
Kartika merasa seperti selalu diawasi muridnya yang masih ingusan itu akhirnya mengalah.
Ia memilih makan makanan bekal milik Dzakki.
"Bu,... makanan itu sudah bertahun-tahun ibu guru makan. Bahkan, ibu..."
Dzakki diam tak melanjutkan.
Matanya menatap tajam. Tenggorokan bocah itu seperti tersekat. Dan perlahan wajah Dzakki kembali memucat.
"Jangan ganggu ibu guru! Kalian berbeda alam! Ja...ngan,"
Terdengar suara Dzakki, seperti tercekik. Dan...
Brak!!!
Terdengar suara keras dari atas flavon ruangan UKS. Seolah ada barang besar seperti atap genteng yang jatuh.
Dzakki agak tersengal mengatur pernafasannya.
Kartika yang ketakutan hanya bisa merapat tubuh sang murid. Mata Ibu Guru itu mengamati sekitar. Lalu kemudian menengok ke atas flavon. Khawatir kalau tiba-tiba pembatas langit-langit roboh dan menimpa mereka.
Brak brak brak
Terdengar suara seperti derap langkah kaki tiga kali di atas flavon.
Dzakki memegangi pergelangan tangan Gurunya.
"Jangan takut, Ibu! Kita punya Allah. Mereka sama seperti kita, sama-sama ciptaan Allah!"
Kartika sedikit tenang mendengar perkataan bocah imut itu. Namun ternyata itu hanya sebentar saja.
Karena ada darah segar keluar dari bibir mungil Dzakki.
"Dz Dzakki! I itu..., Dzakki merasakan sakit?" kata Kartika dengan kecemasan yang meninggi.
Kartika menjerit, menyaksikan tubuh Dzakki perlahan terkulai.
..........
Viona terkejut mendapat kabar kalau Dzakki pingsan di sekolah.
Ia sangat takut mengingat Dzakki yang memiliki golongan darah langka dari orang biasa. Hanya Herdilan Firlando yang sama golongan darahnya dan mantan suaminya itu tengah kerja di Malaysia.
Roger tak kalah panik mendengar putra kesayangannya mengalami kejadian di sekolah.
Christian yang sedang bekerja di kantor, seperti mendapatkan kontak batin langsung dan seolah tertarik sinyal telekomunikasi Dzakki yang memanggil-manggil dirinya.
Diambilnya telepon seluler dan dicarinya nama Viona. Chris ingin menanyakan kabar sang ponakan karena perasaannya tidak enak.
Tuuut tuuut tuuut
Tak diangkat.
Tuuut tuuut tuuut
"Hallo? Hallo Viona?"
...[Kakak!!! Kak, Dzakki sekarang ada di ruang IGD Unit Gawat Darurat RSUD!]...
"Dzakki kenapa?"
__ADS_1
...[Tidak tahu! Katanya pingsan di sekolah!]...
"Roger sudah diberitahu?"
...[Mas Roger sedang di jalan menuju rumah sakit, Kak!]...
"Oke. Aku langsung otewe!"
Chris mematikan panggilan teleponnya. Bergegas merapikan pekerjaannya. Mengambil jas semi dan memakainya langsung.
Tak lupa kunci mobil serta dompet diperiksanya terlebih dahulu setelah memasukkan hapenya ke dalam saku jas.
Ia langsung meluncur ke rumah sakit umum tempat Dzakki dirawat.
...○○○○○...
"Kak!!!"
Roger dan Viona memanggil nama Chris berbarengan.
"Dzakki mana?"
"Ayo!!!"
Rupanya kedua pasutri itu juga baru tiba dan belum sempat masuk menemui putra mereka.
Dalam ruangan ICU terlihat Dzakki terbaring dengan wajah ceria. Senyumnya mengembang setelah melihat wajah-wajah kesayangannya. Sementara Kartika dan pak Kepsek setia menemani muridnya yang tadi pingsan di ruang UKS sekolah dengan darah segar bercucuran dari dalam mulutnya.
"Dzakki!!!"
"Mami! Ayah! Papa Chris!"
Mereka memeriksa tubuh Dzakki dengan lembut. Bahkan Viona berkali-kali mencoba memeriksa suhu tubuh putranya yang tampak normal saja.
"Dzakki kenapa, Pak?" tanya Christian setelah menjabat tangan Kartika dan pak Kepsek Codro Xavier.
"Tadi di UKS pingsan dengan lelehan darah segar keluar dari mulut Dzakki. Spontan kami segera melarikan ke sini untuk penanganan. Alhamdulillah kata Dokter, Dzakki dalam keadaan stabil. Tapi memang harus dilakukan cek lab lebih lanjut, untuk mengetahui kesehatan Dzakki keseluruhan, Pak!"
Christian melihat warna aura Dzakki yang terlihat berbeda dari biasanya. Bahkan aura Dzakki mirip kepulan asap hitam tebal di atas ubun-ubunnya.
Christian menatap Dzakki dengan seksama. Lalu matanya menatap legam bola mata sang keponakan.
"Dzakki? Kamu baik-baik saja khan?" tanyanya seraya mencoba maju lebih dekat pada ranjang tidur Dzakki.
Tangannya memeriksa pergelangan tangan bocah imut itu.
Dzakki tersenyum.
"Kamu tidak boleh melakukan hal yang diluar batas kemampuanmu, Nak!" pesannya membuat Dzakki tersenyum lebar.
