
Mama Tasya menyambut kami di ruang pantry.
"Selamat pagi pasangan pengantin baru!" sapa beliau manis sekali.
Aku tersenyum mencium pipi kiri dan kanannya.
"Seger banget, Vi! Langsung mandi! Hehehe..." kata Mama Tasya menggodaku.
"Jangan rese' deh!" kali ini Delan menjawab.
"Apaan sih!? Siapa juga yang rese'? Orang cuma tanya mandi sama istrimu doang koq!" sungut Mama Tasya terlihat imut.
"Mama sebenarnya niat godain aku khan?" balas Delan.
"Engga' tuh! Ge'er deh jadi orang!"
"Engga ge'er, Ma! Tapi Delan tahu arah ledekan Mama tuh kemana!"
Ternyata Mama dan Anak ini begitu santuinya berdebat.
"Delan... Jangan bilang gitu sama Mama Tasya! Ga sopan, tau!" gumamku pelan agak berbisik pada suamiku ketika mamanya mengambil nasi goreng dari penggorengan di atas kompor elektrik.
"Jangan kaget, Vio! Mama sama Delan ya seperti ini! Sudah biasa, Neng! Hihihi..."
Aku ikut tertawa kecil. Yang tadinya hati kebat-kebit jadi malu sendiri. Bahkan Delan ikutan menggodaku juga sambil memonyongkan bibirnya. Membuatku spontan memeletkan lidah.
"Ini mama yang buat sendiri?" tanyaku mencoba mengalihkan keusilan Delan.
"Hehehe... jangan di cela ya, Vi! Mama tak pandai memasak."
"Apa yang ga enak, Ma! Ini enak banget. Beneran! Malah Vio yang sama sekali gak bisa masak. Harus banyak belajar masak dari mama nih!" pujiku tak bohong. Nasi goreng buatannya benar-benar mantap.
Delan juga mengakuinya dengan makan lahap sekali. Ini pertama kalinya kulihat Delan makan seolah tanpa adab.
"Makannya pelan-pelan, Lan!" colekku padanya.
"Vi!..."
"Ya, Ma?"
"Boleh Mama minta sesuatu darimu?"
Deg.
"Apa, Ma?"
"Panggil Delan dengan sebutan Mas, boleh?"
Uffh... Kukira beliau akan meminta cucu secepatnya dariku.
Aku tersenyum mengangguk.
"Meskipun usia kalian hanya terpaut lima bulan, tapi biar bagaimanapun kini Delan adalah suamimu, sayang! Mau ya, panggil Delan jadi Mas?" tutur Mama membuatku merah merona.
__ADS_1
"Maaf, Ma! Vio kurang sopan sama suami!"
"Hehehe... Semuanya memang perlu waktu, sayang!"
Delan tak terusik dengan obrolan kami, Ibu dan menantu. Piring dihadapannya telah kosong. Dan matanya berbinar puas.
"Terima kasih, Ma... Sarapan pagi ini luar biasa! I love you, Mom!" ucapnya seraya mencium kening sang Mama hingga dahinya berkilat kena minyak dari bibir Delan.
"Ish dasar! Have you said the word to your love too today?"
"Upss...sorry! I'll tell her later in the room!"
"Ya Tuhan!!!"
Delan tersenyum menggoda mamanya.
Ternyata mereka juga fasih berbahasa Inggris. Hiks... Benar-benar keluarga yang sempurna!
Delan menungguku selesai sarapan.
"Ada acara apa kalian hari ini? Oh iya... honeymoon kalian besok jam berapa berangkat ke Bali?"
Bali? Honeymoon? Kapan Delan mengatakannya padaku?
"Please, Mam! Biar nanti Delan yang bilang sama Viona!"
"Lihat respon Viona sepertinya istrimu memang tidak tahu deh!"
"Memang Vio tidak tahu, Ma!" selaku sambil mendelik pada Delan.
"Mas Delan?"
"Nah tuh! Marahin aja tuh suamimu tuh, Vi!"
Delan tertawa sambil menarik jemariku keluar dari dapur.
"Sebentar, aku bantu Mama cuci piring dulu!"
"Ga usah, sayang! Cuci piring sudah kerjaannya mbak Cici dan mbak Onih! Oh iya, Mama berangkat ya ke butik sebentar lagi! Jadi pamitnya sekarang sekalian!"
Aku lupa. Aku tinggal di istana. Dan banyak asisten rumah tangga juga di sini meskipun tak terlihat seliweran di sana-sini.
