
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam..."
Dzakki berlari ke arahku. Mencium punggung lenganku lalu mengecup pipi kiri dan kananku. Kemudian beralih ke bi Tini.
"Mami, Mami!"
"Apa, Nak!?"
"Ayah belikan oleh-oleh kue cubit buat Mami!"
"Waah..."
Wajahku merona mendapati bi Tini yang menggodaku dengan seruan, "Ciyeee...ciyeee...!!!"
Roger pun sepertinya tak kalah merah wajahnya. Tapi langsung masuk ke dalam kamar membuat Dzakki tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana sekolahnya hari ini, Sayang? Seru? Senang?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Seru, Mih! Ada guru baru di sekolah. Namanya pak Ando! Dzakki senang sekali. Pak Ando baik deh, nanti jadi guru olahraga mulai senin!"
Aku mengangguk-angguk mendengar cerita seru Dzakki yang masih terlihat basah keringat. Hingga aku me-lap pelipis Dzakki.
Pikiranku menerawang. Setelah aku wisuda, aku akan membawa Dzakki pindah ke luar kota.
Memulai hidup baru, dengan sekolah yang baru. Dan aku belum memberitahukan pada Dzakki juga pada yang lain kecuali Roger semalam.
Apakah semuanya akan menerima keputusanku ini termasuk Dzakki?
Apalagi, aku berniat pindah pulau. Yakni Kuta Bali. Yang pasti tempat yang cukup jauh dari ibukota tercinta ini.
__ADS_1
Banyak orang-orang tercinta yang akan kutinggalkan disini. Sanak saudara, keluarga, teman-teman tercinta,... semua akan kutinggal pergi.
Hanya Dzakki seorang yang akan selalu kubawa kemanapun. Hanya Dzakki, putraku tercinta.
Aku akan fight meski hanya bersama Dzakki seorang saja. Tak perlu ada pendamping. Yang penting anakku sehat, ceria dan bahagia... itu sudah lebih dari cukup bagiku.
"Mami..."
"Iya?" Aku terkejut, Dzakki menyentuh pipiku.
"Maaf, kue cubitnya Dzakki habiskan!"
Aku tertawa melihat kelakuan putra tunggalku. Menciumnya dengan gemas seraya mencubit pipi chubbynya yang gemoy. Membuat Dzakki tertawa lepas.
"Ya? Katanya oleh-oleh Ayah untuk Mami? Kenapa Dzakki yang habiskan?" goda Roger yang baru saja keluar dari kamar.
Uhuk uhuk...
Uhuk uhuk...
Aku dan Roger tersedak air ludah sendiri mendengar celoteh polos Dzakki.
Untung bi Tini sedang di dapur. Andaikan dengar, mati aku karena malu!
"Hahaha..."
Terdengar suara tawa seseorang.
Ish Kenken! Benar-benar jadi bullyan candaan calon pengantin baru itu deh!
__ADS_1
"Dzakki minta adiknya sama Wawa Ken dan Wa Tini, tuh! Sebentar lagi mereka jadi pengantin!" ujarku membuat Dzakki menoleh ke arah pintu. Kenken keluar dari persembunyiannya dengan wajah merona.
"Memangnya bikin adik harus jadi pengantin dulu, Mi? Ya sudah, Ayah dan Mami jadi pengantin dulu. Biar bisa bikin adik secepatnya!"
Kenken semakin puas tertawa. Kali ini ia malah mengajak Tini ikut serta.
Roger gemas melihat kekompakan calon pasangan suami istri itu. Hingga melemparnya dengan ballpoint yang ada di tangannya.
"No, Ayah! Jangan lempari Wawa'! Ayah tidak boleh jadi orang jahat!"
Sontak Kenken dan Tini semakin keras tawanya.
"Iya. Ayah Roger jahat sama Wawa'. Nanti Ayah tidak jadi pengantin sama Mami ya," ledek Kenken.
"Ish! Wawa' doanya salah! Ayah harus jadi pengantin sama Mami. Biar Dzakki cepat dapat adik!"
Sungguh siang yang penuh canda tawa menyenangkan. Dan kami terpingkal-pingkal mendengar kata-kata polos Dzakki.
"Sudah, sudah. Ayo semuanya cuci tangan! Kita makan siang sama-sama. Terus dzuhuran sama-sama!"
"Oke!"
Semua kompak menjawab seruan bi Tini.
Roger tersenyum tipis tapi manis ke arahku. Membuat dada ini spontan berdebar-debar.
Dasar ish! Pria psikopat! batinku menahan senyum malu. Kembali teringat pada Roger yang dulu. Yang dingin, kaku dan tak banyak omong.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...