya wajah Roger yang juga mengangguk-angguk membenarkan ucapan putranya.


"Beneran makin enak!" tambah Kenken juga.


"Kalau Tini yang masak? Bagaimana?" Tini ikutan komen. Tapi bertanya pada sang suami.


"Tentu saja, masakan Tini yang terenak!"


"Uhuk...uhuk!"


Roger terbatuk-batuk sementara Viona dan Dzakki hanya tertawa saja. Mereka sudah terbiasa kini melihat kebucinan pasangan suami istri baru itu.


"Aku sih sudah kebal lihat kemesraan kak Ken dan kak Tini! Bahkan pernah sampai ikutan tengok bulan, lalu tengok wajah kak Tini!" kata Viona membuat Roger menghentikan makannya. Penasaran pada kelanjutan cerita sang pujaan.


"Kenapa memangnya?" tanyanya antusias.


"Ya kata kak Ken begini,... Tini! Lihatlah bulan purnama di atas sana. Begitu indah bulatnya! Sebulat wajahmu yang ayu dan mempesona!"


"Hahaha..."


"Hahaha... Viona kamu tuh ya!? Kenapa kamu ikutan tertawa jahat, Boss?!" tukas Kenken tertawa keras.


"Tapi kata mas Ken, begitu indah bulatnya Vi! Jadi aku tuh merasa tersanjung. Walau wajahku bulat, namun menjadi candu bagi mas Ken suamiku!"


"Ahhaay... hahaha...! Ini couple, sweet banget sih!?! Boleh aku masukin karung ga ya?" ledek Roger membuat Dzakki ikut tertawa.


"Kenapa mau dimasukin karung, Ayah?" tanya Dzakki.


"Biar Ayah bawa ke warung sembakonya Papi Delan biar di jual!"


"Hahaha... Ayah!"


Semua tertawa bersama dengan suka cita di suasana hangat nan ceria.


"Hallo, selamat siang! Aku ucapkan salam dari tadi ga ada yang nyahut!"


Semua menoleh ke arah pintu ruang makan.


Christian berdiri di sana dengan senyum simpulnya. Makin terlihat tampan dan berkharisma.


"Kak Chris!"


"Maaf, Boss! Kami terlalu heboh makan siangnya, sampai tak dengar salam tuan Cris!"


"Waalaikum salam! Kak, duduk Kak! Mari makan siang sama-sama!"


"Belum pukul dua belas tapi sudah makan siang! Hehehe..." ucap Christian di jawab tawa semuanya.

__ADS_1


Christian tersenyum senang. Belenggu rantai besi yang mengikat anggota keluarganya terlihat memudar samar dan perlahan sirna.


Viona juga, kini tak lagi ada tali pengikat di lehernya. Auranya kuning sempurna bersama aura warna-warni milik Dzakki.


Aura Roger tak kalah berwarna. Ada warna kuning keemasan diantara kilauan percikan seperti kembang api. Benar-benar sedang jatuh cinta, adikku yang satu ini! Gumam hati kecil Christian.


Benar-benar pancaran warna yang luar biasa. Ditambah juga aura Kenken dan Tini yang saling menyelimuti. Warna yang indah! Kata batin Christian.


Tanpa sadar ia pun menunduk. Melihat ke arah lehernya yang masih tergantung rantai kalung meski hanya tipis saja.


Hm... Rantaiku masih ada! Kata hatinya lagi.


"Kak! Woooiy! Kenapa malah bengong disitu?" tanya Roger membuat Christian tersadar.


"Aku ikut makan, boleh nih?!"


"Boleh lah, Kak!"


Viona mempersilakan Chris duduk di sampingnya.


"Ada perayaan apa ini? Menunya komplit sekali!" tanya Christian.


"Hehehe...! Hanya makan biasa saja, Kak! Mas Roger sudah pulang dari Surabaya. Senang rasanya kami kembali kumpul bersama!" Viona menerangkan. Dan Christian tersenyum sembari mengangguk senang.


"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Aku akan bereskan Villa Kencana Ungu milik Lody!"


"Wooow... gedung endorse, Vi! Gratis!!!" pekik Roger senang.


"Kata siapa gratis? Cicil tiga kali bayar ya itu! Secara kalian yang pertama memakai bangunan baru punya Lody! Yang punyanya saja belum pernah adakan untuk pesta!" gerutu Chris bergurau saja.


"Hahaha... ish, boss pelit ini mah!" tukas Roger.


Viona tersipu malu. Antara senang tapi haru. Rasanya seperti mimpi kalau ia akan jadi pengantin baru.


Roger menunduk. Ia tersenyum melihat wajah Viona yang merona. Sungguh suatu keajaiban. Karena sebentar lagi Viona akan jadi istrinya.


Hati Roger dan Viona mengeluarkan warna-warni pelangi yang membuat Christian terpaku.


Alhamdulillah...! Semoga cita-cita kuat mereka untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah warrohmah akan jadi nyata! Aamiin...


Christian berdoa dengan kekhusu'an tingkat tinggi. Ia ingin melihat saudara-saudaranya bahagia. Seperti dirinya yang bahagia memiliki Mutia Permata Melody.


Firman!... Aku lupa, aku belum pernah mengunjungi makam Firman! Dan meminta maaf padanya secara pribadi! Mungkinkah rantai kecil yang masih ada di leherku ini adalah bentuk kekecewaan almarhum yang telah merampas Lody dari hatinya?


Seketika wajah Christian membeku.


Hanya helaan nafasnya saja, yang mampu membuat dadanya kembali lega.


"Aku pamit ya, terima kasih atas jamuan makan siangnya!" katanya sambil berdiri setelah meneguk setengah gelas air putih.


"Kenapa buru-buru, Kak?" tanya Roger.


"Ada yang harus kukerjakan! Penting!" jawab Chris.


Seperti itulah sifat dan sikap Chris. Roger sebagai adik telah memahami karakter kakaknya. Ia hanya bisa mendoakan kesehatan untuk sang kakak yang memiliki kesibukan luar biasa.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2