Sepertinya mereka memang memisahkan ruangan khusus asisten istirahat dan bercakap-cakap di room lain. Sehingga aku tak pernah melihat mereka di sekitar sini.
"Aku yang meminta batasan itu!" cerita mas Delan ketika aku bertanya dimana para pembantu.
"Kenapa?"
"Aku gak suka, diperhatikan berlebihan oleh mereka!"
"Maksudnya?" tanyaku sungguh tak mengerti.
Mas Delan menatapku. Seolah ada sesuatu yang tak ingin ia ungkap padaku.
__ADS_1
"Okey... kita bicarakan masalah honeymoon yang Mama kata tadi!" ralatku mencoba mengalihkan kesedihannya.
"Oh! Oke. Hehehe... Keep calm, baby! Om Lordess adalah sepupu mama yang tinggal di Bali. Beliau memberi kita kado tiket pesawat PP dan juga bungalownya yang di sana untuk kita berbulan madu satu dua minggu. Jadwal pesawatnya jam 2 siang besok. Bisa ya, Vi? Sayang lho kalo gak kita ambil! Ya, ya?"
Aku menatapnya tak percaya. Pergi mendadak naik pesawat ke luar kota sejauh Bali, seperti pergi ke pasar rakyat buat beli gulali bagi suamiku ini.
"Ya ayo... harus ada persiapan dong!" jawabku gemas sambil mencubit pahanya.
Mas Delan memekik. Ternyata kelemahannya ada pada pahanya. Membuatku ikut tertawa.
Jadilah kami kini sibuk mencari koper-koper dan memilih baju serta peralatan yang akan kami bawa.
Dasar deh, mas Delan! Aku liburan ke Yogyakarta selama tiga hari saja persiapannya itu semingguan. Tapi ini bulan madu ke Bali untuk satu dua minggu, cuma dapat waktu seharian untuk kemas-kemas!
"Santai aja, Vi! Kita backpackeran aja! Jangan terlalu resmi juga! Hehehe..."
Aku tersenyum kecut. Mengetahui suamiku ternyata orang yang cuekan. Sedikit terbantu mood yang tadi anjlok ini.
"Ya sudah! Tapi..."
"Vi...! Aku tahu kamu, kamu juga tahu aku! Mari kita saling eratkan pegangan tangan kita. Kita ini suami istri. Saling bantu itu pasti, dan aku gak mau kamu jadi pusing sendiri memikirkan segala sesuatu sesuai kehendak Mama!"
Aku terpana pada ucapannya.
Kata-katanya kali ini sangat mengena' di hati. Memang aku cukup stres memikirkan diriku yang harus mampu beradaptasi dengan lingkungan suami juga mertuaku yang seorang sosialita terkenal.
Aku mengangguk. Kugenggam erat jemarinya tanda kami kini sefaham seiya sekata.
"Tidur lagi dulu, yuk! Masih ngantuk, Vi!"
"Mas Delan! Ish..."
"Beberapa hari ini aku kurang tidur. Harus ini itu ikuti protokoler mama! Kini, biarkan kita bermanja-manja sebentar!"
Bermanja-manja??? Maksudnya apa??? Hiks...
Aku akhirnya pasrah melihat suamiku merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Fikiranku kembali menerawang pada kejadian bangun tidur tadi. Dimana tubuhku ada di atas tubuhnya.
Haish! Bikin maluku muncul lagi saja, jika mengingatnya. Dan pasti tubuh mas Delan sakit itu semalaman karena tertindih tubuh ini yang meskipun langsing tapi lumayan berat juga.
Kubiarkan Mas Delan tidur. Dan aku melanjutkan pekerjaanku mengepak pakaian-pakaian yang akan kami bawa besok untuk ke Bali.
Seperti mimpi indah yang tak berkesudahan. Besok aku akan ke Bali. Seumur hidupku belum pernah aku menginjak pulau surgawi itu.
Dulu sewaktu SMA nyaris pernah ada rencana bersama teman-teman se-gankku kala itu. Tapi urung kulakukan karena Ayah tidak mengizinkan.
Kali ini... apa ayah bakal mengizinkan?
Aku tertawa kecil sendiri. Merasa bahagia karena kini aku terbebas dari kungkungan Ayah. Tapi juga sedih, seperti seorang anak yang dilepas paksa untuk mandiri.
Untungnya suami serta mertuaku adalah orang-orang yang baik hati.
Hhh...
__ADS_1
Begini ya, dilema seseorang perempuan yang baru saja melepas status lajangnya yang berganti izin tak lagi pada orangtua tapi kini izinnya pada suami juga mertua.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...