
Verrel dan Velli hari ini pergi sekolah. Berbeda dengan Dzakki yang menginap di rumah keluarga Christian dan telah izin libur sekolahnya.
Bocah imut itu sudah bangun tidur sedari pagi. Memperhatikan para kakaknya yang sibuk menyiapkan diri untuk berangkat sekolah. Ada hiburan tersendiri bagi Dzakki yang anak tunggal di rumahnya, melihat kehebohan Verrel Velli yang sampai teriak-teriak keras.
"Mamaa... Mamaaa, kaos kaki Velli yang warna pink mana Mama?" teriak Velli mencari-cari Mutia.
"Mamaaa...! Buku gambar Verrel mana? Hari ini ada tugas menempelkan aneka ragam dedaunan di sekolah. Mana Maaa...?"
Gaduh. Super heboh.
Dan Dzakki hanya tertawa-tawa kecil menyimak kelakuan aneh Verrel dan Velli. Membuat sang Mama pusing, garuk-garuk kepala.
Fika yang mendengar suara ramai di pagi hari langsung keluar dari kamarnya.
"Ya ampun, kalian ini! Persis anak ayam yang bercicit di pagi hari minta ini minta itu! Belajar mandiri lah! Cari sendiri barang yang mau dibawa ke sekolah!" tegur Fika pada para ponakannya.
"Kami khan masih anak-anak, Tante!" bela Velli membuat sang Tante menepuk dahinya.
"Hei, kamu bocil! Kenapa cengar-cengir? Kamu bolos sekolah ya?" tegur Fika menunjuk Dzakki.
"Dzakki mau sekolah, tapi kata mama Mutia hari ini sama besok Dzakki libur. Tak sekolah."
"Iya, Fika! Dzakki menginap di sini dua hari." Mutia ikut menjawab pertanyaan Fika.
"Memangnya Viona mengizinkan Dzakki menginap? Bukannya dia sayang banget sama anak kecil rese' ini?" tanya Fika lagi sembari menunjuk ke arah Dzakki.
"Iih Tante! Dzakki tidak rese'. Dzakki kece. Itu kata Ayah!" sela Dzakki membuat Fika tertawa.
"Kakak...! Ternyata kak Roger benar-benar menyayangi anak ini, ya?!"
"Dzakki anak yang manis! Jangankan Ayah Roger, Mama Mutia juga sangat menyayangi Dzakki. Iya khan Dzakki?"
Bocah itu tersenyum tipis. Hidungnya kembang kempis, bahagia karena banyak yang menyayanginya.
"Mamaa...! Iiiish, kenapa malah puji-puji Dzakki. Bukannya cariin kaos kaki pink aku!"
"Sayang! Kaos kaki Velli banyak. Kenapa maunya pakai kaos kaki pink itu terus? Yang itu masih di binatu, Sayang!"
Tin tin tin
Christian membunyikan klakson mobilnya. Gemas melihat putra-putrinya yang belum bergegas menghampirinya untuk segera berangkat sekolah.
"Tunggu, Papaaa...! Velli masih merajuk, nih!" teriak Mutia pada sang suami.
Kini ia terlihat lebih terbuka kemanjaannya di depan anak-anak serta sang adik ipar.
Fika tersenyum meledek Mutia.
Christian akhirnya turun tangan melihat kesibukan sang istri mengurusi putra-putri mereka.
__ADS_1
"Kamu nih, Fik! Bukan bantu Mutia urus anak-anak, malah senyam-senyum saja seperti itu!" tegurnya pada sang adik.
"Lha? Aku pula kena tegur? Khan Verrel Velli panggilnya 'Mama'. Ya bukan aku khan?" kata Fika membela diri sambil tertawa iseng.
"Velli sayang! Sini... Papa yang pakaikan kaos kakinya. Ini warnanya putih renda pink khan? Ada pinknya juga khan?" bujuk Chris pada Velli yang cemberut merajuk.
"Velli maunya blackpink tuh, Pa!" Sang kakak turut meledek adik kembarannya.
Bruk.
Velli melempar buku gambar dari dalam tasnya.
"Tuh, buku gambarmu!" tukasnya kesal.
"Ini buku gambar yang kucari-cari! Ish! Tuh Pa, lihat! Velli jahat! Sembunyikan buku gambarku di tasnya! Kemarin dia juga sembunyikan crayonku, Pa!"
"Apa? Verrel yang jahat! Verrel suka pukul kepalaku, Pa! Tuh, tanya aja sama Dzakki!"
