
Aku mendatangi butik yang kini atas namaku.
Ternyata banyak serpihan pecahan kaca di sana-sini. Ira dan beberapa karyawati sibuk merapikan pakaian yang ada di manekin dan outlet.
"Ada apa Ira?"
"Ada segerombolan orang tak dikenal melempar batu ke arah butik, Bu!"
Aku tertegun tak bisa berkata-kata lagi.
Rupanya ada orang-orang suruhan yang ingin menghancurkan butikku ini.
Mungkinkah sang pemilik asli yang tidak suka kalau aku jadi penerus dan pemilik selanjutnya? Atau... mungkinkah ini adalah kerjaan orang suruhan Lady yang tidak terima kalau aku mendapatkan butik ini secara cuma-cuma dari mama Tasya? Hhh...
Aku ikut membantu para karyawanku membereskan semua kekacauan. Lima buah batu besar jadi saksi bisu dan biang kerok hancurnya kaca-kaca di butik mewahku.
Setelah lapor kepada keamanan setempat untuk ditindaklanjuti kepada kepolisian terdekat, aku mengajak para karyawanku diskusi.
Tapi sebelumnya, kuhubungi toko material untuk mengirimkan lembaran triplek penutup terlebih dahulu sebelum memesan kaca baru.
"Ira, Dina, Baby... juga semuanya! Boleh ga kalau seandainya butik ini kujual dan kalian beralih kepemilikan?"
Aku teringat kata-kata Ira, kalau ada beberapa istri pejabat yang sangat ingin memiliki butik ini beberapa waktu yang lalu.
"Vi!"
Ira melotot. Matanya membulat tak percaya kalau aku akhirnya mengucapkan kata-kata tanda menyerah seperti itu.
"Ira... Tolong kamu hubungi ibu Chika yang pernah beberapa kali memintamu tuk menghubungi aku soal saham butik ini!"
"Viona! Aku tahu kamu sedang dalam keadaan down, tapi please... kalau butik dijual, kamu mau kerja apa nanti?"
"Aku bisa buka usaha baru dari hasil penjualan butik ini, Ra!"
"Lalu..., aku? Aku nanti bagaimana?"
"Kamu suka desain dan suka sekali membuat baju. Tetaplah bekerja di sini, Ra... meski bukan aku lagi pemiliknya. Di sinilah pashionmu, Ra! Aku masih akan mencari-cari usaha yang pas buatku. Kemungkinan besar aku akan merepotkan kak Jonathan dalam hal mengambil keputusan!"
"Jonathan? Pria... yang waktu itu mengantarmu kesini?"
Ira memang belum kuberitahu soal kak Jonathan Lordess.
Aku masih menyimpan cerita itu sebagai rahasia besar. Khawatir Ira tak bisa menahan rasa penasarannya dan terus mendesakku menanyakan berita selanjutnya tentang keluarga Herdilan. Karena saat ini, itu adalah masalah besar yang rawan.
"Kamu tidak sedang ber'main api' khan, Vi? Please... hati-hati, Viona!" tutur Ira di jam makan siang.
Semua karyawatiku hari ini kuliburkan. Khawatir mereka shock karena butik kami diterror seseorang. Di tambah kemarin aku juga melakukan sesuatu hal yang tak mereka sangka, hingga sedikit banyak wajahku menjadi agak terkenal.
"Doakan saja aku, Ra!"
"Kukira kamu dapat bantuan dari kak Firman!"
"Ya. Kak Firman salah satu orang yang membantuku dari permasalahan ini, Ra!"
"Lalu siapa itu Jonathan? Kalian kenal dimana?"
"Kak Jo yang menolongku. Hampir aku mati bunuh diri ketika menyaksikan langsung konspirasi antara Delan, mamanya dan Lady!"
"Viona? Gila!!! Sekejam itu mereka padamu? Ga gue sangka!"
"Hhh... Aku juga gak nyangka, Ra! Beneran rasanya seperti mimpi! Hhh... Tapi begitulah kenyataannya!"
Ira memelukku erat. Hampir saja meja kami terguling karena guncangan.
"Kalian senang-senang tanpa ngajak aku, ya?"
__ADS_1
"Kak Firman!!!"
