
Delan pingsan setelah tiga jotosan Viona mendarat di wajahnya.
Chris membawa Delan pergi ke ruang samping rumah mendiang Jonathan.
Kini mereka menunggu Delan siuman dan kembali sadar. Cukup lama juga. Hampir satu jam lamanya pria itu terlentang di atas kasur busa dengan dipandangi tatapan miris Viona, Roger serta Christian.
"Apa rencanamu kini, Viona?" tanya Chris pada Viona sambil menunggu si pembuat onar itu sadar.
"Ini adalah masalahku, Kak! Aku harus menuntaskannya sendiri. Harus! Sampai permasalahanku dan dia benar-benar usai. Dan tak ada lagi keributan part demi part nantinya. Aku sudah lelah, Kak!"
Roger menghela nafas. Merangkul bahu Viona dan mengajaknya menjauh untuk bicara.
"Kita harus buat dia menyesal seumur hidupnya!"
"Kita? Kita maksudnya? Dia itu urusanku!"
"Viona! Ayo kita bersandiwara! Mari kita bikin anak itu benar-benar menyesal karena telah meninggalkanmu!"
"Roger! Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!"
Ternyata Chris mendengar bisikan Roger dan langsung menegurnya.
"Biarkan Viona mengambil jalannya sendiri! Jangan kau provokasi! Biar Viona belajar mandiri dan dewasa untuk kehidupan pribadinya! Hargai semua keputusannya! Kita hanya cukup memantau dan mendukungnya!"
"Ck!"
Roger hanya berdecak. Hatinya galau, jika Viona melemah dan akhirnya pasrah kembali pada cinta pertamanya. Kembali bersama suami yang adalah Ayah kandung Dzakki Boy Julian.
Ia juga takut, Dzakki menerima Delan karena ternyata kedekatan keduanya telah terjalin atas izin Allah Ta'ala.
Roger benar-benar takut jika semua yang ada difikirannya jadi kenyataan.
Semua kebahagiaannya bersama Dzakki dan Viona, akan musnah jika semua ketakutannya itu terjadi.
Roger mengetahui sisi lemah Viona dan Dzakki. Mereka memiliki hati yang lembut, baik dan mudah digoyahkan dengan satu kebaikan. Meski kenyataannya mereka mudah rapuh hanya dengan menerima satu hujatan ataupun perkataan pedas yang menyakitkan.
Herdilan telah sadar dari pingsannya. Wajahnya bengap bengkak lumayan parah. Bahkan bibirnya pun sizenya kini dua kali lipat dari kondisi normal.
"Duduklah!"
Kini Christian yang menjadi penengah di pertemuan mereka.
Delan menurut.
Christian menyodorkan segelas air putih hangat pada adik tirinya yang mengenaskan itu.
"Minumlah dulu!"
Lagi-lagi Herdilan menurut. Segelas air putih habis setengahnya diminum. Ia menyeringai sedikit karena terasa sakit untuk mengatup dan membuka bibirnya.
"Sekarang katakanlah, apa maumu! Apa keinginanmu. Katakan pada Viona di depanku!"
__ADS_1
"Mas...! Maafkan aku, Mas! Hik hik hiks... Aku mencintai Viona. Hanya Viona saja sampai saat ini yang ada di hati! Aku ingin menjadi pria yang bertanggung jawab pada istri dan anakku yang dulu telah kuterlantarkan!"
"Enaknya kau ngomong begitu sekarang!" sela Roger dengan tangan nyaris menoyor kepala Herdilan tapi keburu disergap Christian.
"Diam, Brik! Ini urusan keluarga! Jangan kau ikut campur!"
Viona kini ikut duduk. Kedua mantan suami istri itu kini duduk saling berhadapan. Dengan mata saling bertatapan. Viona kini terlihat lebih berani dan tegar, hingga ia tak lagi menoleh atau mengalihkan pandangan ke arah lain ketika sorot mata sayu Delan menghujam jantungnya.
"Viona! Aku masih sangat mencintaimu, Viona! Aku ingin kita hidup bersama lagi. Seperti dulu, menikah ulang dan mengurus buah hati kita bersama. Aku berjanji, akan setia padamu sampai mati! Aku tidak akan mengulangi lagi perbuatan nistaku padamu. Sungguh, Viona! Demi Dzakki putra kita!"
I don't love you anymore, Delan! Not anymore! I am sorry, Herdilan!
Viona tersenyum tipis.
Sementara Roger merah seketika wajahnya. Amarahnya kembali meninggi.
"Setan! Beraninya kau mengucap kata cinta pada Viona!"
"Sstt.. Roger! Tenanglah!"
"Roger... siapa, Mas?"
Pertanyaan lugu Herdilan pada Christian makin membuat amarah Roger membludak. Hingga Chris akhirnya memanggil Kenken dan memintanya membawa Roger keluar.