Kedua anak Chris berdebat membuat Fika geleng-geleng kepala seraya berjalan masuk kamar kembali.
"Haish!... Pusing aku dengar kalian ribut terus!" ucapnya sembari menutup pintu.
Christian paling bisa menenangkan suasana. Satu persatu anaknya akhirnya menurut. Dan mereka pun segera berangkat.
"Bye Dzakki! Nanti pulang, kubelikan es goyang di sekolah ya?" kata Verrel membuat Dzakki mengangguk senang.
Ia senang mendengarkan cerita seru dari kakak sepupunya itu tentang cara si tukang es membuat es goyangnya semalam.
Bahkan Velli terpingkal-pingkal melihat Verrel mempraktekkan tukang es bergoyang.
..........
Rumah Chris kembali tenang. Kini hanya Dzakki dan Mutia di ruang tengah berduaan.
Pukul delapan pagi. Handphone Mutia berdering.
Ternyata Viona melakukan sambungan video call.
...[Hallo, Kak! Assalamualaikum! Kak Mutia, Dzakki sudah bangun?]...
Mutia tertawa melihat Viona. Perkiraannya pasti Viona mengkhawatirkan putra semata wayangnya.
"Waalaikumsalam! Ada Vi, nih lagi duduk di depanku! Sudah ganteng, sudah mandi, sudah sarapan!"
...[Hallo, Dzakki!]...
"Mamiii...!!!"
...[Dzakki tidak nakal khan ya?]...
"Tak lah!"
__ADS_1
...[Dzakki tidak buat Mama Mutia dan Papa Chris jengkel khan? Oiya... jangan buat Tante Fika kesal sama Dzakki juga! Kak Mut, Fika sudah sampai khan dari Singapura?]...
"Sudah, Viona! Ayo kemari! Kita hang out bareng yok! Kemana gitu. Emak-emak berdaster juga butuh healing biar mental sehat! Iya khan?"
...[Hahaha... betul banget, Kak! Aku kemarin setengah hari. Jadi hari ini tidak bisa pulang cepat! Maaf!... Tapi Fika masih akan lama khan di rumah Kakak?]...
"Entah, Vi! Fika belum cerita berapa lama dia stay!"
"Apa? Ada apa kalian sebut-sebut namaku? Kalian ghibah aku? Hm... Bu Haji juga nih, ikutan ya ngomongin aku dibelakang!"
Tiba-tiba Fika muncul membuat Mutia tertawa dengan menutup mulutnya.
Hanya Dzakki seorang yang bingung mendengar obrolan para wanita.
...[Fikaaa!!! Apa kabar?]...
"Baik, Viona! Kabarmu?"
...[Alhamdulillah baik. Mmmh... Fik,]...
"Apa?"
Fika seolah mengerti maksud dan tujuan ucapan Viona. Pasti ingin membahas Dzakki putranya.
...[Vika! Aku... titip Dzakki ya? Please, dia anakku satu-satunya. Tolong... perlakukan Dzakki sama seperti Verrel dan Velly! Dzakki sudah bisa protes, dia!]...
"Ya. Memang. Anakmu itu bawel dan super... (cute, kata hati Fika)"
...[Fika... Maafkan aku ya, aku hanya minta itu saja padamu!]...
"Iya. Bawel! Pantas putramu bawel. Ternyata turunan ya, dari kamu! Udah ah, aku mau istirahat. Masih ngantuk!"
Klik.
Fika mematikan saluran video call Viona di hape Mutia. Ia tersenyum puas mengerjai teman rasa saudaranya itu.
"Viona pasti panik! Dia itu parnoan orangnya! Ngeselin, lemot dan sok rapuh! Hehehe..."
Mutia yang telah melihat Fika berubah pada Dzakki, hanya bisa tersenyum sambil menggeleng.
"Hei kamu! Daki!"
"Dzakki, Tante! Bukan Daki!"
"What ever lah! Mau Dzakki kek, mau daki kek, suka-suka aku! Ayo ikut aku!"
"Fika! Jangan begitu, Fik!"
Mutia cemas juga melihat perubahan sikap yang Fika tunjukkan kini.
"Ayo! Siapa takut!" Ternyata tantangan Fika disambut bocah imut itu. Semakin membuat Fika gemas dan tersenyum dalam hati.
"Ayo!!!"
__ADS_1
Tinggal Mutia yang terpaku sendirian. Matanya tak berkedip dengan menggigit kuku jarinya pertanda was was.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...