Aku dan Ira berteriak berbarengan.
Kak Firman tersenyum manis setelah menyalami kami berdua.
"Duduk kak!" kataku, kali ini lebih dulu menyapa ketimbang Ira.
Kak Firman adalah dewa penolong bagiku. Berkat dia lah, rahasia Herdilan terbongkar dengan begitu kerennya. Bahkan mantan suamiku itu tidak mengetahui darimana aku bisa mengetahui semuanya. Karena terkuak jelas justru dengan mata kepalaku sendiri di rumah besar mamanya.
Tak kusangka wanita durjana itu bahkan telah tinggal di rumah besar mantan mertuaku selepas aku pindah ke rumah baru.
Keren juga langkah liciknya si Lady Navisha!
Kami makan bertiga. Dan tiba-tiba...
"Hm... Akhirnya aku tahu ada persekongkolan di antara kalian!"
What the hell!? Pria bajingan itu ternyata kini berdiri dihadapan kami. Sementara wanita bangsatnya menggelayut mesra meledekku dengan senyum tipu muslihatnya yang tampak senang bukan kepalang.
"Kalian ternyata bekerja sama ya?" ujar Lady Navisha pada kak Firman.
"Hei, pasangan iblis dan setan! Berani juga kalian menampakkan batang hidung kalian di depan kami!? Pergi, sebelum tubuh laknat kalian terbakar api karena kita gak segan-segan membacakan ayat suci untuk kalian!"
"Munafik!" sindir Herdilan sinis.
"Kamu yang munafik! Dasar lelaki bajingan!" Ira benar-benar marah luar biasa.
"Biarkan saja Ira, jangan di respon! Orang bisa melihat dan menilai sendiri siapa yang bajingan, bangsat dan munafik!" kataku berusaha menenangkan Ira.
Lady mendengus dengan sorot mata menatapku tajam.
"Ini artis juga sinting! Ga da malu-malunya ya, padahal dia dihujat habis-habisan sama fansnya di IG dan media elektronik!"
"Ulala... Yang udah laku tapi beraninya embat laki orang! Ish... hebat ya... urat malunya udah putus!" kata Ira dengan lantang menyindir keras si Lady Navisha.
Para pengunjung resto yang mulai banyak karena jam makan siang mau tak mau menyaksikan perseteruan panas kami yang cukup heboh.
Aku sendiri hanya bisa menengok kiri dan kanan. Menunduk malu karena jadi pusat perhatian orang.
"Hallo, bro! Mau ikut gabung dengan kita? Setidaknya, kalian bisa mentraktir kami untuk merayakan perceraian yang dramatis ini!" kata kak Firman membuat Delan kembali meradang.
"Shiit! Kukira kau teman, ternyata... pecundang yang bisanya menusuk dari belakang!"
"Bukannya kau yang pecundang? Kalau kau lelaki gentle, pasti akan datang sebagai Don Yuan yang sungguh-sungguh meminta izin istri untuk menikah lagi. Bukan nikah diam-diam dan merasa seperti jagoan! Hehehe..."
"Bangs*t!"
Untungnya Herdilan bisa mengendalikan dirinya setelah melihat semakin banyak orang berdatangan di sekitar kami. Ada malu juga ia, ditunjuk-tunjuk pelanggan restoran yang membicarakan hubungan mereka di belakang.
Para pengunjung mulai mengenali wajah-wajah artis viral yang kemarin muncul di beberapa media elektonik dan surat kabar. Bahkan juga ada di hot gossip media televisi.
Herdilan panas telinganya. Dibicarakan yang tidak sedap berita perselingkuhannya dengan model artis kurang tenar, Lady Navisha.
Ia menarik tangan Lady hingga perempuan cantik tapi buruk hati itu nyaris terjungkal. Keduanya setengah berlari dengan tergesa-gesa meninggalkan restoran.
"Ish... Kurang seru! Istri pertamanya kurang gahar! Padahal harusnya diunyeng-unyeng itu istri mudanya! Minimal digaplok, dicakar, dijambak rambutnya terus siram mukanya pake kopi panas!" kata salah seorang 'penonton' keributan mereka.
Viona menunduk, malu sekali.
