PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 PERTEMUAN TAK DISANGKA


__ADS_3

Kedua pria dewasa itu akhirnya kalah oleh keteguhan hati bocah berusia tujuh tahun kurang itu.


Roger melarang Viona ikut dengan alasan rumah sakit adalah sumber penyakit. Dan istrinya itu sedang hamil besar.


Padahal sebenarnya larangan itu bukan karena itu. Tapi karena Roger ingat perkataan Christian, kalau Kartika Sari adalah korban dari ilmu hitam yang bisa membawa dampak juga kepada Viona yang sedang hamil.


Untungnya Viona menurut. Membuat Roger bisa sedikit bernafas lega.


Waktu berkunjung pasien yang memang dibatasi membuat ketiga lelaki beda generasi itu untuk menunggu jadwalnya satu jam lagi.


Akhirnya ketiganya memutuskan untuk quality time pergi ke taman kota yang tak jauh dari rumah sakit.


Roger dan Herdilan tertawa lepas. Mereka dikerjai sang putra yang mengajak bermain kejar-kejaran.


"Papi, Ayah...main petak jongkok yuk? Nanti kalau kalian kena tepuk, tandanya kalian yang jaga. Dan harus tepuk yang posisinya berdiri. Ya, ya?"


Kedua pria dewasa itu hanya tertawa pasrah mengikuti arahan Dzakki.


Sungguh permainan yang menyenangkan di jaman mereka kecil. Namun kini jadi Pe'er juga karena menguras tenaga dan emosi.


Roger dan Herdilan tanpa sadar berhasil dibuat Dzakki menjadi lebih dekat satu sama lain. Terlebih karena harus saling mengejar satu sama lain ketika Dzakki sudah mengambil tindakan berjongkok.


"Hahaha..."


"Hahaha... Ayah, ayo kejar Papi!"


"Yassalam, hadeuh hahaha..."


Bermain sampai puas dan azan Ashar berkumandang. Ketiganya segera menunaikan kewajiban.


Melangkah menuju tempat ibadah. Dengan hati tenang dan penuh suka cita.


Pukul empat sore, mereka kembali ke rumah sakit tempat Gurunya Dzakki dirawat.


.....


Dzakki memasuki ruang opname bu Guru Kartika setelah mendapat kabar letak dan nomor ruang kamar inapnya. Sementara Roger dan Herdilan mengikutinya dari belakang seraya menenteng parsel buah dan juga dus kue.


"Ibu Kartika!"


"Dzakki? Sama siapa, kesininya?"

__ADS_1


Kartika Sari terkejut, melihat bocah yang jadi anak didiknya di sekolah tiba-tiba muncul dengan wajah polos manisnya.


"Sama Ayah, sama Papi juga! Ibu sakit apa? Sini biar Dzakki bantu doa sama Allah, moga bu Guru cepat sembuh!"


Yang namanya bocah, meski ucapannya serius...namun memang pastinya ada ciri khas keimutannya yang seolah memiliki daya khayal luar biasa.


Dzakki bertingkah seperti spiderman yang sedang melakukan trik mengeluarkan jaring laba-laba dari kedua tangannya. Membuat sang ibu guru terhibur dan tertawa tanpa sadar.



Papa dan Mama Kartika ikut senang, akhirnya putrinya mau tertawa juga.


"Assalamualaikum! Maaf... kami orangtuanya Dzakki," sapa Roger yang langsung disambut baik oleh orangtua Kartika Sari.


"Waalaikumsalam! Terima kasih banyak, kami sangat senang sekali mendapatkan kunjungan dari keluarga murid putri kami, Kartika Sari!" balas Papanya Kartika, sumringah.


"Oiya, ini kiriman dari Maminya Dzakki. Mohon maaf, istri saya tidak bisa ikut karena kondisinya yang sedang hamil besar."


Roger dan Herdilan menyodorkan buah tangan yang sedari tadi mereka bawa. Seketika langsung diterima Mamanya Kartika dengan wajah gembira.


"Terimakasih banyak, Mas-Mas yang baik hati semua! Terima kasih sekali!" kata Mama Kartika.


