
Hari ini aku siap menyambangi Papaku yang masih ditahap penyidikan di kantor pusat KPK.
Banyak para kuli tinta pastinya. Dan itu membuatku menjadi semakin down kena mental.
Pertanyaan-pertanyaan pedas mereka yang sok suci membuatku hatiku ciut semakin mengecil beberapa inci.
Makanya aku cari aman, mencoba masuk lewat jalan belakang kantor KPK yang lebih lengang dari para wartawan yang siap membully.
Huuufffh!!! Aman! Aku bisa terbebas dari todongan mic dan pertanyaan para jurnalis yang mencari nafkah dari mengghibah dan menguliti para pendusta seperti Mama juga Papa! Hhh...
Ditemani pengacaraku pak Sembiring SH, aku menunggu antrian untuk dapat berjumpa Papa.
Kami duduk di ruang tunggu KPK lantai lima. Cukup tenang dan sunyi. Karena ruangan kedap suara serta tidak ada karyawan yang lalu lalang. Hingga tiba-tiba kudengar langkah kaki berderap melangkah mendekati ruangan.
Ada beberapa orang sepertinya. Bahkan terdengar ada suara hak sepatu tinggi milik seorang wanita juga.
Tok tok tok
Papa sepertinya! gumamku menerka.
Ternyata...
Kak Christian, istrinya juga beberapa orang pengacara mereka.
Jantungku berdebar kencang. Hati ini bergolak tak karuan. Setelah sekian lama aku hanya beberapa kali melihat wajah tampannya di layar televisi... Kini ada di hadapanku. Berdiri dengan gagahnya dan penuh kharisma.
"Kau..."
Aku diam. Tapi mata ini memandangnya tak berkedip. Pertanda aku telah siap mental bertemunya kini.
Istrinya merengkuh tungkai lengan kak Christian yang mengeras rahangnya.
Aku mengajaknya bersalaman. Mencoba berdamai dengan keadaan. Biar bagaimanapun, kami adalah saudara. Satu ayah biologis yang sama dengannya. Sama-sama putra dari Papa Bambang Suherman.
Tak kusangka dia yang kunilai arogan di layar televisi ternyata tak seangkuh itu.
Meski raut wajahnya datar dan tak sedikitpun tersungging senyuman. Tapi kak Christian menyambut genggaman tanganku.
Tangannya hangat, tidak dingin sepertiku. Pertanda kalau ia bukanlah orang yang gampang jatuh dan prustasian seperti aku.
Kini semakin terlihat kecil sekali diri ini dihadapannya.
__ADS_1
Aku... dikandung seorang perempuan cantik yang haus pamor dan ketenaran. Sedangkan dia... dikandung oleh wanita luar biasa yang memiliki cinta untuk anak-anaknya hingga bertahan sampai akhirpun tak sempat menandatangani perceraian dengan Papa yang telah mendua. Bukan, mentiga malahan.
Hhh...
Aku menunduk. Tapi kemudian tersadar dan kembali mengangkat kepalaku.
Kami sederajat. Sama-sama anak Papa Bambang Suherman! Di sini kami memiliki tujuan yang sama pastinya. Yaitu mengunjungi dan membantu proses penyidikan hingga kasus Papa segera diselesaikan.
Kami duduk bersama. Tapi tidak saling mengobrol satu sama lain. Hanya sesekali istrinya mencoba mengajaknya bicara guna mencairkan suasana.
Aku mengenal wajah istrinya, dari foto-foto yang Firman perlihatkan tempo hari.
Istrinya kak Chris adalah mantan kekasih dan tunangan Firman Setiawan. Katingku yang kubuat nyungsep di sungai selatan Ibukota. Entah bagaimana kabarnya saat ini? Aku tak tahu pasti.
Dulu aku dan kak Firman cukup akrab. Beberapa kali juga pernah mengantarnya ke rumah perempuan yang dekat dengannya. Namun Mutia Permata Melody, aku tak pernah tahu hubungannya dengan Firman.
Karena di semester enam aku memutuskan berhenti dari kegiatan HIMA dan fokus kuliah juga project mural setelah tunangan dengan Viona.
Mutia Permata Melody sesekali terlihat melirikku.
"Apa kabar Herdilan Firlando?" tanyanya sopan membuatku terkejut juga.
