
Fika berubah, tidak seramah dulu. Meski ia masih menyapa dan mengobrol denganku, tetapi Fika sama sekali tak mau sedikitpun memperhatikan Dzakki-ku.
Sejujurnya hati ini tersakiti.
Aku ingin Fika juga menganggap bayiku sama seperti ia menganggap bayinya Mutia-Christian.
Memang terkesan seperti berlebihan. Aku, mantan istri Herdilan. Dan putraku Dzakki otomatis adalah anaknya Herdilan.
Menilik dari kisah rumit hubungan persaudaraan mereka yang semakin dekat karena tantenya Fika alias mamanya Delan, menikah juga dengan Papa Fika.
Jadi... benar-benar kisah yang rumit.
Tapi aku tersakiti, mendapati Dzakki tidak diakui Fika. Aku lebih rela jika tingkah Fika seperti Roger. Tak terlalu peduli padaku namun sayang pada putraku. Bagiku itu masih lebih baik.
Ini kemungkinan aku yang salah. Yang sudah seenaknya masuk dalam keluarga mereka tanpa pikir panjang dan tanya lebih dahulu.
Bukan apa-apa, aku sering video call-an dengan Fika. Bahkan setelah melahirkan Dzakki. Di antara kami masih akrab seperti biasa. Bercanda bercerita meski hanya lewat hape saja.
Mungkin memang baru kusadari, Fika tak pernah menanyakan keadaan bayiku. Bahkan ia seperti tak pernah menganggap Dzakki ada.
Hhh...
Berarti ya, aku yang salah. Mengira kalau Fika akan menerima putraku juga. Yang memang adalah darah daging Delan.
"Fika... bisakah kita bicara?" pintaku setelah makan malam. Aku tidak suka berlama-lama pada suasana seperti ini.
"Viona! Maaf... aku, seperti bocah. Tapi, aku tak bisa berlama-lama melihat putramu. Wajah si kunyuk itu seperti ada di depan mata, setiap kali menatap wajah putramu itu!"
__ADS_1
Aku... tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya bisa mengangguk dan menunduk.
Itu adalah hak Fika. Kebencian yang merasuk dalam hatinya, hanya Fika sendiri yang bisa mengubahnya menjadi suka. Tak bisa kupaksa Fika untuk menerima Dzakki.
Tapi hatiku terasa sakit. Dan akhirnya, aku pamit pulang lebih dahulu ke Indonesia.
Bersama Dzakki-ku, dan Roger yang mengintil.
"Viona! Maafkan aku, Vi!" teriak Fika bercucuran air mata.
Aku tahu isi hati Fika. Kekecewaan, kesedihan, serta kehancuran keluarganya karena tantenya yang tak lain adalah mamanya Delan. Nenek dari Dzakki putraku. Namun... bolehkah aku egois, dengan mengatakan tingkah Fika yang lebay? Yang mengikutsertakan rasa dendam hingga ke anak cucu? Pada Dzakki-ku yang belum tahu apa-apa, bahkan tak tahu apa-apa?
Aku mengerti isi hati Fika.
Dan aku,... mulai saat ini harus kuat. Harus bisa berdiri di atas kakiku sendiri.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata kak Jo...
"Tetaplah semangat, Louisa-ku! Biarpun di luar sana ada badai bencana, angin topan menerjang... Kau harus tetap berdiri tegak dengan kedua kakimu, Viona! Tuhan selalu menjagamu! Camkan itu! Meskipun ada aku ataupun tiada. Kau adalah perempuan tangguh yang luar biasa! Kamu bukanlah Viona si Lemah yang selalu dipandang sebelah mata oleh si Herdilan itu"
Kak Jo! Kak... Hik hik hiks...
"Roger...! Bolehkah aku menyambangi kuburan kak Jo dan kak Tania?"
Kak Jo memang dimakamkan di samping makam kak Tania di Singapura, meskipun penembakan berdarah itu terjadi di Bali.
Roger mengangguk. Kini mulai mencair amarahku, dan membiarkan putraku Dzakki yang baru berumur 4 bulan itu dia ambil dari gendonganku.
__ADS_1
Bi Tini, juga Kenken ternyata memilih ikut denganku setelah ada perdebatan dengan Fika dan Christian.
Karena tak lama kemudian, kedua orang kepercayaan mendiang kak Jo itu berlari terengah-engah mendatangi kami yang masih berdiri di trotoar depan hotel Singapura.
Kami berempat, berlima Dzakki pastinya. Pergi ziarah ke makam kak Jo dan kak Tasya.
Aku begitu rapuh di atas pusara kak Jo.
Menangis, meratap dan meraung. Bercerita keluh kesah kesedihanku setelah kepergian kak Jo.
Sungguh aku ini manusia yang kurang ajar. Yang hanya bisa bertanya dan menyalahkan, kenapa Tuhan membuat buruk nasibku?
Kenapa Tuhan seolah senang mempermainkan takdirku?
Apakah cap nasib buruk di dahiku akan terus menempel? Dan selanjutnya akan selalu menghantui kehidupanku yang kupikir 'apes' dan selalu sial?
Tuhanku Yang Maha Pengampun... Tolong ampuni segala dosaku! Hik hik hiks...
Roger tak bisa berkata apa-apa. Hanya diam. Berdiri mematung dengan tangan mendekap erat tubuh Dzakki yang tengah tertidur pulas.
Aku dan Bi Tini banjir airmata.
Bedanya Bi Tini hanya menangis dalam diam. Tidak sepertiku yang meraung berlebihan.
Tuhan... Berilah aku cinta-Mu, Tuhan!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1