
Suamiku pulang pukul sebelas malam. Dengan mulut bau alkohol yang baru pertama kali ini kucium aroma itu dari diri mas Delan.
"Hai sayangku!"
"Mas... Tumben kamu minum sampai mabuk begini!" tukasku sedikit kecewa padanya.
Aku mengerti kerjaannya menuntut Mas Delan untuk bisa berbaur dengan siapa saja. Juga untuk memuluskan pekerjaannya lancar jaya. Tapi aku tak mau sampai ia kebablasan menikmati hidup yang sangat tidak sehat itu.
"Maaf, sayang! Aku harus mengikuti kehidupanku di luar sana!" jawabnya membuatku mendengus.
Pukul dua belas malam mas Delan mandi. Hal yang sangat jarang terjadi, kecuali setelah kami melakukan hubungan suami istri.
Aku di dorongnya ke luar kamar mandi ketika hendak membantunya menggosok punggung. yang agak sempoyongan.
"Biar aku sendiri, sayang! Tubuhku kotor!" katanya membuatku hanya termangu.
Tak seperti biasanya. Mas Delan justru biasanya sangat ingin aku ikut masuk kamar mandi dan memanjakannya dengan pijatan lembut dipunggungnya sembari menyabuni dan bermain air bersama. Ini pertama kalinya ia menolakku.
Aku akhirnya menerima penolakannya.
Mungkin saja ia malu karena telah minum alkohol sampai bergelas-gelas mengakibatkan dirinya lepas kendali dan mabuk berlebihan.
Aku hanya menunggunya di kamar. Menyiapkan pakaian tidurnya sebagai ganti baju kerja yang tadi ia pakai.
"Mas..."
"Hmm..."
"Jangan lama-lama mandinya!" tegurku mengingatkannya. Karena kurang baik bagi kesehatan kalau mandi tengah malam.
"Tidurlah duluan, Viona! Aku masih ingin berendam air hangat di bathtube!"
Berendam air hangat? Malam-malam begini? Untuk menghilangkan mabuknya kah?
Aku akhirnya mengalah. Merebahkan tubuhku di atas kasur ranjang kami karena malam yang merayap membuat mataku riyap-riyap.
Terlelap perlahan dalam mimpi indah tentang rumah masa depan.
Berlarian bersenda gurau dengan seorang bocah perempuan yang berlarian lincah di seputaran aku dan mas Delan.
Semoga mimpiku menjadi kenyataan. Dan aku memiliki anak perempuan cantik jelita yang menjadi pelita di masa tua. Amin.
...⚘⚘⚘⚘⚘...
Seminggu kemudian... Dihari minggu yang ceria, Aku dan Mas Delan pindah rumah di daerah selatan.
Di antar Mama Tasya, Papa Bambang serta kedua orangtuaku juga. Kami semua diliputi kebahagiaan yang begitu nyata.
__ADS_1
Mas Delan tertawa berbincang santai dengan ayah membuatku kembali terkenang akan kedekatan mereka di masa lalu. Masa-masa kuliahku yang dulu.
Tiba-tiba saja handphonenya mas Delan berdering. Ia meminta izin pada kami untuk mengangkatnya. Dapur adalah pilihannya bercakap-cakap di telepon.
"Tunggu! Aku akan datang setengah jam lagi. Please, mengertilah! Aku dan Viona baru pindah rumah!"
Aku mendengar samar-samar pembicaraannya dengan seseorang di balik telepon selulernya.
"Ada apa, Mas?" tanyaku pada mas Delan.
"Ini, Vi! Hhh... Hari liburku harus mengurus projek baru pula!" jawabnya membuatku mengelus bahunya pelan. Hanya senyuman kecil kusunggingkan demi membantunya melepas kesalnya.
"Mas mau keluar?"
"Iya. Tapi aku gak enak sama Papa juga Ayah dan Ibu!"
"Ya sudah, biar kubantu bicara pada mereka. Kalau mas ada kerjaan mendadak!"
Mas Delan merengkuh bahuku. Dikecupnya keningku seraya berkata "Terima kasih" padaku.
Aku melipir kembali ke ruang tengah. Dengan sepiring potongan semangka merah di tangan kanan. Sementara mas Delan masuk kamar kami merapikan dokumen-dokumen yang harus ia urus di pertemuannya kali ini.