"Kak! Apa-apaan kau ini!? Kenapa aku pula yang kau usir? Bukan bajingan ini?" protes Roger kesal dan tak terima.
"Silent please! Keluarlah dulu! Kumohon pengertianmu!"
Akhirnya Roger menurut juga. Dengan mulut mengoceh ia keluar dari ruangan itu.
Herdilan menunduk.
"Ke kenapa... Dzakki memanggilnya Ayah, Mas?" tanyanya lagi. Kali ini dengan suara terbata-bata.
"Karena Rogerlah yang mengurus Dzakki sedari kecil!" Kini Viona-lah yang menjawab pertanyaan Delan.
"Roger mengurus Dzakki?"
"Bahkan Roger yang mengazani Dzakki!"
Herdilan kembali menunduk.
"Jadi kau mau meminta Viona kembali kesisimu? Begitu?" tanya Chris penuh ketegasan.
"Iya, Mas! Kuharap Viona mau menerimaku lagi!"
"Ternyata kepercayaan dirimu sungguh besar, Herdilan! Bagus juga! Tapi apakah ada alasannya kau sampai se-pede' itu?"
"Viona belum kutalak, Mas!"
Deg.
__ADS_1
Jantung Viona seolah berhenti berdetak.
"Kau sudah menceraikanku! Aku pegang akta surat cerai yang kau tandatangani!"
"Bukan aku yang tanda tangan. Dan aku belum pernah mengucapkan talak! Dalam hukum agama, aku masih sah suamimu. Dan kau, masih istri pertamaku, Viona!"
Viona menatap tajam wajah Herdilan.
"Dan apa hukumnya suami yang sudah menciderai janji suci dihadapan Allah Ta'ala? Membohongi istri, tidak menafkahi istri selama lebih dari tiga bulan, istri berhak mengajukan perceraian di pengadilan agama. Jadi aku pun punya hak menggugat cerai dirimu dan mengambil langkah lebih dahulu. Itu pun diperbolehkan dalam agama selama pasangan yang digugat melakukan poin-poin yang kusebutkan tadi di atas! Itu sebabnya hakim yang mengurus akta perceraian yang kubuat langsung mengetok palu dan mensahkan perceraian di antara kita!"
Viona tetap menatap mata Delan sembari mengomentari perkataan mantan suami yang terkesan bebal otaknya itu.
"Sudah dapat difahami, Herdilan?" tanya Cristian menegaskan ucapan Viona.
"Viona!... Tidakkah kau pernah mengingat pernikahan manis kita diawal-awal?"
"Untuk apa? Untuk mengingat rasa sakit yang kau torehkan dihati ini?"
"Ada Dzakki diantara kita!"
"Terus?"
"Anak kita butuh figur ayah dalam hidupnya. Aku ingin menjadi ayah yang baik bagi Dzakki, Viona!"
"Terima kasih! Putraku memiliki banyak figur ayah yang baik. Bahkan sangat baik dan teladan dimatanya. Terima kasih. Tak perlu repot-repot memikirkan Dzakki!"
"Aku akan berusaha keras membahagiakan kalian, Viona!"
"Tidak perlu bersusah payah. Tidak perlu sekeras itu! Dan... kuminta padamu. Jangan dekati anakku! Kalau kau masih melakukan itu,... maaf... aku tidak akan segan-segan membunuhmu! Ingat itu!"
Viona berdiri dengan gagah dihadapan Herdilan. Ia benar-benar telah berkata tegas mengancam Herdilan terang-terangan.
Perempuan yang kemarin-kemarin itu masih suka meneteskan air mata kini telah berubah bagaikan singa betina.
Tatapan matanya tajam dan menakutkan. Tak ada ketakutan lagi didalam riaknya yang jernih. Bibirnya pun tak lagi bergetar seperti di detik awal tadi ia melihat wajah Herdilan.
Viona pergi keluar meninggalkan Herdilan yang masih ditemani Christian.
Kini justru Herdilan-lah yang menangis rapuh menekuk wajahnya dalam-dalam menangis dengan air mata bercucuran.
Penyesalan demi penyesalan menyesakkan dadanya.
Viona tidak mau menerimanya kembali.
Sakit terasa menyiksa dihati.
Bahkan sakit wajahnya yang babak belur ditampar dan ditampol Viona, tak mampu menandingi rasa sakit kesedihan hatinya.
Delan tak bisa menyalahkan Viona. Kesalahannya yang telah menggunung akhirnya mengubah Viona yang dulu manis dan penurut, menjadi Viona yang keras bagaikan batu. Kokoh sekokoh karang dilautan yang berdiri tegak meski ombak ganas menerjang.
Itu berawal dari sikapnya yang jahat pada Viona.
__ADS_1
Herdilan menangis menyesali semua perbuatannya di masa lampau.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...