Ia menyapaku duluan dihadapan sang suami yang terlihat agak keheranan melihat kami saling kenal.
Mutia tersenyum dan mengangguk.
"Baik juga. Kalau tak salah, kamu juga anggota HIMA adik tingkat Firman khan ya? Kabar Firman bagaimana?"
Wow! Berani juga perempuan cantik ini menanyakan kabar mantan tunangan dihadapan suaminya!
"Sepertinya keadaannya baik-baik saja! Kamu... mantan tunangan Firman khan?"
Mutia menunduk. Tetapi bibirnya tersenyum.
"Apa kalian masih suka bertemu teman-teman yang dulu?" tanyanya lagi tanpa pedulikan tatapan kak Christian yang tak berkedip padanya.
"Masih. Bahkan akhir bulan lalu kami reunian. Seperti biasa, hanya anak-anak kating yang aktif di HIMA dulu! Firman salah satunya."
"Sepertinya dia makin sibuk di media ya?"
Aku tersenyum mengangguk. Agak bingung dengan pertanyaan istri kak Christian.
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan Mutia, Christian dan Firman? Hmm... Sepertinya kisah di antara mereka menarik juga.
"Kudengar Firman kecelakaan! Cobalah hubungi Ira! Dia punya kontak Firman juga! Tanyalah keadaannya!"
"Aku tidak punya nomor Ira."
"Biar kucatatkan untukmu!"
Aku seperti mendapat angin segar. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Melody bisa menanyakan keadaan Firman juga sehingga aku tidak penasaran jadinya.
"Makasih!" ucapnya setelah mendapatkan nomor Ira yang kutuliskan di secarik memo yang biasa kubawa di saku jas semiku.
Anehnya kak Christian seperti tak berminat ikut kedalam obrolan kami meskipun matanya selalu melirik ke arahku dan istrinya.
Apakah kehidupan rumah tangganya sedang tidak stabil? Hm... Semoga ini bisa menjadi kesenanganku dengan membuat rumah tangga saudara tiriku ini hancur juga sepertiku!
Papa datang dengan di antar dua orang penyidik.
Kami saling rangkul bergantian. Tubuh Papa turun drastis bobotnya. Wajahnya bahkan terlihat agak tirus padahal baru seminggu di dalam tahanan.
Hhh... Aku jadi sedih melihat keadaan Mama Papa. Kulihat kak Chris juga tampak sangat suram raut wajahnya. Nasib hidupnya tak lebih baik dariku. Mamanya baru saja meninggal dunia sepuluh hari yang lalu. Pasti ini adalah pukulan terberat baginya.
Tapi masih lebih beruntung. Karena istri cantiknya masih setia mendampinginya sampai saat ini.
Tidak seperti aku. Yang diceraikan istri pertama dan digugat pula oleh istri kedua.
Ini semua adalah karma dari keserakahanku.
Aku memang bersalah pada Viona, terutama. Viona! Dimanakah kau kini? Aku hampir menemukanmu, tapi Tuhan sepertinya belum mengizinkan. Perutmu pasti sudah lebih membesar. Hitunganku kini kehamilanmu sudah masuk usia delapan bulan. Tinggal sebulan lagi masuk masa melahirkan. Semoga di saat itu kau datang mencariku dan memohon kembali padaku. Amin!
"Pak! Bolehkah saya berbicara enam mata dengan putra-putra saya?" tanya Papa dan langsung disetujui pihak KPK.
Dua puluh lima menit waktu yang diberikan. Dan Papa tiba-tiba jatuh tersungkur dibawah kakiku dan kaki kak Christian.
Menangis ia sejadi-jadinya. Melupakan kharismanya sebagai seorang anggota Dewan terhormat. Membuatku dan kak Chris saling berpandangan, lalu membantu Papa berdiri kembali.
Walau tanpa kata, tapi aku lega. Papa meminta maaf pada kami berdua.
Kak Chris sepertinya tak terlalu saklek pendiriannya. Semoga aku juga bisa meminta maaf padanya atas nama Mama. Semoga juga ia mau menarik gugatannya pada Mamaku segera. Dan Mama bisa terbebas dari kurungan penjara secepatnya.
__ADS_1
Amin...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...