O my God! Hiks... Aku mau lakukan itu! Tapi harga diriku jadi sama rendah nilainya dengan harga diri pasangan bajingan bangsat itu, gaes! Aku gak mau sehina itu! Biar Tuhan yang membalas. Dan juga pastinya masyarakat menilai sendiri. Contohnya para netizen yang ketikannya sadis-sadis menyerang di IG nya hingga si Lady membisukan kolom komentarnya.
"Hhh... Ternyata dia masih mabok! Belum sadar-sadar rupanya!" tukas Ira mencoba membangun lagi komunikasi yang sempat kacau karena Herdilan.
"Kita cari tempat lain, yuk? Risih aku diperhatikan banyak orang!" kataku membuat kak Firman dan Ira tersenyum lebar.
"Sayang, wajah cantikmu minderan, Vi! Padahal kamu juga bisa masuk jalur keartisan lho!" goda Ira.
__ADS_1
"Suwe, gue ga minat dan ga ada bakat!"
"Hahaha... Ada bakat, Vi! Bakat jadi istri yang diselingkuhin suami!"
"Ish... Dasar!"
"Hehehe...! Ayo, ayo... kita cari tempat lain dulu sebelum baku hantam!"
"Halah, kakak ga punya nyali bantu jotos si Delan!" ledek Ira membuatku tertawa kecil.
"Bukan ga punya nyali, tapi ini ada di tempat umum. Kalau dia mau tanding, ring gulat bebas...boleh jaban satu lawan satu!"
Ira dan aku tertawa lagi. Kami segera bergegas pergi setelah meminta bill dan membayar tagihannya.
Kak Firman kini benar-benar menjadi teman kami yang asyik. Yang bisa masuk kedalam canda gurauan gila Ira dan kemirisan kisah hidupku yang jadi guyonannya.
Hari ini kami benar-benar habiskan bertiga. Pindah kafe yang agak sepi. Sampai sore menjelang malam, baru kami pamitan pulang ke rumah masing-masing.
Aku sendiri pulang ke rumah Ayah Ibu. Mencoba kembali rendevous masa kecilku yang bahagia di rumah sederhana penuh cinta dan kasih sayang itu.
Melewati malam yang dingin dan sunyi sendirian. Namun tak benar-benar sendiri, karena chat-tan kak Jo ternyata menemani.
Tring.
...[Hai Louisa... Apa kabarmu?]...
Hahaha... Louisa kabar baik, Kak
...[Hm... syukurlah, syayank]...
Kakak sedang apa? Kapan pulang? Louisa kangen
...[Hahaha... please Vi, jangan jadi gila seperti aku!]...
Never mind, Kak! Aku sukarela gila juga.
...[Hhh... Aku mendengar dan melihat semuanya, Vi! Yang sabar ya?... Semua ujian ini akan membuatmu menjadi manusia tangguh pastinya]...
Iya kak. Viona akan berusaha kuat
...[Kamu sekarang dimana]...
Dirumah orang tuaku, Kak
...[Sama siapa]...
Sendiri
...[Kenapa tidak kerumahku? Bibi Tini pasti akan masak untuk makan malammu]...
Aku kangen rumah, Kak
...[Ya sudah. Tapi besok pagi pergilah ke rumahku! Makan yang banyak untuk bayi dalam kandunganmu. Lena kata, berat tubuhmu tidak seimbang dengan berat pertumbuhan bayimu! Kamu kurang gizi juga!]...
Makanya cepat pulang, Kak! Aku butuh kakak!
...[Aku akan segera pulang, jadi turuti kata-kataku, ya?]...
Entah mengapa, bibir ini tersungging terus tiada henti. Kak Jo membuatku tersenyum senang. Hati ini menghangat bahagia.
Tanpa sadar kuusap perutku yang kini mulai ada tanda-tanda kehidupan. Agak sedikit membuncit terlihat.
Kak Jo... Apakah... aku ini sedang mengkhayal? Apakah... apakah tidak aneh dipandangan orang jika kita saling berpegangan tangan, saling mengandalkan satu sama lain sedangkan kau adalah 'om' dari mantan suamiku?
Ck.
Kugelengkan kepalaku berkali-kali. Berusaha menepis fikiran gilaku tentang hubungan kami yang aneh ini.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1