"Maaf, Papa Chris! Hehehe..."
"Ck ck ck...! Jagoan ini ya?!? Hehehe..."
Entah, antara Chris dan Dzakki seolah memiliki cara lain untuk berkomunikasi. Keduanya seolah berada di dunia lain dengan bibir saling menyungging senyum dan kepala bergeleng-geleng.
"Kak, aku khawatir Dzakki terkena penyakit berbahaya!" ujar Roger khawatir. Sementara Viona dengan raut wajah cemas tingkat tinggi tak berani berkata. Viona semakin tertata dalam mengeluarkan kalimat dari bibirnya. Terlebih kini ia sedang hamil dan takut kalau omongannya dicatat malaikat menjadi doa.
"Jangan khawatir, Dzakki baik-baik saja. Anakmu cuma sedang bermain-main. Tapi permainannya memang bukan mainan biasa. Taruhannya bisa nyawa!"
Viona tersekat. Wajahnya pucat. Begitu juga Kartika, ibu Guru Dzakki yang sedari tadi diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Permisi! Ibu Gurunya Dzakki?" tanya Chris pada Kartika.
"Iya. Saya wali kelasnya!"
"Bisa kita mengobrol sebentar? Tapi sebaiknya di luar! Boleh?"
Kartika seperti terpaku sekian detik. Lalu tersadar dan mengangguk, mengiyakan.
Ia langsung mengekor Chris yang berjalan perlahan keluar ruang ICU.
Sementara Roger dan Viona mencoba mencari Dokter jaga yang memeriksa Dzakki, untuk dimintai keterangan lebih detil.
Suara sepatu pantovel Chris dan Kartika berpadu seperti ketukan nada membelah kesunyian aula di pukul dua belas kurang menjelang adzan Dzhuhur.
"Kita ngobrol di sini saja!"
Kartika menelan saliva. Melihat Omnya Dzakki, nervous nya bertambah berkali lipat.
"Dzakki... sepertinya mencoba menolong Anda!"
Kartika mencoba meningkatkan kesadaran sekaligus kesadarannya.
Ucapan Christian membuatnya agak bingung meski perlahan tabir misterinya mulai terkuak.
"Saran Saya, sebaiknya Anda meminta nasehat pada Kiyai dan Para Ustad yang bisa membantu Anda untuk langkah kedepannya. Karena, keponakan Saya ini sepertinya sangat peduli pada kehidupan Anda."
Kartika hanya diam mematung. Kata-kata formal Christian membuatnya semakin bingung.
Meminta nasehat pada Kiyai dan Para Ustad? Untuk apa? Aku ga punya keluhan juga? Aneh! Dan... kenapa kata-katanya yang sopan tapi terdengar pedas ya? Hhh...
"Boleh saya minta penjelasan lebih lengkap? Saya sama sekali tidak meminta bantuan apapun pada Dzakki. Apalagi masalah kehidupan saya. Saya merasa hidup saya baik-baik saja, walau tak bisa saya pungkiri namanya manusia pasti memiliki masalah. Tapi, saya tidak punya keluhan untuk itu, Pak!"
Christian mulai menyadari. Kalau Guru Dzakki yang berdiri dihadapannya saat ini sedang terusik harga dirinya.
Dan Chris mengusap seluruh wajahnya setelah matanya menangkap asap hitam mengepul membuat aura warna Kartika menjadi gelap seketika.
"Saya minta maaf, jika ucapan saya barusan membuat Ibu Guru merasa terusik secara lahir dan batin. Boleh saya mendengar langsung cerita yang sebenarnya sampai akhirnya Dzakki memiliki keinginan kuat mengusik kehidupan Bu Guru di masa depan?"
"Baiklah. Saya akan coba ceritakan awalnya sampai saya dan Dzakki jadi seperti memiliki suatu masalah!"
Kartika perlahan memulai ceritanya. Tentang ucapan-ucapan Dzakki sejak dua kemarin dan juga hari ini.
Betapa Dzakki sangat mengejutkan Kartika dengan tingkah polahnya yang tidak pernah terlintas dalam pikiran.
"Bu Kartika, boleh saya membeberkan sebuah fakta tentang keponakan saya, Dzakki Boy Julian?"
"Silakan, Pak!"
"Dzakki... memiliki kepekaan lebih dibanding anak-anak seusianya yang lain. Dzakki juga, memiliki kemampuan yang berbeda dari anak-anak lainnya. Ponakan saya itu..., ya begitulah. Tapi saya percaya, Dzakki tidak suka berbohong. Atau berhalusinasi tinggi yang diluar kapasitasnya. Dzakki, memang benar bisa merasakan sesuatu yang gaib walaupun tidak selalu sering. Namun sepertinya kebaikan hati bu Kartika membuat Dzakki ingin sekali menolong!"
Kartika bengong.
"Apa karena, Dzakki tahu...kalau saya adalah gadis yang menyedihkan?" gumamnya membuat Christian mengeryitkan dahi.
"Maksud Bu Kartika?"
"Saya,... sudah lima kali gagal menuju pelaminan."
Chris menunduk. Kini ia telah mendapat clue dan kartu As terbuka.
Ini rupanya yang membuat Dzakki sangat bersikukuh untuk terus mencoba melawan padahal dia masih di bawah umur. Dan belum punya kekuatan untuk melawan sesuatu yang bukan tandingannya.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...