Tiba-tiba...


Herdilan menatap Kartika. Mengingat-ngingat dimana ia pernah berjumpa dengan ibu guru putranya itu.


"Oh iya. Iya saya ingat!"


"Abang yang... menolong saya waktu tas saya dijambret di atas biskota!" ujar Kartika Sari spontanitas.


Herdilan tersenyum kikuk. Ia mengangguk pelan.


"Tapi... penampilannya sekarang sangat berbeda sekali! Abang semakin keren sekarang!"


"Uhuk uhuk uhuk!" Roger pura-pura terbatuk. Niatnya menggoda saudara tirinya namun ternyata membuat memerah pipi Kartika pula.


"Hehehe..."



"Ternyata, Mbak adalah gurunya putra saya ya!? Hehehe... dunia ini sempit ternyata ya?!" ucap Herdilan malu-malu.

__ADS_1


"Aih? Dzakki putra Abang? Putra kandung,... atau...! Maaf, maaf... saya lancang banyak bertanya! Abaikan saja pertanyaan saya! Hm... Dzakki, terima kasih banyak sudah mau menjenguk Ibu!"


Kartika berusaha mengalihkan pembicaraan. Mencoba mengubah suasana yang tadi agak sedikit kacau karena pertanyaan bodohnya yang tanpa pikir panjang.


Dzakki mendekat. Bocah itu hanya tersenyum penuh misteri. Jemari mungilnya seolah mengerti pada sakit yang dialami Kartika. Dan ia memijit-mijit layaknya bocah biasa pada kaki Kartika yang tertutup selimut panjang.


Kartika tersedak. Ia merasakan energi panas di sepanjang ruas tulang kaki yang dipijat Dzakki.


Matanya tak berkedip memperhatikan jemari bocah disampingnya itu. Jemari Dzakki sangat mungil. Pijatannya pun terlihat seperti asal-asalan. Namun ternyata dibalik itu... ada saluran energi yang luar biasa dahsyat yang Dzakki alirkan.


"Dza Dzakki?!? Te-terima kasih banyak!" kata Kartika lirih. Airmatanya seketika jatuh berderai.


Seolah ia melihat banyak kejadian di belakang. Bagaikan potongan slide yang menjadi frame kisah hidup Kartika dimasa lalu.


Saat-saat SMP nya yang indah dan penuh suka cita. Berlari, tertawa, bercanda bersama sahabatnya sedari kecil... Chintia.


"Tik, Tikaaa!!!"


"Hahaha... Suwe bener deh, tuh cowok masa' mau sama kita berdua! Ogah gua mah sama cowok kemaruk model si Diaz itu! Harus kita apain enaknya tuh cowok ga ngotak gitu! Ish!"


"Hahaha... Dia bilang, Tika istri pertama. Tia istri kedua. Ya ampun...!!! Hellooow, kepedean banget sih tuh cowok!"


"Ya udah! Kita kerjain yuk, Tia? Lo pura-pura terima cintanya. Gue juga! Kita peras dia. Minta ini itu,... gimana?"


"Kita belajar jadi cewek matre gitu, Tik maksud lo?"


"Ho'oh! Rugilah kita, dia enak-enakkan maenin kita. Emang kita boneka, apa!?! Huh...!"


"Boleh juga tuh ide lo, Tik! Hahaha...!"


Keduanya berangkulan seraya tertawa terbahak-bahak. Sangat menyenangkan masa mudanya yang polos ceria.


Kartika terkenang pada masa-masa bahagianya ketika Chintia masih hidup.


Tak jarang ia menginap di rumah Chintia. Begitu juga sebaliknya. Karena rumah mereka bertetangga, dan hanya terhalang lima rumah saja.


Chintia sudah seperti saudara baginya. Bahkan mereka sering bertukar pakaian karena size mereka yang sama.


Orang-orang sekitar menyebutnya kembar tapi beda. Karena wajah mereka yang cukup mirip satu sama lain.


Begitulah... Kartika menangis mengingat persahabatannya dengan almarhumah Chintia.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2