Aku harus bisa menjadi istri yang pengertian. Yang bisa menyenangkan hati sang suami dengan terus mem-pushnya menjadi pria paling baik sedunia.
Suamiku adalah pekerja keras dan selalu ingin menunjukkan sisi dirinya yang baik. Yang bukan hebat karena katrolan Mama dan Papanya yang pebisnis sejati.
Aku, tentu saja harus selalu mendukungnya. Karena ia begini demi masa depanku dan buah hati kami nanti. Jika Tuhan memberi kami kepercayaan itu.
"Pa, Ma... Yah, Bu...! Maafkan mas Delan, ada kerjaan mendadak dari kantor!" ujarku menyela obrolan kedua orangtuaku dan kedua orangtua mas Delan yang terdengar seru.
"Kerjaan di hari libur? Khan bisa di pending!" Mama Tasya langsung bereaksi.
Suamiku yang baru keluar dari kamar kami hanya bisa tersenyum tipis.
"Mau gimana lagi, ini sudah jadi konsekuensiku, Ma!" katanya mencoba menjelaskan.
"Iya. Tapi khan kamu ini punya bawahan. Ada asisten yang seharusnya menghandle pekerjaan kalian!"
"Kamu memang gak kangen sama kita-kita ini, Lan?" Papa Bambang ikutan angkat bicara.
"Ya kangen, Pa! Tapi mau bagaimana lagi. Delan minta maaf ya?"
"Hhh... Ya sudahlah! Tenaga mudanya benar-benar super keren, Pak! Kita amini saja, kedua putra-putri kita sukses dalam karier dan rumah tangga."
"Aamiin..."
Aku tersenyum menatap wajah mas Delan yang sumringah.
__ADS_1
Setelah berkeliling menyiumi punggung lengan orangtua kami, mas Delan ke luar rumah membuka garasi mobil dengan iringan langkahku.
"Mas jangan pulang malam-malam! Aku takut sendirian!" tuturku padanya setelah mendapatkan pelukan dan ciuman mesra mas Delan.
"Bibi Farida akan menjadi asistenmu di rumah ini. Mama sudah menyuruhnya berkemas dan pindah kesini sore nanti. Jadi kamu ga akan sendirian, sayang!"
Aku menghela nafas pendek dan mengangguk.
"Hati-hati di jalan ya, Mas?"
"Iya, sayang! Aku akan selalu selamat berkat doa-doamu!"
Aku tersenyum, berusaha semanis mungkin. Rumah tanggaku yang beberapa hari lagi akan anniversary setahun terasa manis sekali.
"Bye sayang!"
Mobil baru mas Delan meluncur keluar dari rumah kami yang asri. Dengan lambaian tangan dan pandanganku ke arahnya hingga jauh menghilang di ujung jalan.
Aku kembali ke dalam rumah. Bercanda lagi bersama para orangtua.
"Semoga tahun depan ada bayi yang meramaikan obrolan kita ini!" celetuk mama Tasya yang langsung kami semua 'amin'kan.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Pov Herdilan Firlando
Hhh...
Aku deg degan sekali. Lady Navisha menelponku dikala aku sedang di tengah-tengah keluargaku.
Aku dan Viona baru saja pindah rumah. Kami kini pisah dari rumah Mama Tasya ke rumah kami sendiri seperti harapan kami.
Berkat bantuan Viona istriku tersayang, aku berhasil keluar meninggalkan keluarga lengkap yang kumpul mengantar kami ke rumah baru.
Sebenarnya ini adalah kesempatan langka. Pertemuan bersama Papaku yang sibuk luar biasa, juga Ayah mertua yang bisa ikutan nimbrung di sela-sela rehatnya.
Tapi... Lady Navisha telah membiusku dengan buhul cintanya.
Aku... Jatuh cinta pada Lady Navisha.
Tepatnya... setelah dia terkena musibah di pukuli pamannya di siang hari sebulan yang lalu.
Aku, sampai hati meninggalkan keriyaan keluarga kecilku yang bahagia bersama Viona. Demi untuk menemani Lady-ku yang sedang sedih karena kembali di kejar-kejar sang paman yang mata duitan.
Pov Delan The End
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1